
Setelah saling mengungkapkan perasaan. Hubungan ku dengan Tante Jelita semakin baik dari hari ke hari. Saat di rumah sakit aku pun selalu menyempatkan waktu berkunjung dan menemani Tante Jelita selepas kerja.
Setelah dek Sasha membaik dan diperbolehkan pulang, aku pun menjemput mereka menggunakan mobil Tante Jelita. Bayi itu sudah kembali ceria dan menggemaskan, mungkin karena ibunya sudah kembali normal dan tidak terlalu banyak pikiran yang membuat air susunya sudah bagus juga.
"Tante senang sekali akhirnya bisa pulang dan Sasha juga sudah sehat, lihat dia sudah bisa tersenyum lagi." Tante Jelita yang sedang memangku putrinya memang terlihat sangat senang melihat Sasha sudah sehat. Begitulah seorang ibu kalau anaknya sakit pasti rasanya ikut sakit juga.
"Aa... pa ...paa pa..."
"Sayangnya ibu sudah bisa ngoceh lagi sekarang, ibu senang sekali nak. Sehat terus ya, kamu harta ibu yang sangat berharga," ujar Tante Jelita seraya bermain-main dengan putrinya.
"Tante jangan sampai terlalu banyak pikiran lagi, harus selalu bahagia agar dek Sasha juga merasakan hal yang sama," ujarku yang sedang menyetir, aku ikut senang melihat kesembuhan anak itu. Bisa aku lihat bagaimana cemaskan Tante Jelita selama di rumah sakit.
"Iya mas, Tante nggak akan mikirin yang nggak penting lagi. Yang penting sekarang semuanya demi Sasha. Asal Sasha sehat sudah cukup buat Tante. Dan sebenarnya yang berperan penting mengembalikan mood Tante itu mas Haris. Terimakasih ya mas, selama di rumah sakit mas Haris selalu menyempatkan waktu untuk datang."
__ADS_1
"Sama-sama Tan, tidak perlu sungkan. Lain kali katakan saja kalau Tante butuh bantuan." aku malu.
Sementara hubungan kami memang baru sebatas mengungkapkan perasaan. Belum ada status apapun diantara kami, pacaran juga tidak. Aku juga bingung, bagaimana pun Tante Jelita itu sudah cukup dewasa dan sudah punya anak. Pastilah dia sudah tidak memikirkan yang namanya pacaran, menurutku kalau waktunya sudah tepat aku akan langsung melamarnya saja.
"Mas... kalau kita begitu saja tidak pacaran, tidak apa-apa kan? Atau mas Haris perlu status yang seperti itu?" tiba-tiba saja Tante Jelita bertanya seperti itu. Aku harus menjawab apa.
"Emm itu terserah Tante, tapi kalau tidak pacaran lalu hubungan kita ini seperti apa Tan?" aku balik bertanya, aku ingin tau bagaimana pendapat Tante Jelita.
Aku mengangguk, iya juga. "Tidak masalah kalau hanya status yang penting kita bisa berdekatan
" kataku. Jangan tanya selama di rumah sakit kami ngapain aja. Yang jelas kami semakin mengenal luar dalam, terutama aku yang makin candu dengan air susunya. Setiap aku berkunjung dan tidak ada orang, pastilah aku meminta jatahku.
"Mas Haris sudah mulai berani sekarang." Tante Jelita memukul lenganku tapi sama sekali tidak terasa karena lenganku yang besar dan berotot. Tentu pukulan Tante Jelita tidak ada apa-apanya.
__ADS_1
"Iya dong, habisnya Tante selalu bikin kangen kalau lagi jauh. Aku kan jadi tersiksa kalau kita terlalu lama berjauhan." Aku menggodanya, wajah malu-malu Tante Jelita sangat manis. Aku jadi ingin menyambar bibir lembut itu. Sesuatu yang baru saja dua hari yang lalu aku rasakan. Padahal bukan ciumaann pertama tapi sangat berkesan buatku.
"Mas Haris bisa saja, memangnya Tante ini apa sampai bikin kecanduan."
"Tante itu seseorang yang berarti dalam hidupku."
Tanganku merayap, mengusap sesuatu yang terlihat mulus itu karena Tante Jelita yang menggunakan dress pendek. Dia sama sekali tidak marah kalau aku memegang apapun yang terlihat.
"Pa... aaa... pa... awwaa..." Sasha yang sejak tadi diam dengan mainan gigit-gigitnya. Sekarang mulai rewel dan mengusapkan wajahnya pada bongkahan sumber kehidupan nya. Aku tau dia minta apa, beberapa hari menghabiskan waktu bersama aku jadi tau sedikit lebih banyak juga bagaimana kebiasaan anak itu.
"Sayangnya ibu, kamu lapar nak? Sudah mengantuk ya. Sebentar ya..." Tante Jelita membuka resleting yang terdapat di bagian depan, memang dress yang ia pakai itu model busui. Sehingga membuat nya lebih leluasa kalau sang anak merengek.
Aku berusaha mengalihkan pandangan. Bisa-bisa aku langsung menepikan mobil dan minta juga kalau melihat hal itu. Sabar Haris, kau tidak boleh menyerobotnya. Apalagi sampai berebut dengan anak bayi.
__ADS_1