Ketulusan Hati Jelita

Ketulusan Hati Jelita
Bab 58. Kenang-kenangan


__ADS_3

Bibir dan jari-jari Tante Jelita menyusuri tubuh bagian atas ku yang sudah tidak terbalut pakaian. Dia sangat betah berlama-lama di otot perut dan dadaku. Dia seperti baru saja mendapatkan jakpot, sangat senang.


"Mas, bagaimana bisa sangat indah seperti ini mas... ya ampun Tante sangat suka." Cup cup cup. Bekas lipstiknya sudah ada dimana-mana menghiasi kulitku.


Aku pasrah saja, membiarkan Tante Jelita menikmati permainan barunya. Toh aku juga suka.


Ohh Tante... kau sangat liar. Batinku terus terucap saat yang membelai bukan lagi jari atau bibir. Leher dan telinga ku sudah basah oleh sisa-sisa saliv4nya . "Tan... aarrggghhh..." Aku tidak tahan, tanganku ingin bekerja juga.


"Kali ini biar Tante yang bekerja mas. Mas Haris nikmati saja..." ucapnya, lalu lidahnya mulai menyapu otot perutku. Sangat geli, aku pun mengeluarkan suara khas.


"Mas Haris, Tante masih ingin berlama-lama disini tapi masih ada sesuatu yang penting yang harus diselesaikan."


Aku menahannya saat Tante melepaskan ikat pinggangku, "Tan, tapi kita ada di sini. Apa nggak masalah," tanyaku, setahuku tempat karaoke tentu untuk bernyanyinya saja ataupun bermesraan biasa. tapi kalau sampai lepas semua, aku takut akan jadi masalah.

__ADS_1


Tante Jelita tersenyum padaku, "Nggak perlu cemas, mas. Di tempat seperti ini sudah biasa untuk melakukan hal selain bernyanyi. Temen-temen Tante juga sudah biasa bermain disini, apalagi ruangan yang kita tempati ini VVIP dan sangat terjaga. Jadi nggak akan mungkin ada yang berani masuk walaupun kita nggak kunci pintu."


Benarkah, di tempat umum seperti ini bisa untuk melakukan apapun. Apa disini tidak ada cctv. Aku pun melihat ke seluruh sudut ruangan, mencari mungkin ada cctv di atas.


"Cari apa mas? Tenang saja, nggak ada cctv disini. Sangat aman, sama seperti di hotel. Para pemandu lagu yang tadi membantu kita juga sering memberikan pelayanan lebih pada tamunya."


Ohhh jadi disini sudah biasa untuk tempat seperti itu. Hanya saja berkedok tempat karaoke.


Tante Jelita kembali melanjutkan aktivitas nya yang tertunda. Dengan cekatan dia berhasil membuka semuanya . Aku berdebar, karena sebelumnya aku belum pernah memperlihatkan itu pada siapapun. Aku juga takut Tante Jelita kecewa pada bentuk dan ukurannya, aku tidak tau seberapa besar standar tante Jelita.


Benda itu langsung menjulang setinggi langit. Tanganku refleks menutupinya, karena malu. Bagaimana kalau Tante Jelita kecewa karena tidak sesuai harapannya. Setahuku biasa wanita itu sukanya yang diatas rata-rata, kalau menurutku ukuran itu standar saja. Ehh ya aku juga tidak tau bagaimana ukuran laki-laki lain.


"Mas... ini"

__ADS_1


Tante Jelita menatap takjub, matanya berseri-seri. Pipiku langsung memerah. Apa mungkin Tante Jelita kagum padaku, tapi bagaimanapun dia janda yang sudah berpengalaman pasti sukanya yang lebih besar.


"Jangan ditutup mas, Tante ingin lihat. Tante nggak nyangka kalau mas Haris menyembunyikan harta Karun seindah ini. Ya ampun... Tante tidak bisa berkata-kata ..." Tante Jelita terus memandangi dan memujinya.


"Ehh... Tan, aku malu kalau Tante lihatin terus." Aku seperti anak gadis malah, Tante Jelita saja tidak malu-malu seperti ku.


"Sebentar mas. Tante masih ingin lihat sebelum merasakannya. Tante ada ide, Tante foto ya buat kenang-kenangan, biar kalau Tante kangen bisa lihat di hp." Tante Jelita mencari tasnya lalu mengambil ponselnya.


Aku melongo, bagaimana bisa Tante akan menyimpan foto seperti ini. Kalau ada yang lihat bagaimana. "Tapi Tan, kalau ada yang lihat di hp Tante bagaimana?" tanyaku.


"Tenang saja, Tante akan memotret bagian itu saja jadi kalaupun ada yang lihat nggak akan tau kalau itu punya mas Haris." Tante Jelita terkekeh, sedangkan aku tercengang dibuatnya. "Hehehe bercanda mas, tenang saja. Nggak akan ada yang bisa membuka hp Tante karena Tante selalu pakai sandi."


Cekrek! cekrek! cekrek!

__ADS_1


Entah berapa puluh kali Tante Jelita memotret. Dia sudah seperti model yang sedang berpose. Tak lupa Tante Jelita terus saja melontarkan pujian dan sanjungan. Baru kali ini aku merasa bangga pada diriku sendiri.


__ADS_2