Ketulusan Hati Jelita

Ketulusan Hati Jelita
Bab 38. Tante Jelita sudah tau


__ADS_3

Tadi pagi Tante Jelita mengirim pesan padaku. Meminta ketemuan di luar katanya. Memang beberapa hari ini kami sudah sangat jarang bertemu, selain karena ibu, faktor lingkungan juga tidak mendukung. Kami tidak leluasa untuk bertemu, hanya bisa saling pandang dari jauh. Pastilah rasanya berbeda dengan bertemu dari dekat.


Aku sudah bersiap-siap, dengan pakaian yang terbaik, memakai minyak rambut dan minyak wangi. Pokoknya aku harus tampil sempurna dihadapan Tante Jelita, aku tidak ingin mempermalukan Tante Jelita dihadapan teman-temannya. Karena kenalannya pasti banyak dan ada dimana-mana.


Setelah bersiap, aku tidak langsung pergi. Lebih tepatnya aku menunggu Tante Jelita pergi lebih dulu. Aku mengintip dari jendela kamarku yang memang menghadap ke depan. Kalau mengintip dari luar, ada ibu yang pasti bertanya macam-macam.


"Itu dia mobilnya sudah keluar, aku tidak sabar berduaan dengan Tante Jelita ku. Aku sangat merindukan nya."


Aku tersenyum sendiri membayangkan bagaimana kalau sedang berduaan dengan Tante Jelita. Seperti kelopak bunga bertaburan, sangat indah.


Aku tidak akan membuang waktu lagi, bergegas aku mencari kunci motor ku lalu tas yang biasa ku bawa. Kali ini berisi seragamku, agar aku bisa langsung berangkat ke pabrik.


"Mau kemana Ris?" tanya ibu begitu melihatku keluar dari kamar. Aah ibu, dulu saja kau tidak pernah banyak bertanya dengan urusanku. Kenapa sekarang jadi posesif begini.


"Mau ada perlu sebentar, sekalian berangkat kerja Bu." Aku pun pamit, menyambar tangan kanan ibuku lalu menciumnya takzim.


"Kenapa rapi dan wangi sekali?" tanya ibuku menatap ku curiga.


"Iya lah Bu, masa iya aku pergi kucel terus berantakan. Nanti bagaimana ada gadis yang mau melirik," kataku asal.

__ADS_1


"Ya nggak perlu, Ris. Orang kamu sudah punya calon, jadi nggak perlu itu gadis lirik-lirik kamu."


Ibu mulai lagi, sepertinya dia sangat berharap aku jadi menikah dengan anaknya Bu Yuli. Kalau begini aku jadi makin susah buat menolaknya. Aku harus cari alasan yang tepat.


"Itukan belum pasti Bu, jodoh nggak ada yang tau. Bisa saja jodohku ketemu di jalan nanti. Aku juga belum terlalu klop sama si Ratna, sepertinya ada yang aneh dengan dia Bu. Apa ibu nggak curiga?" Aku mengarang agar ibuku berpikir ulang untuk menjodohkan kami.


Sudah berusaha mencari tahu tentang kekurangan gadis itu tapi tidak menemukan apapun. Bertanya pada teman dan tetangga juga sudah, hasilnya semua orang malah memujinya.


"Aneh bagaimana? Yang aneh itu kamu, ada gadis cantik dan Sholehah seperti Ratna kok malah kebanyakan mikir." "Pokoknya ibu sudah sangat setuju kamu menikah sama Ratna. Nggak ada penolakan lagi. Ibumu ini sudah tua Ris. Ibu takut nggak punya waktu sampai bisa lihat cucu kalau kamu terlalu lama pilah pilih," ujar ibu dengan wajah sedihnya. Ibu memang paling tau kalau aku tidak mungkin berkata tidak kalau sudah melihat seperti itu. Bisa di bilang kalau ibuku adalah kelemahan Ku.


"Ibu jangan sedih lagi, kita serahkan saja semua nya sama yang di atas. Manusia hanya bisa merencanakan tapi takdir sudah ada yang menentukan."


Aku menekuk lutut ku di depan ibu. Ku raih tangannya dan aku cium berkali-kali. Paling tidak bisa melihat ibu sedih.


"Nggih, nggih Bu... aku ngerti." Lebih baik aku iyakan, masalah Ratna aku akan terus mengawasi nya.


Ku kendarai motorku lebih cepat. Karena drama ibu tadi, aku jadi terlambat menemui Tante Jelita. Dia sudah mengirim pesan beberapa kali, menanyakan keberadaan ku.


"Akhirnya ketemu juga." Ku tepikan motorku tepat di depan mobil yang berhenti di pinggir jalan.

__ADS_1


Aku sangat hapal itu mobil siapa, dari bentuk dan warnanya lalu plat nomor nya juga aku hapal.


"Maaf Tan, apa Tante sudah menunggu lama?" tanyaku merasa bersalah.


"Lumayan lama, Tante kira mas Haris nggak akan datang," ujar Tante Jelita, dia merajuk rupanya.


"Apa aku boleh masuk?" tanyaku. Tante Jelita tidak menyahut dan membuang pandangannya ke arah lain. Aku harus segera membujuk nya.


Aku pun mencoba membuka pintu mobil itu dan ternyata tidak terkunci. Aku langsung duduk di sebelah Tante Jelita, lalu menutup pintu.


"Apa Tante marah? Maaf sekali lagi Tan, aku nggak bermaksud membuat Tante menunggu. Tadi ibu bertanya dan--"


"Apa Bu Wanti melarang mas Haris pergi?" Tante Jelita memotong ucapanku.


"Dia hanya bertanya tapi nggak melarang."


"Wajar saja, mas Haris kan sudah punya calon istri jadi nggak bisa pergi bebas lagi."


Ucapan Tante Jelita membuat ku tercengang, apa Tante sudah tau tentang Ratna. Dari mana dia tau?

__ADS_1


"Nggak usah kaget begitu karena Tante sudah tau semuanya. Gosip itu sudah menyebar di kompleks rumah kita. Tante dengar sebentar lagi kalian akan menikah. Kalau begitu selamat, dia memang gadis yang cocok untuk mas Haris."


Deg.


__ADS_2