
Keluarga Bu Yuli sudah menuai apa yang mereka tanam. Anak kedua Bu Yuli yang rencananya akan melanjutkan kuliah di Kairo gagal, dia akhirnya menyerahkan diri ke kantor polisi karena tidak kuat menahan omongan tetangga.
Ratna pun akhirnya menikah dengan laki-laki itu yang tak lain adalah adik dari korban. Awalnya Bu Yuli tidak setuju karena takut dia akan membalas apa yang sudah mereka lakukan pada putrinya. Tapi laki-laki itu berkata kalau dia benar-benar mencintai Ratna dan akan memperlakukan Ratna dengan baik. Dia sudah bertobat dan tidak ingin kembali ke dalam bui. Baginya apa bedanya dirinya dengan keluarga Bu Yuli kalau dia melakukan hal yang sama.
Aku lega karena pada akhirnya semua nya berjalan pada tempat yang seharusnya. Sementara sekarang pada tetangga sudah tidak lagi segan pada pak Darmin ataupun Bu Yuli. Mereka lebih memilih menghindar kalau ada Bu Yuli atau suaminya. Itulah akibatnya kalau menzolimi orang yang tidak bersalah.
Sedangkan ibuku sangat menyesal karena sudah memaksa ku menikah dengan Ratna. Dia terus meminta maaf dan berjanji tidak akan memaksa atau menjodohkan ku dengan wanita manapun. Ibu membiarkan ku mencari wanita yang aku sukai.
"Ibu aku pergi dulu," pamitku pada ibu.
"Iya Ris, hati-hati."
Aku senang ibu sudah kembali seperti semula, tidak menanyaiku dengan banyak pertanyaan lagi.
Aku bersiul sepanjang jalan, senang karena pada akhirnya aku yang menang. Tanpa aku bersusah payah pun kebenaran datang dan benar juga dugaan ku kalau Ratna itu bukan jodohku.
Hari ini terasa sangat indah buatku, beban di pundak ini baru saja lepas satu persatu. Tinggal masalah di pabrik yang aku belum punya solusinya, tapi selama aku bisa terus menghindar aku akan aman. Tidak setiap hari harus melayani bu bos yang gilaa itu. Ah aku sangat berharap kalau wanita itu juga mendapatkan balasannya.
__ADS_1
Yang membuat ku senang hari ini salah satunya juga karena aku akan bertemu dengan Tante Jelita. Setelah kurang lebih satu Minggu kami tidak bisa bertemu akhirnya aku punya kesempatan juga. Bertemu dengan Tante Jelita bisa membuat ku sejenak melupakan masalah yang masih ada.
I am coming baby...
Ku percepat laju motorku sambil bersenandung. Melewati jalan pesawahan dan perkebunan yang menjadi jalan masuk komplek rumah ku. Kalau siang begini tentu jalanan ramai, banyak petani yang sedang bekerja di sawah dan ladang mereka. Berbeda kalau malam, yang rawan begal. Untunglah setelah kejadian yang menimpa Fitri waktu itu, sudah tidak ada lagi yang menjadi korban begal.
Tin tin tin... Sepanjang jalan aku bunyikan klakson untuk menyapa warga yang aku kenal. Mereka pun melambaikan tangan padaku sambil tersenyum. Warga sekitar memang ramah dan sopan, meski terkadang julid sedikit. Tapi aku salut karena warga disini sangat kompak dan solid, kalau ada yang kesusahan tidak segan membantu dan bergotong royong.
Tidak terasa aku sudah sampai di depan sebuah restoran tempat aku dan Tante Jelita janjian. Aku lihat diparkiran ternyata mobil Tante Jelita sudah ada si sana. Segera aku lepas helm SNI yang aku pakai, lalu tak lupa berkaca sebentar pada kaca spion, merapikan rambut yang sedikit lepek karena memakai helm.
"Tante Jelita, aku datang," gumamku sambil tersenyum sendiri.
Di sana rupanya, wanita yang sangat cantik sedang duduk sendirian. Sangat mencolok dan menjadi pusat perhatian sekitar termasuk laki-laki. Aku dengan bangga berjalan ke arahnya, wanita yang dikagumi banyak pria berhasil aku taklukan.
"Tante sudah lama?" tanyaku.
"Mas Haris, duduk mas." Dia terkejut rupanya tapi kemudian dia tersenyum manis menyambut kedatangan ku.
__ADS_1
Ya ampun, lama sekali aku tidak melihat senyumnya yang sangat menawan dari dekat.
Aku duduk di depan Tante Jelita, kami duduk di meja yang ada di gazebo dengan pembatasan setengah badan di pinggirannya. Tempatnya cukup nyaman dan tidak terlalu terbuka. Lumayan aman kalau mau colak-colek sedikit.
"Mas Haris mau pesan apa? Tante juga belum pesan," tanya Tante Jelita.
"Apa saja Tan, apa saja bisa masuk," kataku yang memang tidak terlalu pemilih tapi kalau boleh memilih aku lebih suka masakan ibu ataupun masakan Tante Jelita dibandingkan masakan di restoran-restoran seperti itu.
"Mas Haris bisa saja, kalau aku pesan lalapan doang untuk mas Haris bagaimana?"
"Nggak apa-apa, asalkan makan nya sama Tante apasaja enak. Lalapan sama sambal juga enak." Aku keluarkan gombalan recehku, meski sedikit kentang tapi itu tulus dari lubuk hatiku.
Tante Jelita merona, sangat imut seperti gadis SMA. Cup. Tentu saja aku tidak menyia-nyiakan kesempatan selagi dekat. Aku cium pipinya yang merah karena malu.
"Mas Haris nakaall..."
"Tapi Tante suka kan... "
__ADS_1
"Tante sukanya yang lebih mas..." bisiknya dengan suara mendayu-dayu. Membuat diriku ini langsung on.