Ketulusan Hati Jelita

Ketulusan Hati Jelita
Bab 77. Sudah Jalannya


__ADS_3

Pov author


Jelita masih bersimpuh dihadapan Bu Wanti. Dia menyalahkan dirinya sendiri atas apa yang terjadi pada Haris. Karena dialah Haris terluka dan bahkan nyawanya dalam bahaya. Karena dirinya juga kini hati seorang ibu hancur karena melihat putranya terluka.


"Maafkan aku Bu ... aku janji tidak akan mendekati mas Haris lagi. Aku hanya membawa keburukan untuknya." Itu benar karena semenjak dia mengenal Haris, laki-laki itu banyak sekali melakukan sesuatu untuknya.


Bu Wanti jelas sangat terluka saat ini. Haris adalah putranya satu-satunya. Harta yang paling berharga dari apapun bagi Bu Wanti. Dimana saat Haris masih kecil, melihatnya terluka sedikit saja rasanya tidak rela dan sekarang dia harus melihat sang putra hampir terenggut nyawanya. Namun, hal itu tidak cukup membuat Bu Wanti untuk menyalahkan siapapun.


"Bangunlah nak, jangan menyalahkan dirimu sendiri. Semuanya sudah jalannya seperti ini. Ibu mengerti kenapa Haris melakukan hal itu, dia hanya ingin melindungi kalian. Kamu dan Sasha sudah menjadi wanita yang sangat berarti untuk Haris. Kamu sama sekali tidak membawa keburukan untuknya, justru sebaliknya." Bu Wanti mengusap puncak kepala Jelita, sama sekali tidak ada perasaan marah atau apa.


"Ibu ... bolehkah aku memelukmu," ujar Jelita.


"Tentu nak, aku juga ibumu."


Jelita mengangkat sedikit tubuhnya dan memeluk Bu Wanti. Sudah lama sekali dia tidak merasakan kehangatan pelukan seorang ibu. Saat dia sedang terpuruk seperti ini, hanya pelukan yang dia butuhkan.

__ADS_1


Lama menunggu proses operasi Haris. Semua orang berdoa dalam hatinya, memohon untuk kesembuhan Haris. Jelita sangat tidak bisa tenang sebelum tau bagaimana keadaan Haris.


"Mas Haris, aku mohon jangan tinggalkan aku."


"Nak, kembalilah. Banyak orang yang menunggumu untuk berkumpul bersama. Bukannya kau janji akan membahagiakan ibu, kau bahkan belum memberikan ibu cucu laki-laki. Untunglah sudah ada cucu perempuan, sekarang ibu mau cucu laki-laki."


Doa dan harapan terus mereka sematkan dalam hati. Meminta kesembuhan Haris. Warga dan para tetangga juga menggelar doa bersama untuk kesembuhan Haris.


Dokter keluar dari ruangan operasi, wajahnya cukup tegang dan membuat mereka yang menunggu cukup takut.


"Bagaimana keadaan Mas Haris, Dok? Apa dia baik-baik saja? Dia selamat kan Dok?" Jelita langsung memberondong dokter itu dengan banyak pertanyaan.


"Jadi putra saya selamat Dok?" tanya bu Wanti yang juga sangat takut mendengar kenyataan.


"Berkat doa kalian semua pasien selamat, keinginannya untuk bertahan hidup sangat kuat. Mungkin akan butuh waktu untuk dia sadar, tapi keadaan pasien sudah baik-baik saja. Kalian bisa melihatnya tapi bergantian, nanti akan ada perawat yang membantu kalau ada yang mau masuk melihat keadaan nya."

__ADS_1


"Syukurlah, terimakasih dokter. Terimakasih ...." Jelita sungguh sangat bahagia mendengar kabar itu. Begitupun Bu Wanti dan yang lain.


Jelita jadi orang pertama yang pergi melihat Haris. Awalnya dia tidak mau dan mempersilahkan Bu Wanti sebagai ibunya Haris yang lebih dulu masuk. Tapi kata bu Wanti, saat ini yang diharapkan Haris untuk hadir pastilah Jelita bukan orang lain.


Jelita sudah menggunakan baju khusus untuk masuk ke dalam ruangan itu. Tangisnya langsung jatuh begitu melihat Haris yang biasanya tampak gagah dan kekar kini terbaring lemah diatas ranjang rumah sakit. Entah bagaimana rasa sakitnya, kalau bisa dia ingin membagi nya agar Haris tak terlalu merasakan kesakitan itu.


"Mas Haris. Ini aku mas." Tes, sungguh dia tidak bisa setegar itu. Bahkan bibirnya bergetar tidak sanggup berkata apa-apa lagi. Tangan satunya ia gunakan untuk meraih tangan Haris, dan satunya lagi untuk menutupi mulutnya agar tangisnya tidak terdengar sampai ke telinga Haris. Siapa yang tidak sedih kalau orang yang kita cintai tak berdaya seperti itu.


"Mas, terimakasih atas semua pengorbanan mas Haris. Terimakasih juga sudah menyelamatkan Sasha. Terimakasih sudah melindungi kami mas. Sekarang aku sangat yakin kalau mas Haris benar-benar menyayangi kami."


"Mas, bangunlah secepatnya agar kita bisa segera menikah dan hidup bahagia. Aku pasti akan jadi wanita yang paling beruntung karena menjadi istri mas Haris. Mas Haris mau punya anak berapa? Dua tiga atau lima? Ayo kita bikin anak yang banyak agar ibu tidak kesepian lagi."


Dulu Jelita sempat takut mau punya anak lagi saat sudah menikah karena ia takut kasih sayang Haris mungkin akan berbeda pada Sasha, tapi setelah melihat kesungguhan Haris dia mau punya anak berapapun dengan nya.


Jelita keluar dari ruangan itu setelah cukup berbicara pada Haris yang masih belum sadar. Dia tidak bisa lama-lama disana, rasanya menyesakkan. Dan lagi disana belum boleh ada yang menunggui. Mungkin nanti setelah pindah ruangan barulah dia dan keluarga menjaga Haris.

__ADS_1


Jelita berjalan keluar ruangan dengan memegangi kepalanya yang tiba-tiba saja berdenyut. Tepatnya di pintu keluar, matanya juga berkunang-kunang.


"Nak Lita..."


__ADS_2