
POV Haris
Kami pun sampai di sebuah tempat karaoke yang cukup besar dan mewah di kota. Jujur saja aku belum pernah masuk tempat seperti itu sebelumnya jadi aku sedikit takut akan mempermalukan Tante Jelita.
"Pas sekali disini mas, tempatnya nyaman dan privasi. Tante dan teman-teman Tante sering karaoke di sini." Benar saja, lingkup pertemanan Tante Jelita itu sangat luas dan pasti high clash.
"Tan, mmm sebenarnya aku belum pernah pergi ke tempat karaoke sebelumnya. Aku nggak ingin bikin Tante malu nanti," ucapku sambil menggaruk tengkuk. Lain kali aku harus mencari tau lebih dulu tentang tempat-tempat yang biasa didatangi orang-orang kaya.
Tante Jelita tertawa, apa dia menertawakan ku. Ya ampun malu sekali diriku ini.
"Mas Haris ini lucu banget sih, Tante makin gemas pada mas. Memangnya kenapa kalau belum pernah mas, disini nggak ada larangan yang belum pernah datang itu nggak boleh masuk. Semua orang bisa masuk kesini. Nggak usah malu mas, kita tinggal masuk nanti ada yang mengarahkan kita di dalam."
Ohh... aku manggut-manggut mengerti. Maklumlah, aku ini anak rumahan yang jarang keluar jadi tidak terlalu banyak tau tempat-tempat seperti itu.
Kami pun masuk dengan bergandengan tangan, Tante Jelita sama sekali tidak malu menggandeng ku kemana-mana. Kami tampak sangat serasi, sama sekali tidak terlihat perbedaan umur diantara kami. Mungkin karena Tante Jelita yang memang sangat awet muda atau aku yang wajahnya boros.
"Selamat sore nona Lita. Waah tumben sekali nggak sama teman-teman." Kasir di tempat itupun sangat mengenal Tante Jelita, itu berarti Tante Jelita sudah sering datang seperti ucapannya tadi.
"Nggak lahh, bosan sama mereka," jawab Tante Jelita sambil tersenyum manis, untung saja kasir itu laki-laki cantik.
Kami sudah ada di dalam ruangan. yang luasnya sekitar 2x3meter persegi dengan TV yang super besar dan sofa panjang serta meja di depannya.
Aku yang baru pernah masuk tempat itu pun cukup takjub. Fasilitasnya cukup lengkap dan nyaman serta bersih tentunya. Aku juga melihat tv dan banyak microphone di sana, lalu untuk apa Tante Jelita mau meminjam mic dariku. Aku bahkan tidak membawa mic.
Sedetik kemudian aku membulatkan mata dan melihat ke bawah. Apa yang dimaksud Tante Jelita itu mic hidup. Aku langsung merem-mang saat membayangkan Tante Jelita menyanyi dalam artian menggunakan mic punyaku.
"Mas... sini duduk mas," panggil Tante Jelita.
__ADS_1
Aku menyengir kuda lalu menghampirinya dan duduk di sebelah Tante Jelita. Dalam ruangan remang-remang dan hanya berdua, sungguh otakku tidak bisa berhenti berpikir omes. Apalagi kalau disandingkan dengan pemandangan yang membuat dahaga.
"Mas Haris mau pesan apa? Mau makan?" tanya Tante Jelita yang sedang melihat buku menu.
Aku pun mengalihkan pandangan ke buku menu itu. Ada berbagai macam makanan berat dan ringan, serta minuman biasa sampai minuman beralkohol.
"Aku masih kenyang Tan, pesan minum aja," kataku.
"Minum apa mas, teh, kopi, susu..."
glek. aku langsung menatap sumbernya.
"Apa saja Tan," jawabku.
"Ok, kalau begitu jus aja ya, sama cemilan. Apa mas Haris mau minum alkohol?"
"Mas Haris hebat, jarang sekali jaman sekarang ada yang bisa nggak terpengaruh dengan pergaulan yang nggak sehat. Pertahankan mas."
Aku tersipu mendapatkan pujian dari Tante Jelita.
Awalnya seorang pemandu mengajarkan kami bagaimana caranya memilih lagu dan mulai bernyanyi. Lalu wanita pemandu yang berpakaian sangat minim itupun keluar setelah menjelaskan. walaupun pakaian wanita itu minim tapi tetap saja tidak bisa mengalahkan Tante Jelita yang anggun dan berkelas.
"Ayo mas nyanyi..." ajak Tante Jelita.
"Suaraku jelek Tan, Tante saja yang menyanyi. Aku akan jadi penonton disini."
"Nggak asyik dong mas, masa Tante nyanyi sendiri. Ayo... nggak usah malu, suara Tante juga nggak bagus kok."
__ADS_1
Satu lagu pun kami pilih, lagu yang sedikit menggambarkan tentang perasaan kami.
Jika memang dirimulah tulang rusukku
Kau akan kembali
Pada tubuh ini
Ku akan tua dan mati
Dalam pelukmu
Untukmu seluruh nafas ini
Jika memang kau terlahir
Hanya untukku
Bawalah hatiku dan lekas kembali
Ku nikmati rindu yang datang
Membunuhku
Untukmu seluruh nafas ini
Untukmu seluruh nafas ini
__ADS_1
Aku terpana mendengar kemerduan suara Tante Jelita. Suaranya menyihir perasaan ku, makin membuat ku jatuh cinta padanya.