
Kami berada di kantor polisi cukup lama, banyak sekali pertanyaan yang ditujukan padaku tadi. Mungkin karena begal itu adalah tindak kejahatan yang tergolong berat dan polisi juga menduga masih ada banyak kawanan mereka. Aku juga sempat mengutarakan kecemasanku yang mungkin saja teman-teman mereka akan membalas dendam padaku. Aku pun diberikan nomer pribadi polisi yang kebetulan datang malam itu, katanya kalau menelepon ke kantor tidak diangkat bisa menghubunginya.
Sekarang aku berada di depan kantor polisi di area luar, disebuah bangku. Sambil menyalakan rokokku dan menikmatinya sambil menunggu Fitri yang masih belum selesai. Bisa bosan kalau menunggu di dalam, apalagi melihat tante Jelita yang sedang mengobrol akrab dengan beberapa polisi muda. Bisa terbakar cemburu kalau aku terus di sana.
"Nunggu siapa mas?" tanya salah satu polisi yang sudah duduk di sebelahku, dia sudah berumur kalau dilihat dari wajahnya.
"Ehh nunggu temen pak," jawabku sopan, aku juga sampai mematikan puntung rokokku. Memang sih tidak ada larangan dilarang meroko di sana tapi aku hanya merasa harus menghormati orang lain.
"Santai aja mas, saya juga mau ngerokok."
Pria itu mengeluarkan bungkusan rokok mahal dari kantong celananya, yang aku tau rokok itu harganya sekitar lima puluh ribuan perdua belas batangnya. Wajar saja polisi itu rokoknya mahal, gajinya saja pasti banyak. Tidak sepertiku yang hanya security pabrik.
"Mau mas?"
"Nggak pak, terimakasih. Saya juga bawa," tolakku yang tak enak.
"Nggak apa-apa mas, nggak usah sungkan. Ambil aja.' Polisi itu terus menyodorkannya padaku, karena tak enak menolak terus, akupun mengabil sebatang dan menyalakannya.
Huusss Haahhh Uang memang tidak bisa bohong, rasanya sangat berbeda dengan yang biasa aku beli. Kalau begini aku bisa ketagihan nih, tapi tidak. Aku haus menghemat untuk ibu dan tabunganku sedikit demi sedikit untuk bekal kalau menikah nanti.
"Apa mas, yang katanya bisa mengalahkan begal itu?" tanyanya, sepertinya aku cukup terkenal disini.
"Cuma sedang beruntung saja pak, mereka juga sedang mabok jadi tenaganya sedikit berkurang." Walaupun malam itu tidak bisa melihat dengan jelas tapi aku masih bisa mencium bau alkohol keluar dari mulut mereka.
Minuman keras memang kerap kali dimanfaatkan oleh beberapa penjahat untuk melancarkan aksinya. Katanya kalau mabuk mereka jadi tambah kuat dan tidak atkut apapun, tapi bagiku saat melawan orang mabuk itu malah jauh lebih gampang. Selain itu mereka juga menggunakannya untuk beradalih kalau-kalau ditangkap, mereka tinggal bilang kalau mereka dalam pengaruh alkohol dan tidak sadar melakukan kejahatan itu.
__ADS_1
"Bagus anak muda, aku suka gayamu yang tidak sombong walaupun sudah melakukan hal yang besar." "Oh iya, aku lihat tadi kau datang bersama mbak LIta, apa kalian kenal?" tanya pak polisi itu.
Aku menyipitkan mata saat pria tua itu menyanyakan mengenai tante Jelitaku. Ada apa ini, apa pria itu juga menyukai tante Jelita. Semakin banyak saja sainganku kalau begini.
"Saya tetangganya pak, rumahku ada di depan rumahnya."
"Wah kebetulan sekali, jadi apa kau pernah melihat kalau mbak Lita itu membawa laki-laki kedalam rumah?"
Aku menggeleng, memang selama ini aku tidak pernah melhatnya. Tapi kenapa polisi itu tertawa senang? Mencurigakan sekali.
"Berarti dia tidak punya pacar kan, aku masih punya kesempatan untuk mendekatinya," ujarnya sambil senyum-senyum sendiri sepertinya sedang membayangkan tante Jelitaku. Rasanya aku tidak rela kalau sampai tante Jelita dekat dengan pria itu.
"Maaf pak sebelumnya, apa bapak juga masih single?" tanyaku berani, semoga saja aku tidak langsung ditembak sama pistol yang ada di pinggangnya.
"Hahaha... sudah nak, kenapa? Apa kau keberatan?"
"Mbak Lita mau aku jadikan istri ketiga, orang kalau punya uang itu enak. Bisa punya istri banyak, hahaha..." Dia tertawa lagi sampai perut buncitnya ikut bergerak naik turun.
Selama aku masih hidup, tidak akan aku biarkan tante Jelita menjadi istrinya. Kubuang rokok mahal pemberian pria itu, tidak sudi rasanya menghi-sap rokok dari pria yang berniat menjadikan wanita yang aku sukai menjadi istri ketiga.
"Maaf pak, saya harus pergi." Aku pun pergi begitu saja. Aku harus segera mengamankan tante Jelita dari pria-pria seperti mereka.
Saat aku masuk ternyata kebetulan dengan Fitri yang baru keluar dari ruagan yang tad jugga digunakanku. Segera ku menghampirinya dan mengajaknya pulang.
"Kamu sudah selesa fit? Ayo pulang."
__ADS_1
"Tunggu mas, bisakah kita disini dulu. Aku mau cuci mata dulu liat polisi-polisi ganteng," katanya sambil meliat para polisi yang berlalu lalang. Baru saja sekitar dua jam yang lalu dia memintaku jadi pacarnya, sekarang katanya mau melihat-lihat polisi ganteng. Dasar bocah labil, untung saja aku tolak tadi.
"Tidak bisa Fit, setelah ini aku harus berangkat kerja. Kalu kau tidak mau pulang ya sudah aku pulang sendiri saja, ini kunci mobilnya kau berikan pada tantemu." Aku terlajur dongkol melihat tingkah kedua wanita itu, yang satu jelalatan matanya dan yang satu lagi keasyikan mengobrol dengan para polisi mata keranjang itu yang sejak tadi aku perhatikan terus memandangi bagian atas tante Jelita yang besar dan sesekali juga melihat pa-ha mulus nya karena menggakan dress di atas lutut seperti biasa.
Aku pergi begitu saja, aku tidak ingin kemarahanku dilihat orang lain. Ya aku sadar kalau aku tidak berhak apapun pada tante Jelita, dia bebas mau dekat dengan siapa saja. Aku akui kalau aku juga suka berpikiran messyyum padanya tapi aku tidak rela kalau laki-laki lain yang menatapnya seperti itu.
"Siaalll..." Aku mengumpat sepanjang jalan sambil menghentakkan kaki. Aku ingin marah tapi pada siapa, dia bukan milikku dan aku juga bukan siapa-siapanya. Aku tidak tau apa yang harus aku lakukan sekarang. Ingin menarik Tante Jelita dari sana tapi aku tidak berhak.
"Mas Hariss..."
Aku mendengar tante Jelita memanggilku, tapi aku malas untuk menoleh. Untuk apa juga dia memanggilku, apa dia mencari kunci mobilnya bukannya sudah aku berikan pada Fitri. Sudahlah aku tidak peduli lagi, aku mau pulang naik angkot saja.
"Mas Harriiiss... tunggu mas... jangan cepet-cepet jalannya."
Kenapa suaranya semakin dekat, aku pun menoleh dan melihat tante Jelita sedang berlari ke arahku. Aku baru ingat dia menggunakan sepatu hak tinggi, pasti sakit sekali untuk berlari. Aku segera menghampirinya yang masih agak jauh dariku.
"Kenapa tante mengejarku, apa tante mencari kunci mobil? Tadi aku sudah titipkan pada Fitri," kataku.
"Tante nggak cari kunci, tante mau ikut pulang denganmu. Ayo pulang ini kuncinya."
Aku melongo saat tante Jelita meraih tanganku dan meletakkan kunci mobilnya di telapak tangan ku.
"Tante beneran mau pulang?" tanyaku.
"Iya, tentu saja tante mau pulang. Kalau enggak ngapain tante kejar kamu tadi. Tante juga sudah nggak betah disini, ayo nanti tante ceritakan di mobil saja."
__ADS_1
Aku ingin pingsan rasanya saat tangan tante Jelita menggandeng lenganku dengan erat.
"Mas Haris, lengan kamu keras banget..."