Ketulusan Hati Jelita

Ketulusan Hati Jelita
Bab 62. Ibu Setuju


__ADS_3

Jadi benar ibu selama ini sudah tau kalau aku mengagumi sosok tante Jelita. Mungkin memang karena aku yang terlalu ketara saat memandangnya. Yaahh mau bagaimana lagi aku memang tidak bisa menyembunyikan perasaanku. Termasuk pada ibuku, yang penting ibu tidak tau kalau selama ini aku menjalin hubungan dengan tante Jelita.


"Apa ibu hanya menebak karena aku sering diam-diam melihat tante Jelita dari jauh?" tanyaku.


"Awalnya iya, ibu perhatikan kamu sering sekali nongkrong di depan rumah. Apalagi kalau nak Lita sedang di luar rumah. Matamu itu sampai nggak berkedip melihatnya."


Aku jadi malu, jadi selama ini ibu selalu mengintipku. Kugaruk kepalaku yang tidak gatal untuk menutupi rasa maluku. Tapi wajar saja kan kalau kita memperhatikan lawan jenis, itu artinya aku masih normal.


"Tapi ibu tau kamu suka sama nak Lita karena waktu itu dia datang ke rumah dan mengatakan hal itu. Dia bilang kalian sudah pacaran dan saling suka, saat itu ibu masih bingung dan lagi bu Yuli berniat menjodohkan anaknya yang ibu kira masih gadis dan sholehah. Makanya ibu langsung setuju tanpa pikir panjang, karena ibu masih belum setuju kamu nikahnya sama janda punya anak lagi."


"Sekarang ibu sadar kalau perasaan itu nggak bisa dipaksakan dan mungkin memang nak Lita adalah jodohmu."

__ADS_1


"Jadi ibu sudah tau kalau aku dan tante Jelita ada hubungan?" tanyaku kaget. Selama ini tante Jelita tidak pernah bercerita tentang hal itu padaku. Aku tidak bisa membayangkan bagaimana perasaan tante Jelita saat ibuku terang-terangan menolaknya.


"Tau, nak Lita sendiri yang cerita pada ibu. Ibu juga bisa melihat kalau dia benar-benar tulus menyukaimu meski kita tidak punya apa-apa dan hidup pas-pasan. Sekarang tugas ibu cuma tinggal merestui kalian, kalau ditunda lama lagi juga nggak baik. Ibu khawatir putra ibu ini nggak bisa menahan diri kalau sedang berduaan dengan nak Lita." Ibu menatapku tajam dan curiga kalau aku sudah melakukan apa-apa pada tante Jelita.


Ya ampun bagaimana kalau ibu tau kami sudah sampai jauh, bisa di cincang jadi opor aku. Maaf ibu, bukan aku yang mau tapi tante Jelita yang terlalu menggoda. Sebagai laki-laki normal bagaimana aku bisa menahan hal itu lebih lama lagi. Aku janji kemarin yang terakhir bu, selanjutnya akan aku lakukan kalau sudah menikah nanti.


Aku tersenyum memamerkan deretan gigiku yang putih bersih tanpa noda rokok.


Aku senyum-senyum sendiri memikirkan bagaimana kalau aku dan tante Jelita sudah menikah. Kami pasti akan menjadi keluarga ynag bahagia, apalagi sudah ada Sasha yang menambah kebahagiaan kami.


Oh tante, sebentar lagi kita bisa bersama tanpa harus sembunyi-sembunyi lagi kalau ingin bertemu. Kita juga bisa melayang-layang ke angkasa kapanpun kita mau. Senangnya kalau membayangkan hali itu.

__ADS_1


Aku mencari ponselku untuk mengirim pesan pada tante Jelita. Aku tidak akan memberitahunya sekarang tapi aku akan memintanya bertemu besok, sekalian aku ingin memberinya kejutan. Sesuatu yang sudah aku siapkan jauh-jauh hari untuk wanita spesial dan aku cintai, wanita yang nantinya menjadi ibu dari anak-anakku dan menjadi tempatku pulang saat lelah dan bahagia.


["Tante, bisakah kita bertemu besok? Ada yang mau aku bicarakan dengan tante, tidak bisa lewat telepon, apa tante ada waktu besok?"] ting aku kirim pesan itu pada nomor telepon tante Jelita.


Tidak lama, handphone ku bergetar. Tante Jelita sudah membalasnya.


["Boleh, mau bertemu dimana mas? Tapi tante harus ke toko besok, mungkin sorenya baru bisa."]


["Nggak masalah tan, besok aku jemput ke toko yaa..."]


["Ok, mas. Tante tunggu ya..."]

__ADS_1


__ADS_2