
Aku begitu terkejut saat mendengar suara tamparan yang begitu keras dari dalam ruangan. Dan saat aku melihat Tante Jelita sedang memegangi pipinya.
"Ibu macam apa kamu, menjaga anak saja tidak becus! Kerjanya cuma sibuk menggoda laki-laki setiap hari."
"Heh, apa kamu nggak salah ngomong begitu. Selama ini apa kamu pernah peduli dengan anakmu. Hah!!" "Kau selalu sibuk dengan para gundikmu. Kamu bersenang-senang dengan wanita lain saat aku baru melahirkan. Sekarang kau datang-datang mengalahkanku? Apa setelah berpisah kamu pernah menanyakan putrimu? Tidak mas, tidak pernah sekalipun kamu bertanya bagaimana keadaan putri mu."
"Itu masa lalu, saat itu aku khilaf. Sekarang aku sudah sadar dan berubah, makanya aku minta kita rujuk lagi, jadi kau bisa fokus mengurus Sasha dan biarkan aku yang menjaga toko."
"Hahaha... kamu lucu sekali mas. Saat kau banyak uang, kau meremehkan ku dan menertawakan ku. Kau bilang aku tidak akan bisa hidup tanpamu. Sekarang apa? Siapa yang sekarang mengemis minta rujuk setelah dia bangkrut tertipu gundiknya."
Aku tidak berani masuk, hanya bisa mendengar pertengkaran mereka dari luar. Laki-laki itu sepertinya adalah mantan suami Tante Jelita. Bagaimanapun dia adalah ayahnya Sasha, mau sampai kapanpun mereka akan tetap terhubung satu sama lain.
"Kau jangan kurang ajar Lita. Kau bisa seperti ini juga karena harta dariku. Kalau tidak bagaimana bisa kau membuka toko."
"Uang itu hak ku, mas. Harta yang mas dapatkan setelah kita menikah adalah harta gono-gini, aku yang sudah menemani mu dari nol mas. Tapi setelah kau sukses malah mengkhianati ku." "Cukup mas, kita sudah tidak ada hubungan apapun selain karena Sasha. Kau tidak berhak mengatur ku apalagi mencampuri urusanku. Jika hanya menyangkut anak baru kau boleh datang padaku."
"Apa kau bangga jadi janda sekarang, beraninya sombong di depanku. Apa kau tau apa kata orang-orang. Kau itu cuma janda gatel yang suka menggoda suami orang."
__ADS_1
PLAK!!
"Cukup mas!! Kau tidak berhak menilaiku, orang-orang tau apa tentang ku hah?? Apa mereka tau bagaimana sakitnya dikhianati dan harus berjuang mengurus anak sendiri."
"Kau berani menamparku, Lita!!"
Aku ikut tegang, pertengkaran mereka semakin menjadi. Aku segera berlari saat pria itu sudah mengangkat tangannya mau memukul Tante Jelita lagi.
Grep. Aku tepat waktu menghadang tangan besar itu sebelum sampai di pipi halus Tante Jelita.
"Siapa kau?! Sebaiknya jangan ikut campur urusan rumah tangga orang lain. Sebelum aku buat kau babak belur!" Ancamnya.
Heh.. aku tertawa sinis. Apa dia kira aku takut kalau hanya melawannya. Ku cengkeram kuat pergelangan tangannya, agar dia bisa merasakan sebesar apa kekuatanku.
"Rumah tangga siapa mas. Aku dan kamu sudah tidak punya hubungan apapun. Jadi kau yang seharusnya tidak menggangguku lagi."
Aku semakin tersenyum lebar saat Tante Jelita memojokkan laki-laki itu.
__ADS_1
"Kau!!" Dia melotot sambil berusaha melepaskan tangannya yang aku rasa telah kesakitan.
"Jangan berani-berani lagi menyakiti ataupun menyentuh Tante Jelita sedikitpun!! Atau aku akan mematahkan tanpa anda!!" ancamku sambil menghempaskan tangannya dengan kasar.
Laki-laki itu terlihat sangat marah tapi tidak berani berbuat apa-apa lagi setelah merasakan bagaimana kuatnya aku.
"Kalian akan menyesal karena sudah berani padaku! Terutama kau Lita. Aku pastikan kalau kau akan kembali padaku." Dia menunjuk ke arah Tante. "Dan kau!! Tunggu saja pembalasan ku!" Kini ke arahku.
"Kenapa harus menunggu, sekarang saja kalau anda berani. Pukul aku kalau bisa. jangan mengandalkan orang lain kalau tidak mau disebut banc ini!"
Laki-laki itu menggeram kesal, tangannya menggenggam erat. Pasti dia ingin memukulku tapi nyalinya hanya seujung kuku. Bagaimana bisa Tante Jelita punya suami seperti ini.
"Awas kalian!!" Sambil berlalu pergi.
"Hai... mau kemana Anda. Urusan kita belum selesai." Aku ingin sekali maju menyusul nya.
"Jangan di kejar mas, ini di rumah sakit. Tidak baik kalau sampai ada keributan. Tante juga tidak mau mas Haris terluka." Tante Jelita mencegah ku pergi, dia bergelayut di lenganku.
__ADS_1