Ketulusan Hati Jelita

Ketulusan Hati Jelita
Bab 40. Rencana


__ADS_3

Kami sudah menyusun rencana, Tante Jelita juga sudah menyuruh orang kepercayaan nya untuk menyelidiki tentang keluarga Bu Yuli. Dia ternyata lebih luas pikirannya, sebelumnya aku sama sekali tidak kepikiran sampai ke situ.


Sekarang aku sedikit lega, makin banyak orang yang membantu akan semakin besar kemungkinan segera mendapatkan sesuatu. Entah apa itu, aku selalu merasa aneh karena gadis itu mau menikah begitu saja dengan ku.


Ya memang aku ini gagah dan cukup tampan tapi yang lebih dari ku pasti banyak. Apalagi pekerjaan ku yang hanya jadi scurity sama sekali tidak dipermasalahkan oleh keluarga Bu Yuli. Seharusnya kalau melihat anak dan mantu Bu Yuli itu semuanya orang-orang terpelajar dan hampir jadi pegawai semua.


"Mas Haris sedang mikirin apa?" tanya Tante Jelita.


"Tidak Tan, aku sedang memikirkan bagaimana caranya agar ibu mau menerima Tante. Kalau perjodohan ini berhasil dibatalkan, aku akan langsung mengatakan pada ibu kalau wanita yang aku sukai dan ingin aku nikahi itu Tante."


Perkataan ku sukses membuat Tante Jelita merona. Dia tersipu dan menelusupkan wajahnya pada dada bidangku. Aku rindu sekali saat-saat seperti ini. rasanya sudah sangat lama kami tidak bermesraan.


"Apa mas Haris nggak malu kalau bersanding dengan Tante, mas Haris kan masih muda dan banyak yang suka."


"Sama sekali nggak Tan, aku justru akan bangga memperkenalkan Tante pada semua orang. Hanya Tante yang bisa membuat ku tertarik dan selalu terbayang-bayang wajah Tante."


"Mas Haris gombal..." Tante Jelita makin tersipu karena ku. Aku sangat gemas melihat nya.

__ADS_1


Kami melepas rindu, bercanda dan bercengkrama di taman itu. Meski hanya bisa sebatas berpelukan, cium pipi, cium tangan, kalau mau lebih nanti saja kalau sepi. Yang penting kami bisa menghabiskan waktu bersama.


"Lihat mas, itu kenapa semak-semak di sebelah sana bergoyang-goyang?" Tante Jelita menunjuk ke arah semak-semak yang cukup tinggi dan rimbun. Aku pun melihatnya. Seketika pikiranku langsung kemana-mana, apa mungkin siang-siang bolong begini ada pasangan omes di sana. Atau mungkin hanya binatang liar.


"Tan sebaiknya kita pergi dari sini. Mungkin saja itu adalah binatang liar," ujarku. Sebenarnya aku tidak takut tapi aku cemas kalau itu bukan binatang tapi manusia. Bisa-bisa kita mendengar suara aneh-aneh kalau tetap di sana.


Kami sudah berada di mobil. Tante Jelita tidak mau pergi sebenarnya tapi aku terus membujuknya. Aku teringat kejadian di pabrik tempo hari. Dimana ada pasangan digerebek oleh aku dan pak Irwan.


"Mas Haris kenapa buru-buru? Tante suka di sana. Sejuk dan tenang."


"Boleh, Tante juga sudah lapar. Tapi ini Tante sakit sudah penuh sepertinya," ujar Tante Jelita seraya menggigit bibir. Aku sangat tau maksudnya, tiap kali sedang berdua saja dia memang kerap kali memanfaatkan ku untuk menguras nya.


"Disini Tan?" tanyaku memastikan.


"Iya mas, apa mas Haris nggak kangen mereka?"


Woooww... aku mendelik sempurna saat Tante Jelita menyingkap kaos ketat yang ia pakai hingga atas. Membuatku gemas.

__ADS_1


"Boleh mulai sekarang Tan?" tanyaku yang sudah tidak sabar.


Tante Jelita tidak menjawab tapi dia menurunkan sandaran kursi nya hingga dia sedikit tertidur. Tentu saja hal itu agar memudahkan ku.


"Ayo mas Haris, jangan malu-malu..." Tersenyum genit padaku.


Kalau sudah begini aku tidak mungkin menyia-nyiakan kesempatan. Aku segera mendekat dan melakukan tugasku sebagai pengganti Shasa . Aku tinggalkan beberapa jejak kegemasanku disana membuat Tante Jelita merem melek tak karuan.


"Buka mas, Tante mau yang lebih..."


"Siap Tan," jawab ku penuh semangat. Benda indah yang tidak pernah ada tandingannya ada di depan mata ku. Punya istri pak bos juga besar tapi aku rasa bukan asli seperti yang ada di depan ku ini. Tingkat kekenyalan dan kelembutannya nya juga beda, sangat jelas mana yang asli dan mana yang palsu.


Slup. Begitu terbuka aku langsung melahapnya bergantian. Menguras isinya yang bisa membuatku kenyang. "Rasanya makin enak Tan..." ujar ku, rasanya setiap kali aku melakukan hal itu memang berbeda-beda. Sangat ajaib menurut ku. Kalau Tante Jelita, tergantung makanan yang dia makan. Kalau makan sayur-sayuran buah-buahan yang sehat rasanya lebih segar dan manis. Tapi kalau Tante Jelita sedang suka makan daging atau ikan, rasanya akan sedikit amis.


"Apa mas Haris suka? Sshhh..."


"Suka Tan,...hmmm "

__ADS_1


__ADS_2