
Sampai juga di rumah Tante Jelita, perjalanan kami kali ini sungguh menyiksaku. Dari yang drama dek Sasha. Aku jadi tidak bisa ikutan. Hanya bisa meneguk ludah saja jadinya. Lalu dress bagian bawah Tante Jelita yang tersingkap sampai tinggi karena Sasha yang terus bergerak. Sampai kain kecil berwarna merah menyala itu terlihat oleh ku.
"Maaf ya mas, mas Haris jadi nggak kebagian deh..." Tante Jelita meledekku sambil tersenyum genit. Hmm awas saja nanti kalau dia yang minta aku duluan untuk menguras, aku akan menolaknya.
"Dek Sasha lebih membutuhkan, Tan." Aku asal saja menjawab.
"Apa mas Haris nggak butuh ini lagi sekarang?" tanyanya.
Aku membelalak, bagaimana kalau ada yang melihat. Bisa saja tetangga julid sedang mengintip. Atau ibuku lihat mau bilang apa aku.
"Eh bukan begitu Tan, tentu saja aku butuh juga. Selama ini bahkan aku sudah memimpikannya. Tapi saat ini dek Sasha baru saja dalam masa pemulihan jadi dia lebih sangat butuh itu."
Aku buru-buru membenarkan pakaiannya . Benda itu pun sudah kembali ke tempatnya, meskipun tadi aku sempat iseng sedikit dengan menggerakkan tanganku.
"Terimakasih mas , kamu sangat perhatian dan baik pada kami." ujar Tante Jelita.
__ADS_1
"Sudah sewajarnya Tan, aku akan melakukan apapun untuk orang yang aku sayang." Ku raih tangannya dan membubuhkan ciuman, aku tidak bisa tahan lama-lama seperti itu. Rasanya seperti tersengat listrik sepuluh ribu volt, langsung bergetar dan menegang.
Kami saling pandang cukup lama, sampai seseorang menggedor kaca mobil Tante Jelita.
"Mbak Lita..." panggil wanita yang biasa mengasuh anak Tante Jelita.
Aku salah tingkah dan segera membetulkan posisi duduk ku. Semoga saja wanita yang biasa dipanggil mbak Irma itu tidak melihat apa yang kami lakukan di dalam mobil, apalagi tadi Tante Jelita sempat mengeluarkan dua bongkahannya.
Kami pun turun, ibu ku dan juga mbak Irma sudah menunggu sejak tadi. Mereka memang tidak ikut menjemput ke rumah sakit karena mereka di tugaskan untuk membersihkan rumah Tante Jelita yang sudah sekitar lima hari ditinggal.
"Alhamdulillah ya nduk, Mbah cemas sekali saat melihatmu menangis terus. Sekarang sudah sembuh semoga sehat selalu ya anak manis," sambung ibuku yang juga senang melihat Sasha sudah kembali sehat.
"Alhamdulillah, terimakasih mbak Irma dan Bu Wanti yang sudah ikut mendoakan untuk kesembuhan Sasha. Kalian bukan saudara ataupun kerabat tapi doa kalian selalu mengalir untuk kami."
"Sama-sama mbak Lita, dek Sasha ini juga sudah ibu anggap seperti cucu sendiri. Ibu ikut cemas saat melihatnya sakit."
__ADS_1
Aku tidak menyangka kalau ibu akan berkata seperti itu, apa artinya ibu mau menerima Sasha sebagai cucunya. Mungkinkah ini adalah jalannya untukku.
Kami pun masuk ke dalam rumah, tapi sebelum aku masuk melewati pintu Tante Jelita sempat berbisik padaku. "Mas Haris dengarkan tadi? Bu Wanti sudah mau menerima Sasha. Apa mungkin Bu Wanti mau menerima Tante juga sebagai mantu?"
Aku sempat merangkul pinggang nya saat ku rasa aman. "Sabar ya Tan, aku akan meyakinkan ibu pelan-pelan."
"Tante sabar kok mas. Cuma yang Tante nggak sabar itu, Tante ingin segera bisa tinggal bersama mas Haris." Jemari Tante Jelita merayap di perutku dengan nakal. Kalau begini aku juga ingin cepat-cepat bisa tinggal bersama.
"Jangan disini Tan, nanti kalau ibu sama mbak Irma lihat bagaimana," kataku saat kami semakin terbawa suasana.
Aku paham kalau Tante Jelita yang sudah pernah menikah pasti sangat merindukan sentuhan pria. Dan akupun yang sudah cukup dewasa tentu ingin segera merasakannya. Hanya saja aku cukup menahan diri agar tidak berbuat lebih.
"Tante nggak sabar pengen merasakan ini."
Aku membelalak saat jemari Tante Jelita mengusap sesuatu yang masih terbalut celana. Lalu apa katanya tadi, dia ingin merasakannya. Sekejap pikiranku jadi melanglang buana kemana-mana. Aku juga ingin dan mau, tapi aku belum cukup berani dan takut mengecewakan karena belum berpengalaman.
__ADS_1