Ketulusan Hati Jelita

Ketulusan Hati Jelita
Bab 6. Mengalahkan Begal


__ADS_3

Aku menyeka sudut bibirku yang sedikit mengeluarkan darah, rasanya sakit dan perih sepertinya bibirku sedikit robek karena terkena pukulan bedebah itu. Tap ini tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan keadaan kedua orang itu yang saat ini terkapar di atas aspal jalanan. Tentu saja itu berbuatanku, hanya dua orang yang taunya asal pukul mana bisa mengalahkan aku yang tau teknik bela diri.


"Maju lagi sini kalau kalian masih mau menerima pukulanku, cuiihh!! Dasar sampah! Sudah tua bukannya banyak ibadah malah banyak berbuat salah, apa kalian tidak takut disiksa saat sudah meninggal nanti." Aku berkacak pinggang sambil berceramah, ya siapa tua setelah ini mareka tobat.


"Dasar bocar kurang ajar! Beraninya mukulin orang tua!"


Aku melotot mendengarnya, sekarang saja kalian baru ingat umur.


"Justru karena kalian orang tua makanya aku nggak langsung menghabisi kalian."


"Kami tidak mengganggumu dan tidak berbuat jahat padamu, kenapa kamu harus repot-repot menghajar kami. Seharusnya kalau kau ingin bergabung dan menikmati tubuh gadis itu bilang saja, pasti kami ijinkan tapi kamu terakhir biar kami duluan." Rupanya mereka masih punya tenaga untuk tertawa dan masih berpikir kotor padahal tubuh mereka sudah babak belur seperti itu, sepertinya aku masih terlalu baik pada mereka.


"Kalian pasti juga punya ibu, istri dan anak perempuan kan? Bagaimana kalau keluarga kalian yang mengalami hal itu. Aku yakin ini bukan pertama kalinya kan kalian berbuat seperti ini?" Aku masih berusaha menahan diri dan menyadarkan mereka.


"Hahaha... anak dan istri kami juga makan dari hasil kejahatan kita. Mereka tidak peduli kami dapat uang dari mana yang penting bisa makan dan belanja." Mereka tertawa lagi, sama sekali tidak menyesali perbuatannya, kalau sudah begini aku tidak bisa mengasihanni mereka lagi.


Aku tidak tau hukum karma itu masih ada atau tidak tapi satu peribahasa yang mengatakan 'Apa yang kau tanam, itu yang akan kamu tuai.' Semoga saja kejadian serupa tidak terjadi pada keluarga dua bedebah itu. Tapi kalau ternyata keluarga mereka juga mendukung atau masa bodoh dengan perbuatan mereka, huh sudah lah biar tuhan saja yang membalasnya.


Kedua tangan penjahat itu sudah aku ikat dengan borgol besi yang selalu aku bawa kemana-mana saat aku menggunakan seragam scurity ku. Ada juga pentungan yang menggantung di cantelan motor, sayangnya tadi aku lupa menggunakannya, jadilah tanganku sedikit luka bekas melayangkan tinjuan pada mereka.


"Mbak tidak apa-apa mbak?" tanyaku pada wanita yang meringkuk di balik pohon besar yang ada di sisi jalan, padahal aku sudah menyuruhnya pergi tapi malah bersembunyi di sana.

__ADS_1


"Hiks hiks... aku takut mas... mereka tadi mau memperko--" ujarnya sampai tidak bisa berkata-kata, pastilah dia ketakutan.


"Sekarang sudah aman mbak, mereka sudah tidak bisa berbuat jahat lagi. Sebentar lagi polisi juga datang untuk membawa mereka," kataku mencoba menenangkan.


"Hiks hiks hiks... huuaaa..." Ehh kenapa semakin keras tangisnya. Bagaimana ini, kalau ada yang lihat pasti mengira aku yang jahat. Aneh sekali wanita ini, sudah aman malah menangis. Aku memijit pelipisku, rasanya agak sedikit pusing karena pukulan orang itu ditambah suara tangisan yang memekikan telinga.


Tak lama kemudian, seperti kataku tadi kalau polisi akan datang karena sebelumnya aku sudah menelfon polisi. Kedua bedebah itu di gelandang masuk ke mobil polisi. Pak polisi juga bertanya sedikit pada wanita itu dan juga padaku. Aku meceritakan semuanya dari yang awalnya aku kabur lalu kembali lagi. Sedangkan wanita itu hanya menjawab sedikit pertanyaan, sepertinya dia masih syok karena kejadian tadi.


"Terimakasih mas Haris, berkat mas Haris kami bisa menangkat begal yang selama ini meresahkan para warga. Selama ini mereka sangat gesit, selalu bisa melarikan diri dari kejaran polisi. Sudah banyak korban yang melapor, kemungkinan hukuman mereka akan cukup berat." Pak polisi berterima kasih padaku dan bercerita kalau dua bedebah itu ternyata dpo.


"Sama-sama pak, aku tidak melakukan apapun. Apa yang aku lakukan hanya karena rasa kemanusiaan saja." Aku harus merendah dihadapan orang berpangkat, tidak baik kalau aku menyombongkan diri.


"Tidak usah pak, tidak apa-apa. Besok di pabrik juga aku bisa minta perlengkapan lagi," tolakku. aku tidak enak menerimanya. Borgolku hanya borgol murahan, masa di ganti punya bapak polisi yang pastinya mahal.


"Tidak apa-apa mas, diterima ya sebagai ucapan terimakasih kami."


"Kalau begitu terima kasih pak," kataku senang.


Mobil polisi yang membawa para penjahat itu sudah pergi, Sekarang tersisa aku dan wanita yang tadi tempat sepi itu. Padahal tadi bu polwan sudah menawarikan diri mau mengantar wanitu itu tapi dia malah menolaknya dan lebih memilih bersamaku. Apa dia tidak takut padaku, bagaimana pun aku laki-laki normal, kalau berduaan dengan wanita di tempat sepi seperti ini ya aku tidak janji bisa tahan diri. Untung saja tadi bu polwan memberikan jaketnya untuk wanita itu, jadilah tubuhnya yang terbuka tidak terlihat lagi olehku.


Meski bentuknya tak seindah tante Jelita sih.

__ADS_1


"Ya ampun Haris, kenapa kamu malah mikir yang enggak-enggak." Segera kuhempaskan pikiran kotorku.


"Kenapa mas?"


"Hahh... tidak apa-apa... hehehe," jawabku salah tingkah, kugaruk rambutku yang tidak gatal.


"Terimakasih atas kebaikan mas hari ini, aku tidak tau apa jadinya kalau mas tidak menolongku. Mungkin aku sudah jadi jasad dan dibuang entah kemana." Wanita itu menyeka sudut matanya, pasti dia mengingat hal buruk itu lagi.


"Sama-sama, nggak perlu berterima kasih begitu. Sudah kewajibanku membantu orang yang dalam kesulitan kalau memang mampu. Ini juga jadi pelajaran buat kamu, lain kali jangan keluar malam sendirian. Trus sebaiknya juga pakai pakaian yang agak tertutup biar nggak mengundang laki-laki hidung belang seperti tadi." Semoga saja dia tidak tersinggung dengan ucapanku, bagaimana mata laki-laki bisa tidak tergoda kalau melihat yang mulus-mulus. Lihat saja pakaiannya, rok pendek di atas lutut lalu kemeja yang ngepres di badan. Pantas saja tua bangka tadi tergoda padanya.


"Iya mas, lain kali akan aku ingat pesan mas...?" Sampai lupa kalau kami belum berkenalan.


"Namaku Haris."


"Iya, mas Haris aku akan mengingat pesanmu." Dia tersenyum, cantik juga tapi masih kalah dengan senyuman tante Jelitaku.


"Sebaiknya kita pulang? Dimana rumahmu biar aku akan mengawalmu dari belakang," ujarku, aku tidak setega itu membiarkannya pulang sendiri. Bagaimana kalau ada begal yang lainnya.


"Sebenarnya aku mau ke desa depan mas, mau ke rumah saudara." Wahh kebetulan sekali, aku jadi tidak perlu repot-repot balik arah.


"Kebetulan rumahku juga di depan. Kalau begitu kita pergi sekarang. Tidak baik kalau terlalu malam, aku akan mengikutimu dari belakang." Aku tidak menawarkannya untuk membonceng di motorku karena kulihat dia sama sekali tidak ada luka jadi masih bisa lahh membawa motor. Maaf saja, selama ini tidak ada satu wanita pun yang aku bonceng karena aku ingin wanita pertama yang aku bonceng adalah tante Jelita.

__ADS_1


__ADS_2