
Rasa kagumku pada pak Irwan bertambah berkali-kali lipat. Bagaimana beliau dengan bijaksananya menyelesaikan masalah perzinahan yang dilakukan karyawan di dalam pabrik.
Aku sempat bertanya padanya.
"Kenapa pak Irwan menutupi apa yang mereka lakukan pada bos dan para warga?"
"Tidak ada alasan khusus Har, bapak hanya pernah mendengar sekilas dari seorang ustadz kalau kita menutupi aib orang lain niscaya akan menutup aib kita kelak."
Deg. Aku yang tidak paham apapun dengan ilmu agama merasa tertampar oleh perkataan Pak Irwan. Sekaligus aku baru saja mendapatkan ilmu baru. Aku jadi berpikir bagaimana dengan para ibu-ibu yang suka menggosip dan menyebar luaskan kejelekan serta aib orang lain seperti kebanyakan tetanggaku bila sedang berkumpul. Padahal mereka setiap Minggu mengikuti Pengajian rutin yang digelar di kelurahan.
Atau jangan-jangan saat dipengajian mereka juga bergosip. Ahh aku jadi teringat ibuku yang juga rutin ikut pengajian. Semoga saja ibuku benar-benar menimba ilmu di sana bukannya malah menambah dosa.
"Bu dari mana?" tanyaku curiga, awas saja kalau ibu ikut-ikutan geng ibu-ibu yang suka ghibah.
"Dari rumah depan, tadi mbak Lita minta diurut."
"Kenapa nggak bilang kalau mau ke rumah Tante Jelita, Bu." Padahal baru saja ada kesempatan dalam kesempitan tapi aku malah tidak tau.
"Ngapain bilang, orang ibu cuma ke depan." Ibu duduk di samping ku, lalu mengeluarkan amplop putih dari sakunya. Dibukanya amplop itu perlahan-lahan sampai aku tak tahan melihatnya.
"Apa isinya itu Bu, kenapa lama sekali membukanya?" tentu jiwa kepoku pun meronta.
"Ini tadi dari mba Lita, cuma mijit sedikit malah dikasih amplop begini. Ibu nggak enak sebenarnya."
"Kalau begitu ya ditolak saja Bu," kataku, ibu memang baik orangnya kalau menolong orang pasti tidak pernah meminta imbalan atau apa.
"Sudah tapi mbak Lita nya maksa buat terima, ya ibu nggak bisa nolak jadinya."
"Ya sudah, berarti itu memang rejeki ibu. Disyukuri aja Bu."
Ibu setuju, dia pun lanjut membuka amplop. Ternyata isinya uang pecahan seratus ribu dua lembar.
__ADS_1
"Ini banyak sekali Ris, ini sama bayarannya kalau ibu bantu tetangga masak seharian. baik sekali mbak Lita itu." Ibu senang, baru kali ini dia mendapatkan uang tanpa perlu bekerja keras.
"Berarti mulai sekarang ibu harus menaikan tarif ibu kalau disuruh masak di acara orang. Kan lumayan Bu, tenaga ibu sama masakan ibu itu mahal harganya."
"Nggak apa-apa Ris, ibu nggak maksa. Kasihan juga kalau yang nggak punya uang. "
Ibuku memang seperti itu, walaupun kita kekurangan uang tapi ibu tidak pernah mau meminta bayaran lebih. Jika saja yang meminta tolong juga warga yang kurang mampu, ibu bahkan tidak mau menerima bayaran.
"Ris, bagaimana menurutmu anak gadisnya pak Darmin. Dia baru pulang dari pondok pesantren. Cantik dan Sholehah lagi, kelihatannya juga baik. Selama ibu masak-masak di sana, dia bantuin ibu di dapur."
Aku tau kemana arah pembicaraan ibu, pasti mau coba menjodohkan ku lagi.
"Aku sudah melihatnya Bu, dia memang cantik dan Sholehah. Keluarga Bu Yuli kan memang semuanya taat agama. Jadi mana mungkin mau punya mantu kayak aku, Bu. Yang tau ilmu agama saja nggak, sholat aja jarang," ujarku, aku nggak mau terlalu berharap pada sesuatu yang tidak mungkin aku raih lagi. Putrinya Bu Yuli pasti sebelas dua belas dengan Tante Jelita yang susah untuk kuraih.
"Apa salahnya berharap Ris, ibu selalu berdoa semoga ibu punya mantu yang Sholehah."
Kalau mantu seperti Tante Jelita mau tidak Bu? tanyaku dalam hati saja.
Aku langsung memeluk ibuku, kalau saja cukup aku saja yang merawat dan menemani ibu sampai tua, aku sangat bersedia. Kalau saja ibuku tak menginginkan menantu atau cucu, aku sanggup tidak keberatan kalau hanya aku seorang yang akan merawat ibu.
Tapi kata ibuku selalu ingin cepat melihat ku menikah agar ada yang mengurus ku katanya, dan ingin aku cepat punya anak agar ibu tidak kesepian kalau ada anak-anak.
"Doakan saja ya Bu, semoga putramu ini dapat jodoh yang baik. Walaupun nggak ngerti agama tapi yang penting bisa sayang sama ibu juga," kataku yang tetap kekeuh ingin istri yang menyayangi ibuku.
"Oalah nak, ibu ini sudah seperti penghalang jodohmu saja. Pasti susah kan mencari perempuan yang mau menerima wanita tua seperti ibu. Nggak usah pikiran ibu lagi nak, carilah kebahagiaan mu sendiri."
"Pasti ada Bu, aku yakin pasti ada wanita seperti itu." Aku masih memeluk ibu yang saat ini pasti sedang menangis. Ibuku memang gampang sekali mengeluarkan air matanya. Hatinya sangat lembut dan baik.
Tok tok tok.
Aku mendengar seseorang mengetuk pintu, lalu aku pun melepaskan pelukan ku pada ibu.
__ADS_1
"Jangan nangis lagi bu, malu ada orang yang lihat. Nanti dikiranya aku jahatin ibu lagi," selorohku berhasil membuat ibu tersenyum.
"Dasar nakal, ya sudah sana kamu buka pintunya. Ibu malu kalau ada yang lihat ibu nangis."
Aku membiarkan ibu sendiri, dia mau membersihkan sisa-sisa air mata nya sepertinya. Kalau tidak ya lanjut nangis di kamar seperti biasa. Pasti ibu teringat mendiang bapak lagi. Kasihan ibu selalu sendiri setelah bapak tidak ada. Aku sudah menyuruh nya menikah lagi, tapi kata ibu tidak mau, sudah tua katanya. Sudah tidak memikirkan pasangan lagi.
Tapi sepertinya akhir-akhir ini ibu sering ingat sama almarhum bapak. Sepertinya memang benar aku harus segera menikah agar ibu tidak kesepian lagi.
Tok tok tok
"Bu Wanti..."
Aku menepuk kening, sampai lupa kalau tadi ada tamu di depan. "Sebentar..." Aku sedikit berteriak.
Ku buka pintu rumah ku, betapa bahagianya aku melihat siapa yang datang. Seseorang yang sudah beberapa hari ini tidak aku lihat.
"Tante..." Ujarku.
"Mas Haris?" sepertinya Tante Jelita juga terkejut melihat ku. "Ibu ada mas? Tante mau minta tolong sama Bu Wanti," ucapnya tergesa-gesa. Sepertinya ada hal yang genting yang terjadi padanya.
"Ada Tan, ibu ada. Silahkan masuk dulu Tan, biar aku panggilkan ibu."
"Terimakasih mas Haris, tolong agak cepat ya kalau bisa."
Aku mengerti dan segera memanggil ibu di kamarnya. Begitu aku menceritakan kalau Tante Jelita mencarinya, ibu langsung bergegas ke depan. Aku yang penasaran pun ikut.
"Bu Wanti, tolong Bu... Tiba-tiba saja Sasha badannya panas, nangis terus dari tadi. Aku bingung bagaimana menenangkan nya, siapa tau sama Bu Wanti di urut sedikit biar badannya enakan."
"Ya sudah kalau begitu ayo mba, kita lihat dek Sasha. Semoga ibu bisa membantu ya."
Mereka berdua langsung pergi ke rumah Tante Jelita, meninggalkan ku sendiri yang penuh pertanyaan. Ingin aku ikut dan melihat keadaan bayi gemoy itu, tapi tidak enak pada Tante Jelita.
__ADS_1