Ketulusan Hati Jelita

Ketulusan Hati Jelita
Bab 64. Tante Jelita dalam Bahaya


__ADS_3

Aku langkahkan kakiku ke dalam toko itu, kuhentakkan kakiku sekeras mungkin sampai pada karyawan dan pembeli pun menoleh padaku. Rasa malu yang tadinya sempat menghinggapi ku kini telah sirna digantikan oleh rasa cemburu yang membuncah di dada ini.


Awas saja kalau pria itu berani menyentuh Tante Jelita barang sedikitpun. Akan aku patahkan tangannya. Begitu masuk aku langsung menghampiri meja kasir dimana karyawan nya yang terlihat tidak begitu sibuk.


"Dimana bos mu? cepat katakan kalau Haris sudah datang." Aku sama sekali sudah tidak bisa tersenyum ramah seperti tadi. Kasir yang seorang gadis itu saja sampai sedikit takut melihatku.


"Anda siapa ya mas? Ada perlu apa sama Bu Lita. Kalau mau nawarin barang lebih baik sama saya saja."


Brak!! Aku sedikit menggebrak meja kasir hingga dua wanita yang ada di sana terlonjak kaget.


"Sudah aku bilang mau bertemu bos kalian, apa kalian tidak dengar!! Dan satu lagi aku bukan sales yang mau menawarkan barang tapi aku calon suami Tante Jelita."


Mereka sepertinya tidak percaya dengan apa yang aku katakan, kurang ajar sekali mereka malah menghalangi ku untuk bertemu dengan Tante Jelita. Apa mereka tidak tau kalau aku sedang marah.


"Ta--tapi mas,.. Bu Lita tidak pernah mengatakan apapun dan lagi seperti nya dia mau rujuk dengan mantan suaminya."

__ADS_1


"Shhittt!! Kenapa kalian semua berani sekali mengatakan itu. Cepat katakan dimana bos kalian," Sentakku semakin marah.


"Maaf mas, anda tidak bisa kesana. Bu Lita sedang bersama pak ..., katanya tadi tidak boleh diganggu sebelum keluar."


Aku melotot tajam pada dua wanita itu. Kalau saja tidak ingin membuat para pembeli takut aku pasti sudah memberikan mereka pelajaran. "Baik, kalau kalian tidak mau memberitahu. Aku akan mencarinya sendiri."


Aku langsung masuk ke dalam tanpa peduli dengan beberapa karyawan yang menghadang ku. Heran kenapa karyawan Tante Jelita melarangku untuk masuk padahal sudah ku mengatakan kalau aku ini calon suami bos mereka.


"Jangan mas, nanti kamu bisa di pecat."


Aku tidak peduli, mau mereka menghalangi juga tidak akan bisa. Tenaga mereka tidak ada apa-apanya. "Minggir kalian kalau nggak mau celaka!!" Kudorong tubuh mereka yang menghalangi jalanku.


Jalan satu-satunya hanya bisa memanggil namanya, entah kenapa aku punya firasat buruk. Maka dari itu aku harus segera menemukan Tante Jelita. "Tante ... aku sudah datang Tan... " Aku terus menyusuri lorong yang cukup panjang itu. Sambil terus memanggil-manggil.


"Mas Haris... Tolong..."

__ADS_1


Aku menghentikan langkahku saat mendengar suara seseorang. Apa mungkin itu Tante Jelita, tapi kenapa seperti meminta tolong. "Tante... Tante dimana?"


"Emmmm... mmm... mas..." Tidak salah lagi itu pasti suara Tante, ada di ruangan yang berada diujung sepertinya. Aku harus segera melihatnya.


Aku berlari ke arah suara, diikuti beberapa karyawan yang masih berusaha membujuk ku. Ini dia ruangan nya... Aku segera menggedor pintu ruangan itu dengan keras. "Tan buka Tan, apa Tante baik-baik saja di dalam?" tanyaku, "Tante..."


"Mas... aaww...!"


Aku panik saat mendengar suara pukulan dan suara kesakitan Tante Jelita. Kucoba buka pintunya tapi terkunci.


"Heh cepat buka pintu ini!" perintah ku pada karyawan toko. Tapi mereka bergeming dan malah menunduk. "Tunggu apa lagi, bukankah kalian juga dengar kalau bos kalian itu butuh pertolongan haa!!"


"Bu bos sedang bersama mantan suaminya jadi masnya tidak perlu khawatir. Beliau juga berpesan agar tidak ada satupun yang mengganggu. Lebih baik mas ini pergi saja."


Sungguh aku sudah kehilangan kesabaran kali ini. Tanganku yang sudah mengepal sudah sangat ingin menghantam orang. Tepat didepan wajah pemuda itu aku berhenti, kalau tidak pasti wajahnya sudah terkena bogeman ku ini.

__ADS_1


"Kalau sampai Tante Jelita kenapa-napa aku tidak akan memaafkan kalian semua." Ku hempasan tubuhnya yang kurus hingga terjengkang ke belakang.


Aku sudah bersiap, kakiku sudah memasang kuda-kuda. Di depan pintu ruangan itu. Suara teriakkan dan benda-benda yang berjatuhan menandakan kalau Tante Jelita sedang tidak baik-baik saja. Aku harus segera menyelamatkan Tante Jelita.


__ADS_2