Ketulusan Hati Jelita

Ketulusan Hati Jelita
Bab 75. Aksi Penyelamatan Sasha


__ADS_3

POV Haris


Aku tidak menyangka ada seorang ayah yang tega mengancam keselamatan putrinya sendiri hanya demi tujuannya. Bahkan tanpa perasaan menodongkan pisau pada gadis kecil yang tidak tau apa-apa itu. Bukankah seharusnya seorang ayah itu melindungi dan mengayomi anak dan istrinya. Kalau ayah sendiri bahkan mengancam keselamatannya bagaimana dia bisa hidup di dunia luar, siapa yang akan melindungi nya. Beruntungnya Tante Jelita sudah bercerai dengan laki-laki seperti itu.


Aku tidak bisa bertindak gegabah kalau tidak pria itu bisa nekat melukai Sasha. Tante Jelita menangis sesenggukan, sebagai seorang ibu dia pasti sangat takut akan terjadi apa-apa dengan putrinya.


"Nak, apa kau ada cara untuk menyelamatkan Sasha. Ibu tidak tega melihatnya," ujar ibu, yang juga menangis.


"Ibu tenang dan sekarang ibu bantu aku untuk menenangkan Tante Jelita. Biar nanti aku pikirkan caranya."


"Baiklah, tapi hati-hati. Jangan sampai anak itu terluka dan kau juga."


Aku mengangguk, lalu mendekati pria itu. Sambil berpikir apa yang akan aku lakukan. Kalau aku langsung merebut paksa Sasha dari tangannya pasti pria itu tidak akan tinggal diam. Aku bisa terluka kare pisaunya dan parahnya bisa saja Sasha yang jadi korban. Kalau aku perhatikan, jarak pisaunya juga terlalu dekat. Aku harus cari cara agar dia sedikit menjauhkan pisaunya.


"Lepaskan putriku... tolong jangan apa-apakan dia," ujar Tante Jelita memohon.


"Hahaha... berjanjilah kau akan menikah dengan ku. Setelah itu kau ikut dan Sasha ikut dengan ku, tidak akan aku biarkan kamu kabur lagi."


Aku tahu Tante Jelita pasti bimbang, di satu sisi pasti tidak mau kembali lagi padanya dan disisi lain tidak mau putrinya celaka. Dia menatapku, aku mengangguk sebagai jawaban. Tidak mengapa Tante Jelita ikuti dulu mau pria itu sekarang. Setelah pria itu lengah aku akan menyelamatkan Sasha.


"Baiklah... aku akan menikah dengan mu. Kau puas sekarang!!"


Ibu dan warga melihat ku dan merasa kasihan, seperti pengantin ku sudah direbut orang lain. Tenang saja aku tidak akan membiarkan hal itu terjadi.

__ADS_1


"Hahaha... kau dengar itu. Dia memilih ku. Pernikahan kalian tidak akan pernah terjadi," katanya padaku sambil tertawa puas.


Tertawalah sepuasnya, lihat saja nanti akhirnya siapa yang akan berakhir bahagia.


"Sekarang kau masuk ke mobil," perintah pria itu pada Tante Jelita.


Aku mengangguk lagi saat Tante Jelita melihatku, sebentar lagi aku akan punya kesempatan untuk mengambil Sasha.


Tante Jelita berjalan ke arah mobil pria itu perlahan, ya dia pasti ragu dan takut kalau pada akhirnya aku tidak berhasil. Percayalah Tante, aku tidak akan membiarkan kalian pergi bersama pria itu.


"Cepat sayang, kenapa kau lama sekali. Bukankah kau sudah ingin memeluk putrimu ini." Bagus menyeringai karena dia pikir berhasil membawa Tante Jelita.


Siaallann, berani sekali dia memanggil Tante Jelita ku dengan sebutan sayang. Rasanya aku ingin menarik kumisnya yang tebal sampai terlepas kalau perlu.


Bug. Pisau itu terlepas dari tangan Bagus, aku segera mengambil Sasha. Jantungku berdebar, aku juga takut kalau anak itu terluka. "Syukurlah nak, kau aman sekarang." Aku memeluknya erat, ajaibnya dia juga berhenti menangis. Sepertinya dia juga bisa merasakan dengan siapa dia akan aman.


"Sasha... " Tante Jelita juga berhasil lolos dan menghampiri Ku. "Sasha putri ibu..."


"Anak cantik, kau bersama ibumu dulu yaa...," aku menyerahkan Sasha pada ibunya. Karena urusan ku belum selesai dengan pria itu.


"Berani kau mengambil anak itu, dia itu putriku."


"Apa aku tidak salah dengar. Kau bilang Putri mu? Apa ada seorang ayah yang menodongkan pisau pada putrinya sendiri," ujarku sinis.

__ADS_1


"Kurang ajar!! Aku akan menghabisi mu."


Gawat! Pisaunya... ternyata dia sudah berhasil mengambil kembali pisau itu. Aku harus berhati-hati. Sementara anak buah Bagus, sudah di amankan warga. Sisanya aku harus membereskan pria itu.


"Mas Haris hati-hati..." Tante Jelita cemas, mungkin karena melihat Bagus memegang pisau yang terlihat sangat tajam itu.


"Matilah kau!!" Dia mengayunkan pisaunya padaku tapi aku berhasil menangkis nya.


Bug bug bug. Kami berkelahi cukup sengit dan menguras tenaga karena aku harus berhati-hati pada pisau di tangannya. "Menyerah dan bertaubatlah, jangan sampai putrimu sendiri membenci mu karena kelakuan mu."


"Cihhh... aku tidak perlu nasehatmu. Jangan banyak omong, enyahlah."


Aku sudah memperingatkan nya tapi dia tidak mau dengar. Sekarang jangan salahkan aku jika terjadi sesuatu padanya.


Siu... bug... dengan satu tendangan saja dia sudah mengaduh kesakitan. Kretek! satu tangannya aku injak, tangan yang sudah ia gunakan untuk menodong putrinya sendiri.


"Aawww... tanganku... singkirkan kakimu!"


Aku cukup menahan diri dan mundur, di sana ada banyak anak-anak. Tidak baik untuk mental mereka jika melihat kejadian kekerasan. Sepertinya juga sudah cukup memberinya pelajaran.


"Pergilah, kalau kau tidak ingin aku juga mematahkan tangan kirimu," kataku.


Aku berbalik dan tersenyum pada tiga wanita yang sangat berarti dalam hidupku. Tak akan aku biarkan mereka terluka, mereka adalah hidupku.

__ADS_1


"Mas Haris awasss!!" Aku mendengar Tante Jelita berteriak, bibirku masih tersenyum padanya saat aku rasakan...


__ADS_2