
Aku segera berlari ke rumah Tante Jelita mendahului ibu yang masih ngos-ngosan di rumah. Sebenarnya aku tidak begitu mengerti dengan maksud ibu yang ambigu. Katanya Tante Jelita membutuhkan ku dan hanya aku yang bisa membantunya.
Begitu sampai di teras rumah minimalis tapi mewah itu, aku langsung saja membuka pintu. Ini bukan pertama kalinya aku masuk ke rumah itu. Jadi tidak begitu asing untukku.
"Tan... Tante Jelita...," panggilku sedikit keras.
"Mas Haris ... Tante di kamar mas..."
Terdengar suara Tante Jelita yang sangat pelan dan lemah dari salah satu ruangan yang aku tebak itu adalah kamar. Aku pun melangkahkan kakiku ke arah kamar itu.
Sampai di depan pintu aku pun mengetuk pintu terlebih dahulu. Tidak sopan rasanya kalau aku langsung masuk begitu saja.
"Masuk saja mas, tidak dikunci."
Setelah mendapatkan ijin aku baru membuka pintu. Deg!! Aku begitu terkejut saat melihat isi kamar itu. Dekorasi dan semua perabotnya sama persis dengan yang ada di mimpiku. Tapi bagaimana bisa, padahal sebelumnya aku belum pernah sama sekali masuk kesini.
"Mas... kenapa diam disitu." Suara Tante Jelita yang lemah membuyarkan lamunanku.
__ADS_1
"Ehh iya Tan, kata ibuku tadi katanya Tante butuh bantuan ku. Apa yang bisa aku bantu Tan?" tanyaku pada Tante Jelita yang terduduk lemah dengan menyandarkan punggungnya.
"Mas, bisa tolong bawa kami ke rumah sakit. Suhu badan Sasha naik lagi, rewel dan tidak mau menyusu. Tante takut dia dehidrasi karena tidak mau menyusu sejak semalam."
Aku bisa merasakan bagaimana khawatirnya Tante Jelita pada putri semata wayangnya.
"Ayo Tan, aku akan mengantar kalian."
Ku hampiri bayi kecil gemoy yang tertidur di box bayi. Katanya dia baru saja tertidur tapi paling sebentar saja sudah bangun dan menangis lagi.
"Terimakasih mas," ujar Tante Jelita padaku.
Aku tersenyum lembut padanya, wanita itu tampak kelelahan dan pucat meski masih tetap cantik di mataku. Kantung mata nya menghitam mungkin karena kurang tidur. Ku dekati Tante Jelita, lalu ku usap lembut pipinya. "Dek Sasha pasti sembuh Tan."
Tiba-tiba saja Tante Jelita menghambur ke pelukanku dan kurasakan tubuh nya bergetar. Isak tangis mulai terdengar, rupanya dia menangis. Ku usap kepalanya untuk menenangkannya. Aku tau di saat seperti ini pasti Tante Jelita butuh seseorang untuk bersandar.
Mobil sudah ku keluarkan dari garasi, ibu menggendong dek Sasha keluar. Sementara Tante Jelita berjalan perlahan di belakangnya. Aku yang tidak tega pun segera menghampirinya. Ku papah dia yang tubuhnya begitu lemah. "Ayo Tan aku bantu."
__ADS_1
"Terimakasih," jawabnya sambil tersenyum. Cantik sekali kalau dilihat dari dekat.
Para tetangga yang kebetulan lewat pun menatap kami penuh curiga. Apalagi saat melihat ku merangkul Tante Jelita. Masa bodoh, aku tidak peduli pada mereka. Aku hanya sedang menolong terserah mereka mau bilang apa.
"Ehh nak Haris sama Bu Wanti kok pagi-pagi sekali sudah disini."
"Iya itu mas Haris pakai rangkul-rangkul si janda gatel lagi."
"Bu Wanti apa nggak takut ya anaknya kecantol janda. Yang masih gadis Ting Ting juga banyak di komplek ini. Kok mau-maunya punya mantu janda."
"Ohh mungkin Bu Wanti sama anaknya mau memperbaiki ekonomi dengan menikahi janda kaya ibu, Bu. Haha..."
Aku mendengar semuanya dengan jelas, aku tidak tuli dan lagi mereka sengaja mengeraskan suara nya. Aku cuma geleng-geleng kepala melihat mereka, tega sekali mereka pada janda yang seharusnya diayomi. Tanpa tau duduk permasalahannya, sudah main tuduh sembarangan.
"Maaf ya mas, gara-gara Tante. Mas Haris dan Bu Wanti jadi ikutan diomongin." Tante Jelita malah menyalahkan dirinya sendiri.
Tidak bisa aku bayangkan bagaimana perasaannya, aku saja yang mendengar nya menjadi tertuduh ikut geram.
__ADS_1