
Hari berganti hari, bulan pun berganti bulan. Kehidupan pernikahan ku dengan Jelita berjalan dengan baik. Kami hidup bahagia tanpa adanya gangguan yang berarti. Jelita begitu dewasa dan sabar, dia selalu memahamiku yang terkadang masih kekanak-kanakan. Aku sangat menyayanginya, dia dan Sasha sudah memberi warna yang indah dalam hidupku dan juga ibuku.
Ya, ibuku sekarang tidak kesepian lagi setelah kami menikah. Apalagi sekarang kita hidup dalam satu rumah.
Baru satu Minggu kita pindah ke rumah baru yang sedikit lebih besar. Kenapa aku memutuskan tinggal serumah dengan ibu, itu karena aku tidak ingin ibu kesepian tinggal sendiri. Meskipun jarak rumah kami tidak jauh dan berhadapan tapi tetap saja berbeda. Aku tidak bisa seharian menemani ibu karena harus membagi waktu untuk bekerja serta istri dan putriku. Aku kasihan pada ibu, diusianya yang sudah seharusnya istirahat dan bersantai dengan cucunya tapi malah kesepian.
Aku dan Jelita pun berdiskusi untuk membeli rumah baru. Aku punya sedikit tabungan lalu rumah peninggalan bapak akan aku jual. Uangnya cukup membeli rumah yang sedikit besar. Sisanya kurang sedikit, aku bisa meminjamnya dari bank. Tapi Jelita tidak setuju, dia yang akan menambah sisa kekurangannya. Aku tidak bisa menolak saat istriku karena istriku sudah memaksa.
Lalu mengapa tidak tinggal di rumah jelita yang sudah ada saja, kenapa harus pindah?
Pertama, kamarnya hanya ada dua kamar utama dan satu kamar pembantu. Kan tidak mungkin aku menyuruh ibu tinggal di kamar pembantu. Bisa tidur bersama cucunya tapi Jelita memang sudah membiasakan putrinya untuk mandiri. Tidur sendiri sejak dini jadi Jelita bukan tidak mau putrinya tidur dengan ibuku tapi memang dia ingin putrinya mandiri. Dan lagi Saat ini istriku sedang hamil, jadi kamar dia itu saja jelas tidak cukup.
Kedua, kami juga ingin suasana baru. Di rumah kami sebelumnya bukan tidak betah hanya saja terlalu banyak bisik-bisik tetangga yang lama-kelamaan meresahkan.
Ketiga, uang yang dipakai Jelita untuk membeli rumah itu dulunya adalah dari harta gono-gini bersama sang suami. Jadi aku merasa tidak nyaman saat tinggal di rumah itu. Jadilah kami memutuskan untuk pindah saja.
Tapi tenang, karena rumah lama Jelita tidak ikut dijual. Rumah itu ada haknya Sasha.
Kehidupan kami di rumah baru terasa begitu damai dan bahagia. Jelita sekarang lebih banyak menghabiskan waktu di rumah bersama ibu dan Sasha. Aku juga tidak ingin melihat dia yang sedang mengandung kelelahan. Dia sudah cukup lelah pada malam harinya. Itu karena aku yang tidak bisa menahan godaan istriku. Tubuh Jelita yang memang sudah montok lalu ditambah sekarang sedang hamil membuat dada dan bagian belakangnya makin berisi.
__ADS_1
Seperti sekarang, aku sedang menunggu istriku di kamar. Dia sedang menidurkan putri kami. Aku sudah siap hanya menggunakan celana b0x3r dan membiarkan tubuh bagian atasku terbuka. Biasanya Jelita sangat suka merab4-r4b4 perut dan dadaku.
Klek. Itu pasti Jelita yang masuk. Aku sudah tidak sabar untuk meminta jatahku malam ini.
"Mas, belum tidur?" tanya istriku.
"Belum dong, Mas kan nungguin kamu. Apa Sasha sudah tidur?" tanyaku bersemangat.
"Sudah, hari ini agak rewel dia habis imunisasi."
Aku turun dari tempat tidur dan menghampiri istriku yang sedang duduk di depan meja rias. Aku tahu dia kelelahan setelah mengurus Sasha yang rewel ditambah dia sedang hamil, pasti moodnya berubah-ubah. Meski ada ibu yang membantu tapi tetap saja, Jelita masih kelelahan.
"Terimakasih Mas. Aku nggak apa-apa kok. Mas juga pasti capek sudah kerja seharian." Istriku memang paling pengertian, itulah untungnya menikah dengan wanita yang lebih dewasa. Dia begitu pengertian padaku tapi itu tidak membuat ku lupa diri lalu seenaknya memperlakukan istriku. Aku sangat menghargai Jelita seperti aku menghargai ibuku.
"Kita pakai pembantu saja ya, biar kamu nggak kecapean. Perut kamu juga nanti makin besar, pasti gampang capeknya. Biar ada yang bantu-bantu, aku nggak mau kamu dan bayi kita kenapa-napa," kataku membujuk Jelita.
Ya, rumah kami cukup besar berlantai dua. Jelas Jelita dan ibu pasti lelah mengurus rumah. Belum lagi mengurus Sasha. Awalnya mereka sepakat tidak memerlukan pembantu katanya masih bisa menghandle berdua. Aku pun menurut, tapi akhir-akhir ini Jelita sering mengeluh kelelahan. Aku perhatikan ibu juga tampak kelelahan.
"Apa kamu khawatir aku tidak mampu membayar pembantu?" tanyaku.
__ADS_1
"Bukan begitu Mas. Aku dan ibu awalnya berpikir kalau ada pembantu, lalu apa yang akan kami lakukan. Pasti bosan, tapi ternyata tidak semudah yang kita bayangkan."
"Kalau begitu kamu setuju kan, kita pakai pembantu?"
"Iya aku mau, Mas. Tapi kita bicarakan dulu pada Ibu ya."
"Siap Sayang. Sekarang ayo tidur." Aku mengangkat tubuh istriku dan memindahkannya ke kasur. Awalnya aku ingin menjenguk anakku tapi melihatnya kelelahan jadi tidak tega.
"Selamat tidur, anakku." Cup. Aku mengecup perut istriku yang sudah sedikit membuncit.
Lalu tidak lupa mencium istriku tercinta agar dia tidak cemburu. "Selamat tidur sayang."
"Mau peluk, Mas." Jelita memang sangat manja semenjak hamil.
"Sini," kataku sambil merentangkan tangan agar Jelita masuk dalam pelukanku.
Kami pun terlelap dalam mimpi indah, di bawah selimut dan saling memeluk.
Namun, saat aku tengah tertidur tiba-tiba...
__ADS_1