
POV Tante Jelita
Aku baru saja merasa tenang karena Sasha sudah kembali padaku dan mas Haris sudah berhasil melumpuhkan Bagus. Aku juga bangga pada mas Haris karena dia mampu menahan diri, tidak sampai membuat Bagus kehilangan nyawanya.
Mas Haris berjalan ke arahku saat dia sudah memastikan kalau Bagus tidak berdaya. Aku, Bu Wanti dan Sasha menyambutnya dengan gembira. Dia tersenyum pada kami bertiga. Meski wajahnya banyak terluka dan acak-acakan tapi mas Haris masih terlihat tampan.
"Mas Haris berhasil Bu," kataku pada Bu Wanti.
"Iya nak, setelah ini ibu harap tidak ada lagi yang mengusik kebahagiaan dan ketenangan kalian."
"Amin Bu ...."
Kami bertiga sudah siap menyambut mas Haris dengan pelukan. Tapi sayangnya semua itu tidak bertahan lama, di depan mata kepala ku sendiri aku melihat Bagus kembali bangun, aku kira dia sudah kapok dan sadar tapi siapa sangka kalau ditangannya ada pisau yang tadi sudah mas Haris buang. Pisau yang tadi sempat untuk mengancam Sasha.
__ADS_1
Mataku melebar saat Bagus mengangkat tangan kirinya yang memegang pisau, dan dia berjalan ke arah mas Haris.
"Matilah kau!!"
"Mas Haris! Awass!!"
Naasnya semuanya sudah terlambat karena Bagus sudah lebih dulu menancapkan pisau itu ke punggung mas Haris. Aku teriak histeris, ibu dan yang lainnya juga. Aku tidak peduli dengan bahaya, yang penting sekarang adalah menyelamatkan mas Haris dari pria gilaa itu.
"Mas Haris ... Bertahanlah, jangan tutup matamu mas." Panik, tentu saja. Aku langsung menangkup kepala mas Haris yang sudah tersungkur dengan bersimbah darah. Aku berusaha menyadarkannya agar tetap terjaga sampai bantuan datang. Tangis air mata dan jerit ketakutan menggema. Aku terus memeluk mas Haris tak peduli juga kalau tangan dan pakaian ku penuh darah.
"Iya mas, terimakasih ... terimakasih sudah menyelamatkan Sasha dan tolong bertahanlah ...," pintaku sambil menangis pilu melihat bagaimana orang yang kita cintai terluka.
"Jangan me--nangis, aku akan sedih kalau kalian menangis," ujar mas Haris padaku dan ibu yang sejak tadi bingung hanya bisa menangis.
__ADS_1
Kami sudah ada di rumah sakit. Terakhir tadi saat mas Haris di bawa ke rumah sakit sudah tidak sadarkan diri. Aku terus saja menangis dan merasa sangat bersalah terutama pada Bu Wanti. Karena dirinya dan Sasha lah mas Haris terluka seperti ini. Kalau bukan karena menyelamatkan kami, dia tidak mungkin terluka.
"Lita, ini kakak bawakan baju. Kau gantilah dulu," ujar kakakku menyuruhku mengganti pakaian karena memang pakaian yang aku pakai saat ini sudah berlumuran darah.
"Kak, mas Haris nggak akan kenapa-napa kan? Aku nggak akan memaafkan diriku sendiri kalau sampai terjadi apa-apa pada mas Haris."
"Tenanglah, dokter sedang berusaha menyelamatkan nya di dalam. Maaf ini semua karena kakak datang terlambat sehingga Bagus melukai kalian. Kakak nggak akan memaafkannya kali ini." Mas Doni menenangkan ku. Ya tadi dia datang ke tempat kejadian saat mas Haris sudah terluka bersama polisi. Polisi pun langsung meringkus Bagus yang sudah menjadi bulan-bulanan warga. Lalu kami pergi ke rumah sakit dan saat ini mas Haris masih di dalam ruangan operasi.
"Semua ini salahku, mas Haris terluka karena aku. Bagaimana aku bisa menghadapi Bu Wanti. Dia pasti sangat kecewa padaku." Sejak tadi aku memang takut untuk menghadapi Bu Wanti. Dia duduk ditemani tetangga yang ikut ke sini. Sedangkan aku ada di tempat lain untuk merenung.
"Jangan salahkan dirimu sendiri, Haris hanya mencoba melindungi orang-orang yang ia sayang. Bu Wanti juga pasti mengerti, kau harus berbicara padanya," saran mas Doni
Mas Doni benar aku harus berbicara pada Bu Wanti, dia pasti sangat terpukul saat ini. Aku juga akan meminta maaf. Kalau memang nantinya Bu Wanti minta aku untuk menjauhi mas Haris, aku akan menerimanya.
__ADS_1
Setelah berganti pakaian, aku coba memberanikan diri untuk menemui Bu Wanti. Aku lihat dia dari kejauhan, tidak beda jauh denganku yang terus saja menangis dan takut kalau terjadi sesuatu pada mas Haris. Apalagi beliau adalah ibunya, pasti sangat sakit saat melihat anak yang kita sayangi kini tergeletak di dalam sana.
"Ibu ... maaf, tolong maafkan aku. Karena aku mas Haris jadi terluka seperti ini." Aku bersimpuh dihadapan Bu Wanti. Meminta maaf. "Maaf Bu ... kalau saja mas Haris tidak berhubungan dengan ku pasti dia tidak akan terluka. Maaf Bu ...," ucapku, aku menyesal kenapa harus melibatkan mas Haris dalam masalah ku dengan Bagus. Benar seharusnya aku melaporkan laki-laki itu ke kantor polisi saat itu.