Ketulusan Hati Jelita

Ketulusan Hati Jelita
Bab 65. Membabi Buta


__ADS_3

Bruk!!


Satu kali tendangan aku langsung bisa membobol pintu itu. Apalagi ditambah dengan amarah yang menguasai diriku. Kekuatan ku seperti bertambah berkali-kali lipat.


"Lepaskan Dia!!" Nafasku memburu, melihat posisi Tante Jelita yang sedang dibawah Kungkungan pria bangkotan itu.


"Mas Haris... tolong Tante mas..."


Kulihat pakaian Tante sudah berantakan, rambut dan juga air matanya berderai membasahi pipinya. Jelas disini sudah terjadi pemaksaan, lalu kenapa para karyawan Tante Jelita malah menghalangi ku untuk menolongnya. Langsung kulirik tajam mereka, kusuruh mereka menyingkir dari sini. Aku tidak rela bagian tubuh Tante Jelita dilihat orang lain.


"Pergi kalian!! Dan jaga mata kalian itu kalau tidak ingin aku congkel dari tempatnya!!"


Dia pemuda itupun ketakutan dan langsung lari. Sekarang tinggal membereskan pria berkumis tebal dan buncit itu.


"Kau anak muda! Berani sekali kau mengganggu kami suami istri sedang bersenang-senang! Apa kau sudah bosan hidup?!"


"Cuuuiihhh... aku bukan lagi istrimu pria brengse-ek!! Aku akan melaporkanmu ke polisi karena sudah berani menyentuh ku!" Tante Jelita terlihat sangat marah seperti ku. Aku tidak bisa membayangkan bagaimana kalau sampai aku datang terlambat.

__ADS_1


"Kau jangan munafik sayang, bukankah kau juga menikmatinya barusan. Aku tau kau pasti sudah lama tidak merasakan barang yang gagah ini kan. Hahaha..."


"Cukup!! Kau brengs-eek!! Bajin-gan!! Aku tidak akan melepaskan mu, kau berani menyentuh wanitaku." Bug!! "Tangan mana yang kau pakai untuk menyentuhnya haa!! Apa ini?!" Krek! Aku putar tangan kanannya sampai bunyi. Jelas sangat sakit.


"Aaa ... lepaskan tanganku!! Kau berani menyentuh ku!!" Pria itu masih punya tenaga untuk mengancamku rupanya.


"Aku sudah menahan diri dari dulu untuk tidak menghajar mu karena aku menghormati kau sebagai ayahnya Sasha. Tapi kali ini aku tidak akan mengampuni mu!!" Bug!! bug!! bug!!


Sepuasnya, aku memberikan pria tua itu pelajaran agar dia tidak berani lagi mengganggu Tante Jelita. Wajahnya sudah tidak berbentuk lagi, daraeh juga mengalir dari hidung, pelipis dan sudut bibirnya. Aku menghajarnya dengan membabi buta, tidak takut akan penjara atau apapun. Toh kami juga bisa melaporkan nya atas tuduhan pelec-ehan.


"Cukup mas... Jangan sampai membunuhnya. Nanti mas Haris bisa berurusan dengan polisi."


"Mas Haris,. Tante nggak mau kalau sampai mas Haris masuk penjara gara-gara pria itu. Bagaimana dengan ku mas, dia bisa saja melakukan hal ini lagi kalau sampai mas Haris nggak ada," ujar Tante Jelita ketakutan melihatku yang kesetanan. Selama ini dia tidak pernah melihat ku seperti ini, dia pasti takut.


Aku menghirup oksigen sebanyak-banyaknya dan menetralkan degup jantungku. Kutatap wajah Tante Jelita yang masih basah dan ketakutan. Kutangkup kedua pipinya, lalu ku kecup bibir nya singkat. "Jangan menangis lagi Tan, jangan takut aku sudah ada disini."


"Mas Haris... Tante Sangat takut, Tante pikir tadi dia akan berhasil menodai Tante. Bagaimana kalau sampai itu terjadi? Aku takut mas Haris nggak akan mau menikah dengan Tante lagi... hiks hiks hiks..." Sangat menyakitkan saat melihat wanita yang kita cintai ketakutan dan menangis seperti ini. Kalau saja tidak ada hukum di negara ini pasti sudah aku habiskan laki-laki baji-gan itu.

__ADS_1


Aku bawa tubuh Tante Jelita ke dalam pelukanku. Dia menangis semakin kencang dan tubuhnya juga bergetar. "Apapun yang terjadi pada Tante aku akan tetap menikahi Tante. Sekalipun pria itu berhasil tadi. Tante akan tetap jadi istri ku." Aku cium keningnya berkali-kali.


"Hai mau kemana kau!! Tunggu Tan, biar aku hajar dia lagi." Aku ingin mengejar pria tua itu yang ternyata masih bisa kabur.


"Sudah mas, Tante nggak mau urusannya jadi panjang. Dia itu bisa nekat kalau sudah ada maunya."


"Tapi Tan, apa nggak sebaiknya kita laporkan dia ke polisi," kataku.


"Percuma mas, apa kau tidak ingat kalau aku pernah cerita kalau mantan adik ipar ku itu polisi. Dia bisa dengan mudah melepaskan diri dari penjara."


Aku menghela nafas, hukum memang kadang tidak bisa berpihak pada kami yang notabene hanya rakyat jelata. Sudah benar tadi aku menghajarnya. Aku jadi menyesal karena tidak aku patahkan saja kaki atau tangannya tadi.


Aku bawakan air mineral untuk Tante Jelita yang sepertinya masih syok. "Diminum Tan," kataku sambil menyodorkan sebotol air mineral.


"Makasih mas."


"Tan, maaf kalau aku boleh tau kenapa saat aku coba masuk tadi karyawan Tante menghalangi ku. Apa mungkin mereka bersekongkol dengan mantan suami Tante?" tanyaku yang penasaran sejak tadi.

__ADS_1


Tante Jelita menggeleng lemah. "Mereka asli karyawan Tante. Mereka hanya terpaksa melakukan itu karena Bagus baji-gan itu mengancam mereka."


Tak lama saat aku dan Tante Jelita sedang duduk di dalam ruangan, datang segerombolan orang.


__ADS_2