
Aku mengantarkan Tante Jelita dan juga dek Sasha ke rumah sakit terdekat. Ibuku tidak ikut karena aku lihat wajahnya begitu kelelahan, mungkin karena begadang tadi malam. Aku tak tega kalau melihatnya kelelahan, jadi aku suruh ibu istirahat saja di rumah. Awalnya ibu tidak mau tapi aku bilang kalau nanti sore aku akan membawanya untuk melihat keadaan dek Sasha.
Sampai di rumah sakit bayi itu masih terus menangis kencang, sampai kulihat Tante Jelita di buat bingung oleh anaknya sendiri. Beruntungnya dokter segera datang untuk memeriksa.
"Pak, Bu. Tolong dibantu pegang ya." Pinta dokter anak itu yang sedikit kewalahan memegang Sasha.
Aku dan Tante Jelita pun langsung membantu memegang tangan dan kaki Sasha yang terus berontak saat dokter akan menancapkan jarum infus. Aku melihat Tante Jelita memalingkan wajahnya, sepertinya dia tidak tega melihat anaknya kesakitan.
"Tan, biar aku saja yang pegang," ujarku. Tante Jelita yang paham pun langsung melepaskan tangannya dan sedikit menjauh.
"Oek oek oek... !!" tanya bayi itu melengking hingga memekikkan telinga. Beruntung Tante Jelita adalah pasien VVIP jadi tidak ada dokter ataupun perawat yang berani menegurnya. Kecuali pasien lain yang ada di UGD yang terlihat tidak suka.
"Maaf ibu, bapak... putri saya baru saja di infus jadi nangis kenceng begitu."
__ADS_1
Tak kusangka Tante Jelita sangat ramah dan tidak sombong, meski anaknya pasien VVIP dan sudah membayar mahal tapi dia tetap mau meminta maaf pada yang lain.
Di UGD pun mendadak gaduh, karena Tante Jelita rupanya memberikan kompensasi pada para pasien yang hari itu terganggu berupa uang untuk membayar satu hari mereka menginap di rumah sakit. Ya karena setelah itu Sasha akan di pindah ke ruangan VVIP jadi disana hanya sebentar saja.
Orang-orang yang tadi menatap tidak suka, sekarang justru berbondong-bondong untuk menyalami Tante Jelita. Aku menghela nafas ke udara, memang dimana-mana uang itu lebih berkuasa. Pantas saja Tante Jelita tidak mau dengan ku yang kere ini.
"Jadi bagaimana keadaan putri saya Dok?" tanya Tante Jelita pada dokter yang memeriksa putrinya tadi.
"Sepertinya pencernaan nya bermasalah Bu, apa pupnya lancar? Atau diare?"
"Tidak apa-apa Bu, untung saja cepat-cepat di bawa kesini. Apa ibunya sedang sakit atau banyak pikiran, kondisi tubuh ibu juga bisa mempengaruhi kualitas ASI yang bisa membuat putri ada bermasalah pada pencernaan nya."
"Bisa begitu dok? Ya ampun berarti aku sendiri yang sudah mencelakai putri ku."
__ADS_1
Kasihan sekali Tante Jelita, dia sangat merasa bersalah pada putrinya. Padahal aku yakin kalau sebagai ibu dia sudah memberikan yang terbaik untuk putrinya.
"Tan, yang sabar ya. Dek Sasha pasti sembuh sebentar lagi," ujarku menenangkan wanita yang saat ini sedang memandangi putrinya yang terlelap.
"Mas Haris, apa menurut mas Haris. Tante ini bukan ibu yang baik?" tanyanya dengan mata berkaca-kaca.
"Tidak seperti itu Tan, Tante tidak sengaja melakukan nya dan Tante juga tidak tau kalau hal itu bisa mempengaruhi dek Sasha. Tante itu wanita yang hebat, kuat dan tangguh. Dek Sasha tidak akan menyalahkan Tante, justru dia bangga punya ibu seperti Tante Jelita."
Aku mengusap punggung Tante Jelita, aku berdiri disisinya yang duduk sambil memegangi tangan putrinya.
"Terimakasih ya mas, kalau tidak ada mas Haris dan Bu Wanti. Tante tidak tau harus bagaimana menghadapi ini." Tante Jelita memeluk pinggang ku dan menumpahkan tangisnya lagi seperti tadi pagi. Aku membiarkan nya.
Aku baru saja mencari makan untuk sarapan aku dan Tante Jelita. Aku yang tadi baru bangun tidur tentu saja belum sempat makan dan Tante Jelita juga pasti sama. Aku bawa dua bungkus nasi Padang dan dua teh hangat yang dibungkus dalam gelas plastik. Semoga saja Tante Jelita mau makanan seperti ini. Aku tidak tau seperti apa seleranya.
__ADS_1
Sampai di depan ruangan, aku melihat pintu sedikit terbuka. Aku pun mengintip sedikit karena aku mendengar suara orang lain selain suara Tante Jelita di dalam sana.
PLAK!!