
Beberapa hari aku dan Tante Jelita bekerja keras untuk menemukan apapun yang bisa membuat ibu mengurungkan niatnya. Tapi nihil, kami tidak menemukan apapun. Keluarga Bu Yuli sangat terkenal akan kebaikannya di lingkungan sekitar, jadilah para tetangga hanya tau hal baik-baik saja. Tidak ada yang aneh dan mencurigakan sama sekali. Hanya saja kalau mengenai anggota keluarga memang mereka agak sedikit tertutup.
Kami pun sudah mencari tau ke pondok pesantren tempat Ratna dan kakak-kakaknya menuntut ilmu. Di sana sama, tidak ada apapun yang kami dapat. Para pengajar serta santri malah menyanjung Ratna.
Aku dan Tante Jelita hampir putus asa. Apa mungkin kami memang tidak berjodoh, apakah mungkin jika jodohku itu adalah Ratna.
Drrtt. Satu pesan masuk dari Tante Jelita. Aku segera membukanya.
{"Mas, tadi Tante tidak sengaja melihat di sosmed. Kebetulan temen Tante yang posting foto, dengan caption 'cewek-cewek cantik semoga kita bisa kumpul lagi, kangen kalian bestie' Apa mas Haris tau fotonya seperti apa, ada lima perempuan menggunakan pakaian minim, tank top dan hotpants. Dan salah satunya mirip sekali dengan anaknya Bu Yuli."}
Aku cukup terkejut membaca pesan dari Tante Jelita. Mana mungkin anaknya Bu Yuli memakai pakaian seperti itu. Dia jelas anaknya pak Darmin yang sering dipanggil ustadz dan sering mengisi ceramah di masjid. Si Ratna juga sekolah di pondok pesantren, apa mungkin dia berani berpakaian seperti itu.
Drrtt, ponselku kembali berbunyi. Tante Jelita kembali mengirim pesan.
{"Ini mas fotonya, kamu lihat sendiri.}
{foto}
__ADS_1
Aku membulatkan mata, benar sangat mirip. Meski biasanya Ratna selalu menggunakan kerudung dan gamis tapi saat menggunakan pakaian terbuka seperti ini aku masih mengenalinya. Aku mulai berpikir, apa mungkin semua ini adalah sebuah petunjuk. Tapi kalau hanya foto ini untuk apa, dia masih bisa berdalih.
{"Lalu bagaimana selanjutnya Tan? Apa foto itu bisa jadi petunjuk?"} Aku membalas pesan.
{"Mas Haris nggak usah cemas, salah satu orang di foto itu adalah teman nongkrong Tante juga. Tante akan coba bertanya padanya dan mencari informasi.}
{"Baiklah Tan, kalau Tante butuh bantuan hubungi aku."}
{"Siap mas, eemmuuaaccchhh. emoticon malu-malu."}
Semoga saja Tante Jelita bisa menemukan sesuatu. Dia pasti tidak mungkin rela melepaskan ku kan. Aku juga sama tidak bisa melepaskan Tante Jelita.
Malamnya. Seperti biasa aku dan ibu makan malam bersama kalau aku di rumah. Kami duduk berhadapan, ibu dengan telaten mengambilkan aku makanan barulah dia makan sendiri.
"Ris, ibu sama Bu Yuli sudah sepakat kalau kamu dan Ratna akan menikah secepatnya."
"Uhhukk... uhhukk...!!" Aku hampir saja tersedak mendengar perkataan ibu. "Bu...!! Kenapa ibu lagi-lagi mengambil keputusan tanpa bertanya dulu padaku. Yang mau menikah itu aku Bu, yang mau menjalani juga aku. Tapi kenapa ibu sama sekali nggak nanya sama aku." Aku frustasi dibuatnya. Kemarin tiba-tiba saja menjodohkan sekarang mendadak menikah.
__ADS_1
"Ris, bukannya kamu sendiri yang bilang terserah ibu saja. Ya sudah ibu sudah memutuskan, kamu nikah secepatnya biar ibu lega."
"Bu... ibu itu belum si Ratna itu seperti apa. Aku juga nggak sreg sama dia. Apa ibu mau memaksakan kehendak ibu? Apa ibu nggak mikirin kebahagiaan ku?" tanya ku. Entah hati ibu sudah tertutup apa sampai tidak berpikir dulu sebelum memutuskan.
"Apa kurangnya Ratna nak? Dia baik, Sholehah, rajin, baik juga sama ibu. Keluarga nya juga jelas baik-baik," kata ibuku. Sepertinya dia terobsesi mempunyai mantu anaknya pak ustadz.
Aku berdiri dan berjalan memutar meja menghampiri ibu. Seperti biasa aku akan bersimpuh dibawahnya. Meletakkan kepala ku pada pangkuan ibu.
"Bu... Haris minta waktu lagi untuk memantapkan hati Haris. Ibu setuju kan? Ibu juga sebaiknya lebih kenal dengan keluarga Bu Yuli, bukannya sebelum jadi besan ibu juga perlu menjalin hubungan yang baik."
Selama ini Bu Yuli yang selalu datang ke sini, ibuku tidak pernah ke rumahnya selain waktu memasak waktu itu. Sedangkan si Ratna malah tidak pernah menemui ibu. Kata Bu Yuli tidak baik kalau belum mukhrimnya, trus sering datang.
"Seminggu lagi Ris, rencananya seminggu lagi kalian akan menikah. Tidak perlu pesta mewah, yang penting kalian resmi menjadi suami istri."
"Mana mungkin Bu Yuli mau seperti itu Bu, Nikahan anak-anak yang lain saja sangat mewah dan di adakan di gedung pernikahan. Masa iya, pernikahan putri bungsunya satu-satunya biasa-biasa saja." Benar dugaan aku dan Tante Jelita, sepertinya ada yang aneh dan ada yang disembunyikan oleh keluarga Bu Yuli. Aku harus mengulur waktu sampai kami mendapatkan bukti.
"Ibu sudah terlanjur setuju Ris. Seminggu lagi kalian menikah, nggak perlu mikirin apa-apa. Semuanya Bu Yuli yang menyiapkan, ijab Kabul nya nanti di rumah saja."
__ADS_1