Ketulusan Hati Jelita

Ketulusan Hati Jelita
Bab 31. Banyak Pikiran


__ADS_3

Di tempat kerja, aku jadi banyak melamun memikirkan permintaan ibu. Aku bisa saja menolak pada akhirnya, tapi kalau ternyata gadis itu mau bagaimana. Sedangkan ibu sudah mengancam kalau anak Bu Yuli mau, aku juga harus mau. Huft apa-apaan ibuku itu.


Aku memikirkan Tante Jelita juga, bagaimana kalau dia tau tentang rencana ibuku. Pasti dia kecewa dengan ku karena mau menuruti permintaan ibu. Apa aku harus cerita padanya atau aku rahasiakan saja.


"Kenapa melamun terus dari tadi. Apa ada masalah?" tegur si Roni.


"Nggak apa-apa, cuma sedikit masalah saja." Tidak mungkin aku bercerita pada Roni. Dia bisa membeberkan rahasia ku ke semua orang. Dia itu sama sekali tidak bisa menyimpan rahasia, pernah dulu waktu pertama kerja. Aku menceritakan apapun padanya. Hasilnya semua orang tau apa yang aku ceritakan padanya, padahal aku tidak menceritakan pada orang lain. Sudah jelas kan siapa pelakunya.


"Ohh... jangan pusing-pusing, hidup itu dibawa santai saja seperti ku. Kalau pusing dengan yang satu aku pergi dengan sang satunya saja. Hehehe..." katanya tak jelas.


Mulai lagi dia membicarakan soal wanita, kata pak Irwan si Roni sedang punya banyak pacar karena para gadis yang biasanya mengirim makanan untukku sudah tidak lagi mengejarku. Jadilah si Roni mendekati mereka. Sebenarnya aku ingin mengingatkan nya kalau mereka hanya mau memanfaatkan uang kita saja tapi biarlah. Si Roni kalau tidak dibuat jera maka tidak ada kapoknya.


"Sedang pacaran dengan siapa lagi kamu, Ron? Jangan mau kalau mereka minta ini itu, gampang kalau kalian sudah menikah nanti." Coba aku sedikit peringatkan.


"Nggak apa-apa selama aku mampu. Biar mereka seneng, sebagai laki-laki kita itu harus menyenangkan perempuan."


Iya sih benar, tapi kalau minta ini itu nya banyak kan rugi juga kalau nantinya putus. Ya terserah Roni saja, anak itu sangat susah diingatkan.


Aku memilih untuk mengecek sekitar pabrik, di sekitar parkiran motor para karyawan. Biasanya aku dan yang lain juga membantu menata motor karyawan. Belum juga sampai diparkiran, mobil bos melewati pintu gerbang. Si Roni langsung sigap membukakan pintu gerbang agar mobil bisa masuk. Aku pun langsung menyambut kedatangan bos.

__ADS_1


"Selamat sore bos." Sapa kami sambil membungkuk.


Kaca mobil terbuka, ternyata si bos datang bersama istrinya yang duduk di sebelahnya.


"Sore, bagaimana keadaan pabrik?" tanya bos. Dia memang tidak setiap hari datang. Jadi setiap datang pasti bertanya keadaan pabrik nya.


"Aman bos, selama beberapa hari ini tidak ada masalah." Kalau masalah keamanan, tentu saja aman. Lain lagi kalau masalah internal di dalam pabrik, mereka ada yang bertanggung jawab masing-masing.


"Bagus, kalian bisa lanjutkan bekerja."


Setelah itu, mobil bos pun masuk ke dalam.


"Hussttt... kalau bos dengar kamu bisa di pecat. Kamu nggak ingat apa pesan pak Irwan. Bos itu sangat cinta pada istri nya, dia paling nggak suka kalau ada laki-laki yang menatap istrinya."


Aku akui, aku juga sempat kagum dengan kecantikan istri bos. Tapi tidak pernah aku ungkapkan secara lisan. Kalau dibandingkan dengan Tante Jelita, body mereka sebelas dua belas. Istri bos juga suka sekali memakai pakaian minim. Mungkin biar gampang kalau mau main kali ya, tinggal diangkat sedikit langsung masuk. Namanya juga bos, dia pasti bisa melakukan Apapun di kantornya.


"Oh iya aku lupa, hehehe..."


Aku pun kembali melanjutkan pekerjaan ku yang tertunda tadi.

__ADS_1


Pukul lima sore, para karyawan pabrik mulai berhamburan keluar. Sangat ramai dan sesak di pintu gerbang dan jalanan. Saat itulah kami sebagai penjaga keamanan, menunjukkan taring.


Kami dengan sigap membantu mereka menyebrang jalan dan menghentikan kendaraan umum. Mengatur lalu lintas juga agar tidak terjadi kemacetan.


Prittt... Pluit ku dan Roni bersahutan. kami menjadi pusat perhatian di tengah jalan. Tangan kami bergerak lincah mengatur kendaraan yang mau menyebrang dan yang sedang melaju di jalanan. Bisa dibayangkan bagaimana kalau kami tidak ada. Pastilah jalanan akan sangat macet atau mungkin bisa terjadi kecelakaan karena mereka yang tidak sabar ingin segera pulang.


Selesai mengatur lalu lintas, waktunya kami beristirahat. Cukup lama kami berdiri di tengah jalan dan meniup peluit yang membuat kami menguras tenaga.


"Ris kamu dipanggil bos," kata salah satu karyawan dalam.


"Ada apa?" tanyaku, baru saja duduk ada saja kerjaannya.


"Nggak tau, cepat ke sana. Si bos kan paling nggak suka nunggu."


"Kenapa nggak Roni saja tuh," ujarku menunjuk si Roni yang sedang asyik pacaran dengan pacarnya yang baru saja keluar dari pabrik.


"Si bos minta nya kamu, cepat gihhh..."


"Iya iya," kataku. Kalau sudah bos sendiri yang menyuruh mana berani aku menolaknya. Akupun berjalan di belakang wanita yang bekerja di bagian kantor itu. Karyawan bagian kantor memang biasanya pulang terakhir.

__ADS_1


__ADS_2