Ketulusan Hati Jelita

Ketulusan Hati Jelita
Bab 72. Jalan-jalan dengan Camer


__ADS_3

POV Tante Jelita


Kami sampai di butik langganan ku. Aku sudah memesannya tiga hari yang lalu, sekarang aku datang untuk mencobanya. untuk Mas Haris, Bu Wanti, Sasha dan kakak beserta putrinya Fitri juga aku pesankan. Kami sudah mengukurnya waktu itu.


"Silahkan Bu Lita, kebayanya di coba." Pemilik butik yang langsung melayaniku karena memang aku adalah pelanggan yang biasa membeli pakaian di sini.


Aku pun pamit pada ibu, "Bu, aku mau coba dulu. Titip Sasha," kataku pada ibu dan mbak pengasuh.


"Tenang saja, Sasha nurut sama uti... Ya sayang."


Aku tenang sekarang, selain ada pengasuh juga ada Bu Wanti yang menjaga Sasha. Tapi aku sama sekali tidak pernah berpikir untuk memanfaatkan kesempatan untuk menjadikan ibu mertuaku pengasuh anakku. Tidak, aku bukan orang seperti itu. Aku akan terus memperkerjakan pengasuh dan akan sangat berguna kalau aku dan mas Haris mau berduaan.


Rencananya kalau Bu Wanti sudah sepuh juga aku siap merawatnya atau membayar pengasuh untuknya. Aku sama sekali tidak merasa terbebani, dulu juga aku yang merawat sendiri orangtuaku sampai mereka tiada. Makanya itu mantan mertuaku sangat menyayangkan putranya bercerai dengan ku, melihat bagaimana sikapku pada orang tua. Ya jaman sekarang jarang sekali anak yang mau mengurusi orangtuanya.


"Bu Lita selalu saja pantas menggunakan pakaian apa saja. Seperti pengantin umur belasan tahun," puji pemilik butik saat aku sudah menggunakan kebaya pengantin ku. Aku senang mendengarnya tapi menurut ku itu terlalu berlebihan.


"Terimakasih Bu, aku khawatir kalau tubuhku tidak akan secantik dulu saat menggunakan kebaya ini." Aku menatap cermin besar yang ada di hadapan ku. Kebayanya sangat pas melekat ditubuh ku, Bagian depan atas sengaja aku minta agak rendah seperti yang mas Haris suka.


Ibu juga memujiku, bahkan pembeli yang kebetulan ada disana juga. Padahal aku belum tampil dengan riasan tapi sudah banjir pujian. Aku tersipu tentunya, mungkin ini berkah karena mempunyai bentuk tubuh yang bagus seperti ini. Meski dulu sempat malu dan tidak percaya diri.

__ADS_1


"Ya ampun, calon mantu ibu sangat cantik. Pantas saja Haris tergila-gila padamu nak. Ibu saja sangat kagum padamu."


"Ibu... ibu berlebihan." Aku malu, kalian pasti tau bagaimana rasanya di puji calon mertua. Seribu pujian dari orang lain tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan satu pujian dari calon ibu mertua.


"Benar nak, ibu sama sekali tidak berlebihan. Kamu memang luar biasa cantik, ayu... Ibu beruntung sekali dapat mantu paket komplit. Sudah baik, cantik lagi..."


Puas ibu memuji dan memfotoku, katanya buat ia kirim ke mas Haris biar dia semakin tersiksa karena tidak bisa bertemu dengan ku. Aku pun tertawa dibuatnya, Tidak menyangka kalau ibu jahil juga pada mas Haris. Tapi kasihan mas Haris juga, tadi saja aku melihatnya sangat sedih sepertinya. Salahnya sendiri tidak lihat situasi dan kondisi kalau mau pegang-pegang. Padahal aku sudah mengingatkan.


Setelah dari butik, aku mengajak ibu dan putriku jalan-jalan terlebih dahulu. Aku memilih mall, agar Sasha juga bisa bermain sebentar di sana.


"Ibu nggak pernah ke tempat seperti ini nak, Haris nama mungkin mau mengajak ibunya jalan-jalan. Dia pasti malu," ujar ibu. Kasihan sekali.


"Mau mau, tapi apa kamu nggak malu ngajak ibu nak?"


"Tidak Bu, sama sekali tidak. Aku senang karena ada teman untuk diajak jalan-jalan."


Aku juga mengajak ibu makan berbagai jenis makanan yang ada di mall. Melihat reaksi ibu sangat lucu menurutku. Tentu lidahnya tidak sama dengan para anak muda jaman sekarang yang suka sekali makanan aneh-aneh.


"Makanan apa ini, rasanya aneh begini." Bu Wanti mencicipi makanan yang aku beli.

__ADS_1


Aku dan pengasuh Sasha tertawa dibuatnya. Bu Wanti sangat menghibur menurutku.


"Itu makanan jaman now Bu... hihihi..."


"Makanan apa ini, aneh-aneh aja. Enakan juga di warteg," katanya.


"Betul Bu, lebih enak masakan ibu malah."


Puas mencicipi makanan, kami berbelanja. Aku menyuruh Bu Wanti memilih baju apapun yang ingin ia beli. Aku mengambil beberapa pakaian trend masa kini, mungkin dia penasaran. Tidak apa-apa, aku membiarkannya. Malahan aku membayangkan bagaimana kalau ibu memakai nya. Pasti sangat lucu.


"Makasih ya neng cantik... ibu senang sekali di ajak jalan-jalan ke mall. Beda sekali orang-orang jaman sekarang dengan jamannya ibu," Bu Wanti masih merasa heran rupanya.


" waa... waa... pa paaa..." Sasha menyahuti uti barunya sepertinya


"Ehh sayang... apa kau juga senang? Sasha senang ya... iya... Sasha cantik suka ya main-main di sana..."


"Wwaa waa... "


Aku memperhatikan interaksi mereka. Sungguh seperti cucu dan nenek sungguhan. Semoga saja kasih sayang mas Haris dan Bu Wanti pada Sasha tidak akan pernah berubah walaupun nantinya aku mempunyai anak dari mas Haris.

__ADS_1


Setengah jam kemudian, kami sampai di depan rumah. Tapi aku langsung membelalakkan mata saat melihat siapa yang ada di sana.


__ADS_2