Ketulusan Hati Jelita

Ketulusan Hati Jelita
Bab 8. Tanpa Jarak


__ADS_3

Tante Jelita memberi banyak sekali peringatan pada keponakannya. Gadis itu hanya diam mendengarkan semua omelan tantenya tanpa menyela ataupun membangkang. Aku perhatikan sepertinya Fitri itu gadis yang penurut tapi entah kenapa jadi suka keluyuran malam dan berpakaian seperti itu saat keluar rumah.


Aku diam saja tidak ingin ikut campur urusan keluarga mereka, karena aku bukanlah siapa-siapa hanya tentangga depan rumah yang kebetulan lewat. Mungkin kalau orang lain yang lewat juga akan melakukan hal yang sama. Ngomong-ngmong, sejak tadi aku perhatikan tante Jelita sangat keibuan saat sedang memarahi Fitri. Walaupun marah tapi dia bukan yang berteriak atau membentak Fitri. Dia bicara dengan lembut tapi tegas.


Aku semakin kagum padanya, disaat tertentu dia bisa bersikap seperti anak muda seumuranku dan dilain waktu dia bisa sangat keibuan. Sungguh wanita idaman ku, walau umur kita terpaut sekitar sepuluh tahunan tapi dia tetap pantas bersanding denganku.


"Ya sudah, lebih baik kamu istirahat saja sekarang. Yang terjadi tadi tidak usah dipikirkan lagi, kau sudah aman. Masuklah ke kamar dan renungkan kesalahanmu, kalau kau tidak berubah juga tante akan memberitahu mas Doni."


"Jangan tan, jangan beritahu bapak. Iya aku janji akan berubah dan nggak keluar malem lagi, tapi tante jangan cerita ke bapak, Fitri mohon tan," ujar Fitri ketakutan.


"Iya, tante nggak akan cerita asal kamu mau berubah. Biar kamu tinggal disini dulu sampai urusan di kantor polisi selesai. Kamu pasti dibutuhkan sebagai saksi."


Benar kata tante Jelita, dari kepolisian  pasti akan menanyai aku dan Fitri lagi tentang kejadian tadi. Tadi KTP ku juga di bawa buat laporan katanya, kalau aku sebagai petugas keamanan sudah biasa berinteraksi dengan polisi. Aku juga beberapa kali berhasil melumpuhkan maling kampung.


"Terimakasih ya mas Haris, kalau nggak ada mas Haris tante tidak tau apa yang akan terjadi pada anak itu." Tante Jelita sudah kembali duduk bersamaku, tepatnya di sebelahku. Saat inilah imanku diuji, saat dia duduk otomatis gaunnya yang pendek dan lembut pun terangkat sehingga sesuatu yang mulus itupun terlihat olehku. Fix ini sih kayaknya keluarga mereka memang hobi menggunakan pakaian minim.


"I--iya tan, sama-sama. Aku cuma kebetulan lewat aja, kalau orang lain yang lewat juga akan melakukan hal yang sama." Aku harus merendah, tidak boleh terlihat sombong.


"Tadi kata Fitri, sebelum kamu juga ada yang lewat tapi mereka tidak peduli. Artinya mas Haris memang orang yang baik dan peduli pada orang yang dalam kesulitan, tante kagum sekali padamu. Masih muda tapi sudah punya rasa peduli yang besar."


"Tante bisa saja," sahutku malu-malu. Kalau kulitku putih pasti sudah terlihat merona sekarang.

__ADS_1


"Ya ampun tante sampai lupa soal lukamu, tunggu sebentar biar tante ambil kotak p3k nya."


"Tidak usah tan, ini hanya luka kecil."


"Walaupun cuma luka kecil tetap harus diobati, bisa infeksi kalau dibiarkan begitu saja,"


Aku ingin menolak lagi tapi tante Jelita sudah lebih dulu pergi mencari obat. Tapi jujur saja aku senang, karena dengan begini aku jadi bisa tinggal lebih lama. Soal ibuku tenang saja karena dia pasti sudah tidur, aku memang melarangnya tidur terlalu malam jadi saat aku pulang pasti ibu sudah tidur di kamarnya.


Tapi tiba-tiba saja jantungku berdebar-debar lagi, aku membayangkan adegan mengoles obat seperti di sinetron yang sering aku tonton. Apa tante Jelita juga akan mengobatiku seperti itu, tapi sepertinya hal itu tidak akan baik untuk jantungku. Bagaimana kalau dia mendengarnya, aku bisa malu setengah mati.


"Maaf ya lama, tadi  tante cari ini nggak ketemu-ketemu. Oh iya, ini tante buatkan teh. Diminum dulu ya, dari tadi sampai lupa nggak ngambilin minum."


"Aww... ssttt..." Lukaku terasa perih saat menyenggol cangkir yang agak panas itu.


"Kenapa Mas? Sakit ya, coba sini tante lihat."


Mataku membola saat tiba-tiba tante Jelita mendekat bahkan jarak kami sangat dekat sekarang. Aku tercengang sampai tak sadar kalau ibu jari tante Jelita menyentuh lukaku Jarinya terasa sangat lembut dan hangat, membuatku merasa nyaman.


"Lukanya dalem sepertinya mas, sebaiknya diperiksa ke dokter besok. Sekarang aku akan coba mengobatinya, ditahan ya mas. Rasanya pasti akan sedikit perih."


Aku tidak mampu menjawab apa-apa. Tubuhku mematung, jantungku seperti mau loncat dan dahiku berkeringat dingin seketika. Pernafasan ku juga terasa sesak, aku seperti mau mati kalau begini terus.

__ADS_1


"Mas... mas Haris..." Tante Jelita mengguncang lenganku pelan, mungkin dia takut aku kesambet karena sejak tadi diam saja.


Aku reflek sedikit menggeser tubuhku agar tidak terlalu dekat dengan tante Jelita. "Biar aku obati sendiri saja tan, hal kecil seperti ini bagaimana bisa merepotkan tante," ujarku beralasan.


"Tidak masalah mas, tante sama sekali tidak repot. Mas Haris juga terluka karena menolong Fitri jadi aku yang akan bertanggung jawab atas luka dan kerugian yang diderita mas Haris."


"Tapi tan--" Aku bingung.


"Tidak apa-apa, sini biar tante obati." Tante Jelita bergeser yang mengikis jarak diantara kami. Di tangannya sudah ada alat yang akan ia gunakan untuk mengobati lukaku.


Aku pasrah saat jari-jemari lentik itu dengan lembut mengoleskan obat, walaupun agak perih tapi semua seolah tersamarkan karena aku fokus memandangi wajah cantik tante Jelita dari dekat, kesempatan yang langka dan tidak boleh disia-siakan bukan. Dari dekat wajahnya terlihat sangat mulus, tidak ada satu jerawatpun yang menempel di sana, bulu matanya juga lentik, alis yang tertata rapi, hidung yang sedikit mancung, bibir dengan perona merah yang membuatnya tambah menggoda dan satu hal lagi yang menarik perhatianku yaitu dagu belahnya yang menambah kesempurnaan wajah cantik itu.


"Sssttt..." Aku meringis kesakitan sesekali.


"Sakit ya mas, maaf. Tante akan melakukannya dengan lembut lagi, tante tiup ya."


Ohh... tiupan nafasnya baru saja membelai wajahku, seketika bulu kudukku berdiri semua. Kalau yang satu itu tentu saja sudah on sejak tadi, untung saja aku memakai celana longgar dan sengaja aku tutup dengan bajuku yang aku keluarkan.


"Apa masih sakit?" tanyanya mendayu. Aku mengangguk, sebenarnya tidak begitu sakit tapi aku hanya ingin merasakan bau nafas tante Jelita yang harum seperti bau permen mint.


Lagi dan lagi tante Jelita meniupiku sambil mengoleskan obat yang sejak tadi tidak selesai juga padahal lima menit saja seharusnya kegiatan itu bisa selesai. Tapi hal itu bukan masalah untukku, aku malah berharap waktu berhenti saat ini agar aku bisa terus bersama tante Jelitaku.

__ADS_1


__ADS_2