Ketulusan Hati Jelita

Ketulusan Hati Jelita
Bab 53. Bertemu Mantan Ipar menyebalkan


__ADS_3

Kami makan siang dengan bersenda gurau dan sesekali tentunya tanganku tidak menganggur. Bagian atas bawah dan belakang Tante Jelita jadi sasaran empuk untukku karena kini kami duduk bersebelahan.


Adanya pagar pembatas memudahkan ku berselancar. Tanpa harus takut ketahuan pengunjung lain. Yang penting bib-ir tidak bersentuhan karena bisa terlihat, cukup tangan saja yang saling membelai.


Aku dan Tante Jelita suka sekali sensasi bermesraan di tengah keramaian. Rasanya beda jika hanya berdua. Bisa saja kita ke hotel atau sejenis penginapan tapi kalau di sana tentu tidak ada rasa berdebar-debar takut ketahuannya.


Tante Jelita menggunakan atasan crop top dan rok pendek di atas lutut tentunya. Tanganku kemana-mana melihat itu tapi juga was-was takut ada yang lihat. Kalau begini aku jadi pengen yang lain.


"Mas Haris, apa sebaiknya kita pindah tempat saja," bisik Tante Jelita dengan suara manja.


"Kalau pindah, aku tidak nggak tahan Tan."


"Tenang saja, nanti gantian mas Haris ya."


Seketika otakku mulai berselancar kemana-mana. Benarkah apa yang aku dengar tadi, apa Tante Jelita mau memberikan ku pelayanan kesehatan jasmani. Selama ini aku yang selalu membuat Tante Jelita melayang, aku tidak berani meminta Tante Jelita untuk sebaliknya. Bagaimanapun aku menghormatinya, terlalu tidak sopan kalau aku minta lebih.

__ADS_1


"Mas... mas Haris? Kenapa? Apa mas Haris nggak mau?" tanya Tante Jelita.


"Ma--mau Tan, tapi aku nggak mau membantu Tante melayani ku."


"Kenapa mas? Apa Tante nggak boleh membuat mas Haris puas juga. Rasanya nggak adil kalau hanya Tante yang puas. mas Haris juga harus merasakan hal yang sama. Tenang saja mas, Tante tau kalau mas Haris nggak ingin melakukan itu sebelum menikah. Jadi Tante akan menggunakan cara lain seperti apa yang mas Haris lakukan pada Tante."


Cara lain, ya tentu aku tau apa itu karena aku sering melihatnya. Di sana ada banyak sekali contohnya. Berbagai gaya juga banyak. Aku tinggal praktek saat waktu nya tiba nanti.


Akupun setuju, kami membereskan barang-barang kami jangan sampai ada yang tertinggal termasuk barang berharga. Setelah itu aku ke kasir untuk membayar makanan yang sudah kami makan, meski Tante Jelita banyak uang dan bisa membayar tapi aku tidak akan membiarkan hal itu terjadi selama aku masih punya uang.


Kami berjalan bergandengan tangan menuju ke parkiran. Tidak takut ada kenalan yang melihat, karena kami sebenarnya sudah tidak ingin menutupi hubungan kami ini.


Seseorang memanggil nama Tante Jelita, kami pun menoleh bersamaan. Orang-orang memang lebih suka memanggil nya Lita, tapi aku tidak. Namanya sudah sangat bagus, Jelita yang artinya sangat cantik jadi tidak perlu di potong lagi.


"Luna? Kau disini juga?" ujar Tante Jelita pada seorang gadis itu. Sepertinya mereka memang saling kenal.

__ADS_1


"Kak Lita, ini siapa? Apa ini pacar kakak?" tanyanya sambil menatap ku tajam, aneh padahal aku tidak melakukan apapun.


"I--iya ini pacarku," jawab Tante Jelita yang membuat ku senang karena dia barusan mengakui hubungan kami.


"Kak Lita nggak lihat dia masih sangat muda. Apa pantas kakak pacaran dengan brondong seperti ini, apa dia bisa jadi ayah yang baik untuk keponakan ku? Dia masih sangat muda, mana mungkin serius sama kak Lita. Lebih baik kak Lita itu kembali pada kakakku, yang jelas bisa menghidupi kakak dan Sasha," cecar perempuan itu begitu tidak enak di dengar olehku.


Dia barusan meremehkan ku karena usiaku yang masih muda, lalu dia bilang aku tidak bisa menghidupi Tante Jelita dan Sasha. Kalau tidak ingat dia seorang wanita pasti sudah aku hajar saat ini juga.


"Bukan urusan mu, Luna. Kakak mau pacaran sama siapa, nggak ada yang berhak melarang ataupun mengurusi. Aku kira kamu memanggil kakak untuk bertanya bagaimana keadaan Sasha keponakan kamu. Tapi nyatanya kalian masih sama, tidak peduli dengan ku dan Sasha. Hanya mementingkan diri sendiri dan selalu membanggakan kakakmu."


"Aku hanya mengingatkan kak. Kalau kakak nggak mau denger ya sudah. Nanti aku bilang kak Bagus saja biar dia jemput Sasha, dari pada sama kak Lita ditinggal pacaran terus."


"Jangan harap, aku nggak akan pernah melepaskan Sasha. Kalian saja nggak pernah menanyakan keadaan Sasha lalu sekarang mau mengambilnya. Hal itu nggak akan aku biarin ."


Tante Jelita menahan emosi nya. Aku tau kalau menyangkut anak seorang ibu pasti sangat sensitif perasaannya.

__ADS_1


"Hahaha... kak Bagus bisa melakukan apa saja yang dia inginkan. Makanya jangan sok jual mahal pada kakakku. Dari pada terus-terusan menjada banyak dicibir orang. Lebih baik rujuk sama kakakku. Lalu kalian bisa mengurus toko sembako itu bersama. Jadi kak Lita bisa di rumah menjaga anak."


"Hahaha... jangan ngimpi. Sampai kapanpun aku nggak mungkin rujuk sama kakakmu itu. Lebih baik suruh dia menikahi selingkuhan nya dan bangun bisnis baru bersama istri barunya. Coba mana ada wanita yang seperti ku menemaninya dari nol tapi apa yang aku dapatkan, hanya pengkhianatan." "Aku nggak akan melupakan kejadian itu."


__ADS_2