Ketulusan Hati Jelita

Ketulusan Hati Jelita
Bab 71. Dipingit


__ADS_3

H -3 Sebelum pernikahan.


Aku sudah sangat tersiksa karena tidak bisa bertemu dengan Tante Jelita. Sudah beberapa hari ibu melarang keras aku untuk menemui nya. Sudah menggunakan berbagai macam alasan tapi ibu tetap melarangku. Tidak taukah ibu kalau pentunganku sudah sangat tersiksa karena tidak bisa mencari kehangatan.


Aaarrrggghhh, ini gara-gara waktu itu aku ketahuan. Kalau saja aku lebih tahan diri dan berhati-hati pasti aku masih bebas bisa bertemu Tante Jelita.


Sekarang aku harus menerima nasibku, yang hanya bisa memandang Tante Jelita dari kejauhan. Di jendela kamar aku bisa melihat Tante Jelita sedang bersama Sasha bermain-main di sana. Sesekali dia tersenyum padaku yang malang ini.


"Ya ampun... apa kau akan begitu terus. Sebentar lagi juga kamu bisa bertemu dan bersama nak Lita. Jadi nggak perlu sampai seperti ini. Makanya tahan diri, baru di tinggal sebentar saja sudah mencuri-curi kesempatan," ujar ibu.


"Ibu nggak tau saja bagaimana rasanya aku menahan rindu ini... rasanya aku ingin meraihnya tapi tangan ini nggak sampai. Ohhh aku ini seperti pungguk merindukan rembulan." Aku memasang wajah memelas, siapa tau ibu berubah pikiran dan membiarkan ku menghampiri Tante Jelita.


"Sudahlah, ibu mau pergi dulu."


"Mau kemana Bu?" tanyaku.


"Mau lihat-lihat baju pengantin sama calon menantu ibu. Kamu jaga rumah saja ya," ujar ibu dengan teganya.


"Tapi Bu, bukannya mencoba pakaian pengantin itu harusnya aku juga ikut ya. Kalau begitu aku akan ikut ibu dan Tante Jelita pergi."

__ADS_1


"Nggak perlu, ibu sudah tau ukuran baju kamu. Sudah, di rumah saja."


Nasibku malang sekali. Kenapa aku seperti sedang dipingit. Bukannya seharusnya yang dipingit itu perempuannya.


POV Tante Jelita


Aku sangat bahagia akhirnya sebentar lagi aku akan menikah dengan mas Haris. Laki-laki pujaan hatiku yang selalu terngiang-ngiang di kepala ku. Rasanya sangat berbeda saat dulu aku akan menikah dengan mas Bagus. Karena dulu kami dijodohkan, maklum lahh mas Bagus itu orang kaya. Tapi walaupun begitu aku sudah mencoba jadi istri yang baik dan coba mencintai mas Bagus. Sayangnya pria itu malah berkhianat.


Sepertinya memang jodoh kami hanya sampai di situ, aku langsung mengajukan cerai ke pengadilan dan menuntut harta gono-gini untuk putriku. Aku menang karena mas Bagus yang membuat kesalahan, ditambah mertuaku saat ini juga mendukung apa yang aku lakukan.


Tapi aku tidak pernah menyesali pernikahan itu. Dari pernikahan itulah aku kini punya putri yang sangat cantik seperti Sasha. Karena dia lah aku kuat dan berhasil bangkit, lalu membangun toko sembako yang kini sangat laris.


Aku dan mas Haris bercrintra di dalam tempat karaoke. Sungguh pengalaman yang tidak pernah aku lupakan. Mungkin karena terbawa suasana atau mungkin karena terpengaruh oleh pikiranku sendiri untuk mengikat mas Haris. Ya aku sempat berpikir untuk mengikat mas Haris dengan hal itu, nyatanya berhasil. Benihnya meledak dalam rahimku dan aku berharap bisa segera tumbuh di perut ku.


Awalnya aku pikir jika aku hamil maka Bu Wanti pasti akan cepat merestui kami. Tapi untungnya sebelum itu terjadi Bu Wanti sudah lebih dulu memberikan restunya.


Kami bahkan semakin dekat dan akrab, Bu Wanti juga terlihat sangat menyukai Sasha. Putriku yang jarang mendapatkan kasih sayang dari seorang nenek juga kelihatan bahagia dengan Bu Wanti. Dan hari ini kami pun sedang pergi bersama.


"Nak Lita, nanti mau konsepnya seperti apa pas akad?" tanya bu Wanti.

__ADS_1


"Tidak perlu mewah-mewah Bu, aku malu. Cuma janda masa nikahnya mewah." Disamping itu aku juga tidak ingin memberatkan mas Haris. Tidak perlu buang-buang uang hanya untuk acara seperti itu. Yang penting sah dan bagaimana kami menjalani rumah tangga menurutku.


"Nggak apa nak, ibu rasa Haris itu kepingin memberikan yang terbaik untuk nak Lita. Jadi terima saja," ujar Bu Wanti.


"Bisa tolong nasehati mas Haris Bu, bilang padanya kalau aku tidak perlu itu semua. Mas Haris dan Bu Wanti sudah mau menerima keadaan ku yang sudah ada Sasha saja, aku sudah sangat bersyukur dan bahagia."


Aku lihat ibu tersenyum di kaca spion. Dia memang duduk di belakang bersama pengasuh dan Sasha.


"Sekarang ibu yakin kalau keputusan ibu untuk merestui kalian ini sudah sangat benar. Semoga nanti nak Lita bisa sabar menghadapi Haris yang mungkin belum bisa berpikir dewasa dan bijaksana seperti nak Lita."


Aku terharu, pandangan ku sampai sedikit buram karena air mata yang kini menggenang di pelupuk mataku. Aku pelankan kecepatan mobilku dan aku juga segera mengusap mataku.


"Terimakasih Bu... terimakasih sudah memberikan kami restu dan mau menerima aku dengan status janda beranak satu ini."


"Ibu juga janda nak. Nggak ada yang salah dengan status janda. Maafkan ibu yang pernah sempat menghalangi kalian."


Kalau saja tidak sedang menyetir pasti aku akan memeluk Bu Wanti. Rasanya sudah sangat lama aku tidak merasakan hangatnya pelukan seorang ibu. Aku hanya punya kakak yang juga sibuk bekerja dan jarang sekali punya waktu untukku bahkan untuk putrinya sendiri juga jarang jadilah aku jarang sekali minta bantuan kakakku.


Bu Wanti, mas Haris semoga kita bisa menjadi satu keluarga yang bahagia.

__ADS_1


__ADS_2