
Setelah puas bernyanyi dan meluapkan segala beban dan pikiran dengan lagu bahagia, rock, kadang juga lagu melow. Kami pun beristirahat.
Aku senang melihat Tante Jelita sudah bisa tertawa lepas.
"Hahaha... Tante senang sekali mas Haris. Beban tante rasanya langsung hilang setelah berteriak dan bernyanyi tadi," ujar Tante Jelita dengan wajah sumringah.
"Syukurlah Tan, aku senang kalau melihat Tante tersenyum. Setelah ini semoga saja tidak ada lagi masalah yang berarti dalam hubungan kita." Meski masalah pasti akan datang tapi aku harap tidak begitu sulit.
"Terimakasih ya mas," Tante Jelita memeluk ku erat. Akupun membalasnya, kami bebas disini.
Kami minum dan makan camilan sambil bercerita tentang kehidupan Tante selama menikah. Tidak menyangka kalau Tante Jelita dan mantan suaminya sebelum menikah sudah berpacaran lama. Ternyata lama tidaknya menjalin hubungan tidak bisa menjamin hubungan kita akan langgeng.
Tante Jelita cukup terbuka orangnya, bisa bercerita apa saja tentang keluarganya kalau memang sudah dekat seperti ini. Baik, supel dan tidak sombong juga. Pasti dia punya banyak teman main.
"Tan, apa Tante sering datang ke sini?" tanyaku.
"Iya, bareng temen-temen Tante dari waktu masih sekolah dulu. Kalau ada apa-apa Tantel curhat pada mereka. Walaupun temen Tante bukan wanita Sholehah ataupun baik-baik tapi mereka nggak julid seperti tetangga kita. Tante cerita apapun pada mereka, nggak pernah ada yang bocor kemana-mana. Mereka juga siap membantu Tante kalau Tante butuh bantuan."
"Pasti asyik ya Tan, temen-temen Tante," ucapku yang penasaran bagaimana kalau para wanita dewasa berkumpul.
__ADS_1
"Iya mas, lain kali Tante kenalin sama mereka ya. Mereka nggak pilih-pilih kalau bertemen, cuma mereka suka blak-blakan kalau sama orang baru kenal. Jadi nanti kalau ketemu mereka mas Haris nggak boleh baperan."
"Iya Tan, tenang saja." Aku lebih suka yang seperti itu malah, dari pada pura-pura baik di depan nyatanya di belakang menusuk.
"Bagaimana perasaan Tante sekarang? Apa sudah lebih baik?" tanyaku melihat Tante menyenderkan punggungnya pada sandaran sofa. Dua balon besarnya jelas membumbung tinggi menantang. Aku harus banyak-banyak menahan diri kalau sedang bersama Tante Jelita. Tidak mungkin kan aku melarangnya ini itu. Biarkan saja dia nyaman dengan apa yang dia buat.
"Sangat lega mas, rasanya plong," Ujar Tante Jelita, kepalanya menengadah sekarang, model bajunya yang seperti itu memperlihatkan pundak dan leher jenjangnya yang indah. Ingin sekali aku membuat banyak tanda di sana, agar orang-orang bisa tau kalau Tante Jelita itu milikku seorang.
"Apa kita mau pulang sekarang atau Tante masih mau disini."
Sebenarnya kami bisa pergi selama apapun karena stok minum Sasha banyak di dalam freezer. Pengasuh nya tinggal menghangatkan lalu bisa Sasha minum. Seperti itu penjelasan Tante Jelita yang sering aku dengar saat aku takut kalau Sasha kelaparan.
Tante mengerlingkan matanya menggoda, mendengarnya berbicara vulegar membuatku merinding.
"Ehh tapi aku nggak punya mic Tan, bukannya disini ada banyak," kataku, aku tidak mau terlalu percaya diri. Lebih baik pura-pura tidak tau saja.
Tante Jelita mendekatkan wajahnya padaku, otomatis aku mundur ke belakang sampai punggung ku menabrak sandaran sofa yang empuk. Melihat Tante Jelita dengan wajah yang penuh g-airah membuat ku tahan nafas. Wajahnya semakin dekat, bahkan bibirnya sudah hampir menempel di bibir ku.
Aku ingin menghindar dari mangsaan Tante Jelita yang tampak seperti singa betina. Tapi sayangnya Tante Jelita sudah lebih dulu merangkak dan mengungkung tubuhku. Menghimpit ku dengan bakpao bulatnya.
__ADS_1
"Bukan mic yang itu mas, tapi Mic yang ini..."
Aku memejamkan mata saat jari jemari Tante Jelita membelai pentunganku yang sedang tertidur. Bagai sengatan listrik, tubuh ku langsung menegang dan pentunganku yang tadi tidur cantik pun seketika bangun.
"Tan... "
"Kenapa mas... sekarang giliran kira bersenang-senang dengan cara lain."
Tante Jelita sudah duduk diatas pangkuan ku, kue apem nya yang masih terbungkus menindih pentunganku yang juga masih didalam sangkarnya. Ohh ... bagaimana kalau aku tidak tahan. Belum pernah aku merasakan hal ini.
"Mas Haris... Tante rindu sekali... mas Haris selalu membuat Tante berkhayal, sudah beberapa hari kita nggak bermesraan seperti ini. Tante sampai harus bermain sendiri karena sangat rindu mas Haris..."
Aku tidak bisa menyahut lagi, saat merasakan Tante Jelita mulai membuka satu persatu kancing kemeja yang aku pakai. Rasanya berdebar hebat saat jarinya tak sengaja menyentuh kulit tubuhku. Sementara bibirnya sibuk mengecupi seluruh wajah ku. Saat ini aku benar-benar ada dalam kuasa Tante Jelita.
"Mas ... Tante Sangat suka memandangi tubuh mas Haris. Sekarang Tante bisa menyentuhnya langsung. Sangat keras dan berotot, apa mas Haris rajin olahraga raga?" tanyanya.
"Nggak Tan, hanya saja tubuh ku terbentuk saat ikut pelatihan fisik dulu. Sampai sekarang aku hanya olahraga raga ringan saja agar tubuhku tetap seperti ini."
__ADS_1
Kalau bentuk nya begini othor juga suka Tan... 🤤🤤🤤