Ketulusan Hati Jelita

Ketulusan Hati Jelita
Bab 29. Keisengan lagi


__ADS_3

Sekarang hari-hari ku lebih menyenangkan karena perasaan ku yang sudah aku utarakan dan karena aku juga bisa dekat dengan Tante Jelita. Aku pun kembali memulai kebiasaan pagiku, menunggu Tante Jelita di depan rumah sambil ngopi dan merokok tentunya.


Tapi ada bedanya dari yang dulu. Kalau dulu aku melihatnya diam-diam, kalau sekarang aku melihatnya dengan terang-terangan. Tante Jelita juga sengaja memakai pakaian minim kalau pagi. Untuk menggodaku tentunya.


Aku rindu sekali dengannya, sudah dua hari kami tidak berdekatan. Aku tidak punya alasan untuk datang ke rumah nya. Takut tetangga curiga juga kalau terlalu sering. Aneh memang, padahal kami sama-sama single tapi kenapa harus sembunyi-sembunyi segala. Itu karena ibu, aku belum yakin kalau ibu mau menerima Tante Jelita. Ya ibu malah semakin gencar menjodohkan ku dengan anaknya pak Slamet.


Drrtt. Aku segera membuka ponselku yang baru saja bergetar. Senyumku mengembang saat membaca nama si pengirim pesan lewat aplikasi hijau. Tante Jelita rupanya, kami memang tidak terlalu sering bertemu tapi kami sangat intens berkomunikasi lewat ponsel.


{"Mas Haris sudah di depan?"}


{"Sudah Tan, aku sudah nungguin dari tadi nih. Sudah nggak sabar pengen lihat Tante."} Balasku sambil senyum-senyum sendiri.


{"Ok, Tante keluar sekarang ya. Tante pakaian rok pendek loh mas." }


Aku berdebar membaca pesan berikutnya. Tante Jelita memang sangat pandai menggodaku. Bisa dibayangkan apa yang akan dia lakukan nanti. Aku cukup menikmati nya saja dari kejauhan.


Aku tidak membalas lagi pesannya. Karena aku yakin sebentar lagi pasti Tante Jelita akan keluar dari rumahnya. Aku nyalakan lagi rokok ku sambil menunggu.

__ADS_1


"Itu dia...," aku bergumam sendiri.


Benar saja dia tidak berbohong. Saat ini Tante Jelita menggunakan rok yang sangat pendek dengan model seperti anak sekolahan dan atasannya menggunakan kaos ketat.


Dia melihat ke arahku dan mengerlingkan sebelah matanya. Aku pun membalasnya dengan senyuman sambil mengepulkan asap rokok ke udara.


Tante Jelita mulai kegiatannya menyiram tanaman. Dia mengambil ujung selang yang ada di bawah dengan membungkukkan tubuhnya yang membelakangi ku. Inilah saatnya aku harus menelan ludah. Kalau biasanya hanya kaki bagian atasnya saja yang terlihat, bagian dalamnya pun bisa aku lihat karena roknya yang sangat mini.


"Woooww!!" Aku menganga dan membulatkan mata. Tindakan Tante Jelita begitu berani.


"Ohh... apa lagi ini." Aku lebih terkejut lagi saat Tante Jelita menggerakkan pinggulnya sambil menengok padaku.


Kalau tidak takut ketahuan ibu dan tetangga pasti aku sudah berlari kesana.


{"Bagaimana kalau tadi ada yang lihat Tan."} Aku mengirim pesan lagi setelah kami sudah sama-sama masuk rumah.


{"Nggak ada mas, cuma mas Haris aja yang lihat. aku ingin sekali di mainkan bagian itunya, mas."}

__ADS_1


Glek. Tante Jelita sudah mulai berani mengirim pesan yang menggoda imanku. Kalau begini nasibku pasti akan berakhir di kamar mandi lagi. Aku jadi berpikir apakah wanita juga bisa merasakan hal yang sama. Ingin dimanja seperti laki-laki. Lalu bagaimana caranya? Aku masih polos tentu saja aku tidak tau. Ya, hanya sedikit sekali aku tau.


{"Bagaimana caranya Tan?"} Tanyaku pura-pura tidak tau. Aku ingin tau apa selama ini Tante Jelita juga melakukannya sendiri seperti ku.


Aku tunggu balasan nya, cukup lama tidak ada pesan masuk lagi. Apa dia marah atau sedang sibuk mengurus Sasha kalau pagi kan memang mbak Irma belum datang.


Sampai Lima belas menit Tante Jelita belum juga membalas pesanku.


{"Itu mas, yang seperti itu. Tante malu ngomongnya."}


Aku tertawa membaca pesan Tante Jelita. Dia bisa malu juga ternyata. Aku jadi tidak sabar ingin diajarkan masalah ranjang olehnya. Pasti dia sudah sangat ahli tentang hal itu.


{"Aku nggak paham Tan, nanti Tante ajarin ya..." }


Aku kirim pesan ku lagi. Baru kali ini aku sangat suka berkomunikasi lewat ponsel dengan wanita. Biasanya banyak yang mengirim pesan tapi aku abaikan. Yang mengirimkan pesan tidak senonoh juga banyak tapi sama sekali tidak membuat ku tertarik. Tidak pernah aku buka malah. Hanya melihatnya lewat notifikasi saja.


Kalau Tante Jelita aku nilai wajar saja karena dia sudah dewasa dan sudah pernah berumah tangga. Nah yang pesan-pesan yang aku dapat sebelumnya kebanyakan dari para gadis remaja. Hanya geleng-geleng kepala aku melihat tingkah para gadis jaman now.

__ADS_1


__ADS_2