
POV Tante Jelita
Sudah beberapa hari aku seperti kehilangan semangat, ditambah banyak pikiran karena memikirkan masalah yang terjadi di toko sembakoku. Belakangan ini ada beberapa preman yang sering membuat onar sampai membuat pelanggan ketakutan dan tidak berani lagi datang untuk berbelanja.
Aku sudah coba lapor polisi, hasilnya hanya dua hari saja suasana aman. Setelah polisi tak lagi berjaga, mereka kembali membuat ulah. Aku tidak tau apa yang mereka inginkan, kalau hanya uang keamanan pun sudah aku berikan bahwa lebih banyak dari yang seharusnya.
Ditambah saat di rumah, yang biasanya sedikit menghiburku dan mengembalikan mood ku saat melihatnya, kini sudah tidak pernah lagi muncul di sebrang sana.
"Mas Haris aku merindukanmu, aku ingin melihat mu duduk di depan rumah sambil mencuri pandang padaku. Atau kamu yang biasanya mengotak-atik motor dengan hanya menggunakan celana pendek saja."
"Tante sangat mengagumi tubuh mu mas Haris. Apalagi saat Tante melihatnya dari dekat saat di rumah mu. Tante sangat ingin menyentuhnya, perutmu yang kotak-kotak sangat gagah dilihat."
Aku senyum-senyum sendiri membayangkan ketampanan mas Haris. Laki-laki yang awalnya aku tidak suka karena diam-diam selalu mengintip ku kalau pagi. Tapi lama-lama setelah aku lama tinggal disini, aku jadi terbiasa dan tidak terganggu sama sekali. Terkadang aku malah sengaja balik menggodanya, dengan memakai pakaian minim saat pagi. Dan melakukan sesuatu yang pasti membuat pria itu menelan ludah.
Aku menikmati kegiatan ku setiap pagi. Saling menggoda dengan berondong dengan rumah. Aku yang memang sudah lama tak merasakan sentuhan laki-laki, rasanya aku punya kepuasan tersendiri saat menggodanya.
Sampai suatu malam aku melihat keponakanku Fitri pulang bersama mas Haris. Rasanya aku sangat kesal dan cemburu karena mas Haris dekat dengan wanita lain yang umurnya jauh lebih muda dariku. Tapi aku bertekad untuk membuktikan mana yang lebih baik, Fitri atau aku. Malam itu aku yang terbiasa tidur menggunakan gaun yang sek-si dan tanpa kaca mata dalam.
Aku cuek, aku sengaja memperlihatkan body ku yang tidak ada tandingannya. Si Fitri yang kerempeng tidak ada apa-apanya. Dan rencana ku berhasil. Mas Haris tampak gugup saat memandangi bagian tertentu yang menonjol. Aku juga sengaja menaikkan gaunku saat duduk agar mas Haris melihat kaki mulusku.
__ADS_1
Setelah kejadian itu aku dan mas Haris semakin dekat, kami pun sering ngobrol berdua. Bercerita sedikit mengenai hidup ku dan mas Haris juga sedikit menceritakan tentang nya. Kalau kata Bu Wanti, beliau ingin segera melihat mas Haris menikah tapi katanya dia pilih-pilih orangnya.
Aku pun mencoba mencari tau seperti apa tipe perempuan idaman mas Haris. Sampai saat di mobil dalam perjalanan menuju kantor polisi aku memanfaatkan Fitri yang aku tau kalau dia sedikit menyukai mas Haris untuk bertanya. Ya awalnya aku menyuruhnya bertanya seperti apa tipe perempuan mas Haris, tapi tidak menyangka kalau gadis itu berani menyatakan cinta lebih dulu.
Tentu saja aku marah, dan mengirimkan pesan singkat padanya.
"Hai Fit, kan Tante bilang tanya tipenya dulu. Ngapain kamu langsung nembak."
"Kelamaan Tan, lebih baik langsung tembak saja. Siapa tau aku sedang beruntung."
Aku geleng-geleng kepala membaca balasan pesan si Fitri. Bocah itu sangat berani dan tidak takut malu kalau ditolak apa. Aku pun berdebar menunggu jawaban. Kalau sampai Fitri diterima berarti memang tipe mas Haris itu yang masih muda tidak seperti ku.
Sedetik kemudian aku lega mendengar mas Haris menolak Fitri, tanpa pikir lama dia langsung menolak keponakan ku. Aku tertawa senang dalam hati.
Fitri pun menanyakan hal yang konyol lagi.
"Apa seperti Tante Jelita? tapi tanteku sukanya pria kaya dan mapan."
Mas Haris dan aku sama-sama tersedak. Aku kaget bercampur marah pada Fitri yang seolah mengatakan kalau aku matre. Tua dari mana dia kalau aku lebih suka pria kaya. Awas saja bocah itu, seenaknya saja memberikan kesan buruk di hadapan mas Haris.
__ADS_1
Sampai di kantor polisi, aku menemui mantan adik ipar ku yang kebetulan seorang polisi. Awalnya hanya mau menyapa, tapi tiba-tiba aku punya ide untuk melihat apakah mas Haris cemburu atau tidak jika aku berdekatan dengan laki-laki lain. Dan ternyata berhasil, Mas Haris blingsatan pulang lebih dulu karena aku terus mengabaikan nya.
Aku berhasil dan saat ini aku butuh waktu berdua dengannya.
"Tan, aku pulang nanti ya." Tanpa pikir panjang, aku pun mengijinkan Fitri tinggal dan aku pun menitipkan keponakanku pada mantan adik ipar ku. Saat itulah aku punya kesempatan berdua dengan mas Haris.
Ku lihat mas Haris sudah berjalan cukup jauh, hampir sampai di dekat jalan raya. Aku butuh perjuangan untuk mengejarnya sambil berteriak memanggilnya. Usahaku tidak sia-sia, mas Haris menghampiri ku yang memang kesakitan karena aku menggunakan sepatu hak yang cukup tinggi.
Aku senang saat dia mencemaskanku, tanpa menunggu lama aku segera bergelayut di lengannya yang berotot. Akhirnya aku bisa menyentuhnya juga, sangat keras dan kekal. Aku jadi membayangkan bagaimana otot-otot di perutnya.
Dalam perjalanan pulang, aku tidak menyangka kalau sesuatu yang memalukan terjadi padaku. Aku lupa, kalau aku harus sering mengeluarkan air minum anakku yang berlimpah. Karena di kantor polisi terlalu fokus pada rencana ku sampai lupa. Alhasil sekarang sudah merembes membasahi pakaian depanku. Aku malu awalnya, sampai aku melihat mas Haris meneguk ludah nya saat memandangi bagian depan ku yang tampak terlihat dari balik kain yang basah.
Tentu aku tidak menyia-nyiakan hal itu. Aku memang kesakitan dan aku mengeluarkan suara-suara rintihan yang kubuat semerdu mungkin. Terbukti mas Haris terpancing saat aku melihat celananya yang mengembang.
Ternyata keadaan pun berpihak kepada ku, jalanan tiba-tiba macet padahal saat berangkat tidak ada apa-apa. Aku pun terus merintih kesakitan di depan mas Haris sampai ide gilaa terlintas di pikiran ku. Meski ragu mas Haris tidak tau mau atau tidak.
"Mas, tolong bantu mas... aku nggak tahan lagi.... tolong mas ..."
Mas Haris sepertinya ragu, tapi aku tidak menyerah. Aku sangat ingin merasakannya, merasakan belaian laki-laki gagah di depanku.
__ADS_1
Aku terus memohon dan menceritakan bahayanya kalau sampai penuh dan tak kunjung di keluarkan. Berhasil, mas Haris mau. Sebentar lagi aku bisa merasakan nya, mulutnya bergerak . Aarrggghhh aku tidak sabar menunggu lagi.
Ohh mas Haris cepatlah, cepat mas... ayo jangan malu-malu.