
POV Haris.
Aku sudah putus asa dan pasrah jika memang tidak bisa bertemu dengan orang-orang yang aku sayangi lagi. Mungkin ini adalah balasan atas dosa-dosa ku selama ini. Aku hanya berharap ibu selalu hidup sehat dan anak orang baik yang akan menjaganya kelak. Lalu Jelita bisa bertemu dengan pria yang lebih baik sekaligus baik untuk ayah sambung Sasha.
Aku menangis sejadinya, meratapi nasibku yang malang. Sendiri, sepi dan sunyi tanpa siapapun. Beginikah rasanya orang yang sudah meninggal. Tidak bisa berbuat apa-apa selain menunggu hari penghukuman.
Ceklek.
Aku menyipitkan mataku saat cahaya menyilaukan itu tiba-tiba menyeruak ke dalam ruangan. Sangat terang dan hangat sampai ke tulangku. Apa itu malaikat, dia sudah datang menjemput ku. Aku benar-benar sudah berakhir.
Aku belum bisa melihat dengan jelas siapa yang datang. Aku sudah coba menghalau cahaya itu dengan tangan ku tapi tidak terlalu berguna.
"Siapa kau?" tanyaku pada seseorang yang berdiri di depan pintu. Tidak jelas siapa karena cahaya itu masih sangat menyilaukan.
__ADS_1
"Bapak, aku anakmu ...," katanya.
"Anak?? Siapa? Bagaimana mungkin anakku sudah sebesar itu dan lagi aku belum menikah." Tingginya sekitar anak-anak usia empat tahun, lalu kenapa dia mengatakan kalau dia adalah anakku. Apa dia salah orang. Sayang sekali aku tidak bisa melihat wajahnya karena cahaya itu.
"Pak, pulanglah. Semua orang menunggumu. Ibu, nenek dan kakak Sasha. Semuanya membutuhkan bapak. Jadi jangan terlalu lama disini. Ayo pulang bersama ku," ajaknya.
Dan anehnya aku seperti terhipnotis dengan menuruti apa yang anak itu katakan. Aku mengangguk lalu saat dia mengulurkan tangannya aku pun meraihnya. Anehnya lagi semua rasa sakit yang tadi bersarang di tubuhku lenyap seketika. Kakiku yang tadi sakit sudah bisa digerakkan.
"Kakiku sudah sembuh, aku bisa jalan lagi." Aku terlonjak kegirangan, rasanya aaku seperti terlahir kembali. "Aku bisa jalan, sebenarnya kau siapa nak? Kau sudah membuat ku sembuh."
"Pulang kemana? memang kita ada dimana sekarang." Sejak tadi di ruangan itu gelap aku tidak bisa melihat apapun. Setelah pintu terbuka aku pun masuk tidak bisa melihat dengan jelas karena silau.
"Ayo ikut, bapak akan tau."
__ADS_1
Tangan yang terasa hangat itu menggandeng ku keluar dari ruangan itu. Menyusuri lorong yang sangat terang tapi anak di depanku lebih terang dari semua lampu di sana.
"Kita sudah sampai, bapak masuklah ke ruangan itu." Anak itu menunjukan ke ruangan yang ada di ujung lorong.
"Kalau begitu ayo, kamu masuk duluan," kataku.
Dia menggeleng, "Nggak pak, tugasku hanya mengantar bapak sampai disini. Belum waktunya aku bertemu kalian."
Tubuhku menurut seperti tadi menuruti apa yang anak itu katakan. Tanganku sudah memegang gagang pintu dan membukanya. Tring! Sebuah cahaya yang lebih menyilaukan sampai membuat mataku sakit. Ruangan apa itu kenapa aku harus masuk kesana. Aku bertanya-tanya pada diriku sendiri.
"Apa benar ini ruangan nya?" tanyaku berbalik tapi sayangnya anak itu sudah tidak ada saat aku berbalik. "Hai... kau kemana, kenapa kau meninggalkanku sendiri." Aku berteriak.
Bagaimana ini, apa aku masuk saja ke dalam sana. Tapi bagaimana kalau di dalam sana itu berbahaya. Tidak ada pilihan lain lagi, aku tidak bisa terus di sana dan membiarkan semua orang menunggu. Entah ini jalan yang benar atau tidak aku akan masuk ke dalam.
__ADS_1
Tanganku meraba-raba sekeliling karena pandanganku yang terhalang cahaya. Kenapa ini kenapa tiba-tiba tubuhku melayang... Aaa...