
Aku sudah bersiap dengan kemeja putih sederhana untuk acara pernikahan ku dengan Ratna yang akan di selenggarakan pukul sepuluh pagi ini. Aku tidak masalah dengan pernikahan yang sederhana tapi yang aku permasalahan adalah pengantin wanita ku.
Tinggal beberapa jam lagi maka semuanya berakhir. Apakah benar Ratna itu jodohku, tapi kenapa sampai saat ini aku masih belum yakin dan hatiku masih saja menolaknya. Sejak pagi Tante Jelita juga tidak membalas pesanku. Apa mungkin dia sudah menyerah dan pasrah akan hubungan kami ini.
Klek.
"Ris, kamu sudah siap?" tanya ibu yang baru saja masuk ke dalam kamar, ibu terlihat cantik dengan kebaya berwarna coklat muda. Andai ini pernikahan ku dengan Tante Jelita pasti akan sangat menyenangkan.
"Sudah Bu...," jawabku tidak bersemangat.
"Isshhh kenapa wajahmu ditekuk seperti itu. Kamu itu mau menikah Ris, kamu harus tersenyum. Nanti orang-orang mau bilang apa kalau lihat kamu cemberut seperti itu."
"Iya ibu... aku mau tersenyum demi ibu bukan karena menikah. Bukannya sudah aku bilang kalau aku belum sreg sama si Ratna Bu."
"Nanti kalau sudah nikah terus ketemu tiap hari, kamu akan terbiasa dan lama-lama jadi nyaman," ujar ibu sambil terkekeh sendiri. Andaikan bisa segampang itu Bu, aku pasti sedikit bahagia hari ini. Tapi aku merasa ada sesuatu yang mengganjal dalam hati ku, entah itu apa aku merasa dari keluarga Bu Yuli ada yang tidak beres.
"Iya Bu, bagaimana jalannya saja." Aku pasrah saja, mau bagaimana lagi. Kalau memang dia jodohku ya aku terima.
__ADS_1
Pukul sembilan, para tetangga sudah berkumpul di rumah ku. Kalau dari keluarga ibu maupun bapakku semuanya jauh ada di sebrang pulau. Butuh banyak uang untuk datang dan kami pun tidak punya cukup dana untuk memfasilitasi mereka. Jadilah ibu hanya minta doa restu lewat telepon saja. Aku juga tidak mempermasalahkan hal itu.
Seserahan seadanya sudah berjejer di meja. Ibu tidak jadi membeli emas dan barang-barang mahal, ibu menuruti perintah ku untuk tidak menggunakan uang tabungan umroh nya.
"Apa ini saja yang mau dibawa Bu Wanti? Kok sedikit banget?" cibiran dari tetangga mulai terdengar.
Ku lihat ibuku mulai tak nyaman karena nya. Memang kenapa kalau hanya itu yang kami mampu, pernikahan ini juga bukan kemauan ku. Jadi mana mungkin aku mau keluar banyak uang untuk pernikahan yang tidak aku inginkan. Meski aku punya tabungan sekalipun, aku tidak akan menggunakannya.
"Wajar ibu-ibu, ibuku itu janda jadi tidak mampu beli yang waah... Bu Yuli dan keluarga juga sudah tau kan, dia bukannya menerima kami apa adanya. Jadi tidak masalah kan kalau seserahan seadanya, dari pada nggak bawa apa-apa," sahutku yang sudah tidak tahan dengan cibiran mereka.
"Scurity bu, namanya." Aku menyela pembicaraan ibu-ibu.
"Sama saja, tugasnya sama."
"Kerjaan aku itu halal Bu, nggak minta-minta juga. Apa salahnya?" tanyaku.
Ibu-ibu tetangga itu diam tidak menyahut lagi. Apa tetangga memang tercipta untuk menjulidi tetangga yang lain. Ya kalau tidak ada mereka mungkin hidup bertetangga tidak akan ada warnanya.
__ADS_1
Aku tidak peduli lagi mereka mau bicara apa. Aku memilih untuk melihat ke arah rumah Tante Jelita yang sepi. Tidak ada tanda-tanda kehidupan apapun di sana. Kemanakah Tante Jelita dan putrinya pergi. Apa dia meninggalkan aku begitu saja.
Tapi aku yakin Tante Jelita bukan orang seperti itu. Apalagi dia sudah berjanji akan membantu ku dan tidak akan membiarkan aku menikah dengan Ratna. Aku yakin dia akan datang, mungkin saja nanti akan ada kejutan seperti di sinetron-sinetron yang aku tonton.
Ibu tampak diam sejak tadi, mendengar cibiran para tetangga. Ku dekati ibu lalu aku usap pundaknya. "Nggak usah didengar Bu, mereka nggak tau apa-apa. Keluarga Bu Yuli saja nggak masalah kan," kataku agar ibu sedikit lebih lega.
"Kamu benar Ris. Beruntung sekali ibu punya besan seperti Bu Yuli yang nggak nuntut apa-apa. Ratna juga sama nggak minta apa-apa, dia wanita yang sederhana. Kamu beruntung punya istri seperti dia." Aku anggukan saja kepala ku tidak menyangkal ataupun mengiyakan. Kita belum tau mereka seperti apa sebenarnya.
Iring-iringan pengantin pria, tetap aku. Sudah mulai berangkat dari rumahku. Jarak rumah Bu Yuli hanya beberapa rumah saja jadi hanya perlu jalan kaki. Tidak terlalu banyak orang, hanya tetangga yang dekat dan mau saja. Selebihnya aku dan ibu tidak memaksa.
Ibu berjalan di dekatku, memegangi lenganku. Sepertinya dia sedikit kesusahan karena menggunakan kain jarik sebagai bawahannya. Aku pun dengan senang hati membantunya berjalan. Sementara beberapa orang di belakang ku, membawa seserahan dan beberapa oberampe lainnya.
Hanya butuh lima menit kami dan rombongan sampai di depan rumah Bu Yuli yang sedikit dihiasi dekorasi khas pernikahan. Keluarga Bu Yuli dan tamu undangan menyambut kedatangan kami di luar pintu. Ada juga yang bertugas menerima seserahan yang kami bawa.
Deg.
Aku melihat Tante Jelita sudah duduk di dalam bersama tamu lainnya.
__ADS_1