Ketulusan Hati Jelita

Ketulusan Hati Jelita
Bab 69. Mati Kutu


__ADS_3

Akhirnya aku pun turun, tapi entah kenapa rasanya berdebar mau menghadapi ibu-ibu komplek. Apakah aku mau di masak oleh mereka, melihat betapa lengkapnya mereka membawa alat-alat masak.


Aku lihat ibuku juga ada di sana. Dia tampak tenang, mungkin bisa menebak kalau yang ada di dalam sini adalah putranya. Tanganku bahkan gemetar saat mau membuka pintu.


Klek. Aku tersenyum kuda pada ibu-ibu yang sedang menatapku dengan terkejut dan penuh tanda tanya. "Selamat sore ibu-ibu...," kataku menyapa mereka.


"Loh nak Haris, kenapa ada di dalam mobil. Lalu dimana laki-laki simpanannya mbak Lita? Apa nak Haris melihatnya di dalam?"


Semua orang menunggu jawaban ku, aku jadi salah tingkah karena mereka semua menatap ku.


"Begini, ibu-ibu. Aku tidak tau apa yang sedang ibu-ibu permasalahan dan cari disini. Dari tadi yang ada di dalam mobil hanya ada aku dan Tante Jelita," kataku.


"Bohong, pasti bohong kan. Coba buka mobilnya biar kami lihat." Satu ibu-ibu masih ngeyel dengan pikirannya.


"Jadi ibu-ibu disini mau lihat, ok. Saya akan buka mobilnya. Harap ibu-ibu lihat dengan baik," Ujar Tante Jelita lalu mengambil kunci yang berada ditangan ku. Dengan satu tombol, terbukalah ke empat pintu mobil dan juga penutup atasnya.


"Bagaimana, apa ada yang kalian cari?"


"Sudah ibu-ibu lebih baik bubar saja, jangan ribut-ribut disini. Nggak baik, kita ini bertetangga seharusnya hidup rukun." Pak RT memberi saran pada ibu-ibu. Tapi sepertinya sama sekali tidak didengarkan.


"Saya sakau dia sudah berzina di mobil."

__ADS_1


"Mana buktinya Bu? Saya ini sedang bersama calon suami saya. Sama seperti anak-anak kalian pacaran. Kami tidak berzina."


"Mana, jangan bohong. Mana ada calon suami?"


"Loh, bukannya kalian sudah lihat dari tadi. Itu mas Haris adalah calon suami ku." Tante Jelita memeluk lenganku mesra dihadapan mereka. Akupun mengusap lembut tangannya.


Warga yang melihat Sangat terkejut sepertinya, mereka mematung. Mungkin mereka tidak menyangka kalau aku dan Tante Jelita dekat sebagai kekasih.


"Bu Wanti, apa ini benar?" mereka bertanya pada ibuku.


Ibuku yang sejak tadi diam pun menghela nafas. Sepertinya setelah ini aku bakalan digoreng ibuku Karena sudah berduaan dengan Tante Jelita.


Apa besok, apa ibu tidak salah. Kenapa cepat sekali. Aku tentu saja terkejut tapi hanya bisa tersenyum mengiyakan di depan mereka.


"Sudah jelas kan semaunya, makanya kalau mau bertindak apa-apa itu dipikirkan dulu dan harus lapor pada aparat setempat. Jangan main hakim dan marah-marah tidak jelas tanpa bukti lagi." Pak RT berpidato.


Tanpa minta maaf atas apa yang sudah mereka lakukan. Ibu-ibu itu mau pergi begitu saja.


"Tunggu, ibu-ibu mau kemana?" tanya Tante Jelita. "Bukankah kalian seharusnya mempertanggungjawabkan apa yang sudah kalian lakukan? Misalnya biaya perbaikan mobil ini... apa saya harus meminta pada suami kalian gantinya. Atau saya laporkan ke polisi, saya punya rekamannya lohh Bu... "


Mereka pun langsung ketakutan dan memohon maaf pada Tante Jelita. Tentu saja mereka takut kalau dilaporkan ke suami mereka pasti lah suami mereka akan marah-marah, karena termakan gosip suami yang harus menanggung perbuatan istri.

__ADS_1


Akhirnya semuanya pun selesai dengan damai. Pak RT, dan para warga sudah memohon maaf pada Tante Jelita dan berjanji kalau kejadian seperti ini tidak akan terjadi lagi. Mereka juga berjanji tidak akan semena-mena lagi pada janda siapapun itu. Lalu urusan mobil, aku tidak menyangka kalau Tante Jelita memaafkan mereka begitu saja. Sama sekali tidak meminta uang ganti untuk perbaikan yang pasti butuh sekali biaya.


"Tante bagaimana dengan mobilnya?" tanyaku.


"Biarkan saja mas, kalau ada rejeki nanti diperbaiki. Kalau Tante menekan mereka untuk ganti rugi pasti mereka jadi punya rasa kesal pada Tante. Biarlah, asal mereka tidak mengusik hidup Tante lagi." Lagi-lagi Tante Jelita menunjukkan kemurahan hatinya. Aku benar-benar tidak salah pilih istri. Ibu juga terlihat kagum padanya.


Sekarang kami duduk bertiga di rumah Tante Jelita. Sementara Sasha sedang di bawa pengasuh nya jalan-jalan keluar.


Aku menunduk dan memainkan jari. Tidak berani melihat ibu.


"Nak Lita, jadi begini. Ibu mau melamar kamu untuk anak ibu yang super penurut ini. Apa kamu mau?"


"Tentu saya mau Bu, aku juga sangat mencintai anak ibu ini." Tante Jelita menggenggam tanganku.


"Syukurlah, kalau begitu besok kita adalah acara lamaran dan Minggu depan langsung nikah saja," kata ibu.


Aku terkejut dan saling pandang dengan Tante Jelita. "Kenapa buru-buru Bu?" tanyaku.


"Biar kalian nggak berbuat dosa terus. Berduaan terus kalau ada setan' bagaimana? Kalian nggak akan bisa kuat dengan godaan setan."


Kami tersenyum malu. Benar kata ibu. Dari pada dosa terus lebih baik nikah dulu.

__ADS_1


__ADS_2