
Selama sarapan tante Jelita terus fokus memperhatikan bagian tubuhku yang berotot, aku cuek saja, pura-pura tidak tau dan terus menyantap sarapan pagiku yang sangat nikmat. Aku akui masakan tante Jelita hampir bisa menyamai enaknya masakan ibuku. Makanya aku selalu doyan saat dia menyirim makanan, padahal biasanya kalau ada yang mengirim makanan jarang sekali aku mau memakannya karena menurutku tidak ada yang bisa menandingi masakan ibu.
Sebenarnya tadi tante Jelita mau pulang tapi aku mencegahnya, aku berbohong dan berkata tidak suka makan sendiri. Ternyata dia mau menemaniku.
"Tante nggak makan?" tanyaku memecah keheningan. Sepi sekali hanya ada suaraku yang sedang mengunyah makanan.
"Nggak, tante sudah sarapan tadi di rumah."
Aka manggut-manggut paham. Kulanjutkan lagi menyendokan makananke dalam mulutku.
"Kenapa dek Sasha nggak diajak tan, aku gemas sekali pada pipinya yang gembul. Pantas saja ya dia sangat sehat dan berisi, ASI nya saja banyak sekali." Aku ingin tau apa reaksi tante Jelita saat aku membahas hal itu.
Ternyata pipinya memerah dan tersipu malu, manis sekali.
"Iya terkadang Sasha sampai kewalahan menyedotnya," katanya malu-malu. Aku jadi makin semangat manggodanya.
"Aku saja yang sudah besar sampai kewalahan, apalagi dek Sasha yang masih bayi. Tapi rasanya enak ya tan, baru tau aku kalau rasa ASI seenak itu." Sampai sekarang saja aku masih ingat rasanya. Apa lagi benda yang menghasilkan ASI itu. "Kalau dek Sasha kenyang bagaimana cara tante mengelaukan sisanya?" tanyaku penasaran, semoga saja tante Jelita tak tersinggung dengan ucapanku. Aku hanya takut kalau ada laki-laki lain yang juga pernah merasakan ASI itu.
"Mmm itu tante pakai alat peras ASI. Tapi sebenarnya sakit menggunakan itu terlalu sering lebih enak di sedot langsung sama Sasha tapi dia nggak sangguk kebanyakan."
Woow, ternyata tante Jelita tidak malu menceritakan hal pribadinya padaku. Apa karena aku sudah tau dia luar dan dalamnya.
"Maaf tante jadi cerita begini sama mas Haris," ujarnya.
__ADS_1
"Nggak apa-apa tan, aku senang tante mau terbuka padaku. Apa sangat sakit menggunakan alat itu?" tanyaku yang tidak tau seperti apa rupa alat yang tante Jelita maksud, wajar saja bukan aku ini kan laki-laki dan lagi belum punya istri dan anak.
"Iya, sampai ujungnya lecet karena hisapannya yang kuat. Makanya tante lebih suka minta bantuan bibi kalau di rumah. Kalau di luar rumah baru menggunakan alat itu, kemarin tante lupa membawanya, tante pikir juga kita perginya tidak selama itu jadi tante berterimaksih sekali karena mas Haris mau membantu tante."
"Aku juga senang bisa membantu tante, kalau tante butuh bantuan apapun bisa minta tolong padaku," ujarku dengan kode terselubung. Siapa tau tante Jelita membutuhkan jasaku untuk menguras ASinya lagi, dengan senang hati aku mau.
"Terimakasih mas, mas Haris memang laki-laki yang baik. Beruntung sekali yang jadi istri mas Haris."
Kini giliranku yang tersipu, padahal aku selalu berpikiran mesyum pada Tante Jelita tapi dia malah menganggapku bak pahlawan. Aku jadi malu pada diriku sendiri.
"Musibah mungkin lebih tepatnya tan, siapa yang mau diajak hidup susah dan mau mengurus ibu. Gadis jaman sekarang maunya sama yang kaya, punya motor atau mobil bagus. Nggak ngerti kerjaan rumah apalagi ngurusin orang tua. Aku lebih suka yang dewasa, lepih matang pikirannya."
Sebenarnya aku ingin bilang kalau aku suka yang seperti tante Jelita tapi aku ingat ucapan Fitri yang bilang kalau tantenya lebih suka pria kaya dan mapan. Aku sama sekali tidak masuk kriterianya.
Selesai sarapan, tante Jelita pun pulang. Tidak ada yang terjadi pada kami, meski aku berharap ada kejadian yang seperti kemarin. Aku merebahkan diri di sofa sambil menonton tv, masih sama seperti tadi yang hanya menggunakan celana pendek agak ketat. Kebiasaanku di rumah memang seperti ini.
Mata ku terpejam, kepalaku sedikit pusing memikirkan semuanya. Harapanku baru saja pupus saat belum dimulai. Apa ini yang dinamakan patah hati, rasanya tidak sesakit saat aku ditolak gadis waktu masih bersekolah dulu.
Tok tok tok.
"Bu Wanti, assalamu'alaikum bu Wanti."
Mata ku kembali terbuka saat seseorang mengetuk pintu rumahku. Rasanya malas sekali untuk bangun.
__ADS_1
"Assalammu'alaikum bu Wanti."
"Wa'alaikumsalam, sebentar," jawabku yang masih sangat mengantuk. Dengan malas aku berjalan untuk melihat siapa yang datang.
Klek, mataku mengerjap beberapa kali saat melihat gadis cantik di depan pintu.
"Maaf Mas, bu Wantinya ada?" tanyanya padaku yang masih terpaku melihat kecantikannya, tidak biasanya aku tertarik pada seorang gadis.
"Ibu pergi ke rumah bu Slamet, ada perlu apa sama ibuku?" aku kembali bertanya.
"Bisa minta tolong sampaikan pesan pada bu Wanti. Ibuku mau minta tolong bu Wanti untuk masak di rumah, ada acara arisan keluarga di rumah."
Gadis itu tidak hanya cantik tapi juga sangat manis saat tersenyum, walaupun masih belum bisa mengalahkan tante Jelita.
"Nanti saya sampaikan pada ibu, tapi di rumahnya siapa kalau boleh tau?" Pasalnya aku tidak tau kalau disekitar rumahku ada gadis secantik itu.
"Itu mas, rumah yang ada tokonya. Rumahnya pak Darmin," jawabnya. Pantas saja aku jarang melihatnya anak-anaknya pak Darmin kan rata-rata mondok di pesantren. Pasti yang di depanku ini adalah salah satu anak gaisnya.
"Jadi adik ini putrinya pak Darmin?" tanyaku.
"Iya mas. Kalau begitu saya permisi ya mas, terimakasih sebelumnya."
"Iya sama-sama." Aku masih memandangi gadis itu hingga menghilang, aku masih ingat matanya sangat bening dan memiliki daya tarik sendiri. Dia menggunakan kerudung tapi tetap cantik meski tidak memperlihatkan mahkotanya.
__ADS_1
Angin baru saja bertiup ke arahku dan kurasakan tubuhku sedikit menggigil karenanya, aku pun menunduk dan baru saja menyadari kalau aku tak memakai atasan. Pantas saja gadis itu selalu memalingkan wajahnya.
Aku kembali menutup pintu, kembali ku duduk di sofa dan kembali teringat akan tante Jelita. Padahal tadi sesaat aku bisa melupakannya, tapi sekarang aku kembali mengingat rasa sakitku dan putus asaku.