Ketulusan Hati Jelita

Ketulusan Hati Jelita
Bab 59. Tante Jelita


__ADS_3

Puas menyimpan puluhan koleksi foto. Tante Jelita kini mulai bekerja.


"Tante sangat pintar, ohh..." Aku pasrah merasakan sensasi yang belum pernah aku rasakan. Selama ini hanya menggunakan tanganku yang kasar.


Sungguh aku tidak bisa berkata apa-apa lagi. Tante Jelita membuat ku melayang ke angkasa, membuat ku merasa menjadi raja.


"Besar sekali mas... Tante suka...."


Aku mendongak, sesekali memandangi Tante Jelita yang sangat pandai. Dia sangat berpengalaman seperti di video yang aku lihat.


Lima belas menit Tante Jelita memanjakan ku, tidak ada lelahnya. Mungkin karena dia sudah lama tidak merasakan nya.


"Sudah gagah, tahan lama juga. Sempurna mas... gemas sekali Tante..."


Aku geleng-geleng kepala melihat Tante Jelita yang tidak hentinya memuji-muji dia.


"Aaa Tan... aku mau sampai... uhhh..."


Ya sebentar lagi pasti meledak, aku harus cepat-cepat menjauhkannya dari Tante Jelita. Kucoba tarik tapi diluar dugaan ku, Tante Jelita malah semakin gencar melakukan aksinya.


"Tan... aaa... lepas dulu Tan," rancauku yang sudah diubun-ubun.

__ADS_1


"Nggak apa-apa mas, ledakkan saja. Tante sudah lama nggak merasakannya."


Aku membelalak saat Tante Jelita kembali menenggelamkan harta karunku dengan sangat dalam bahkan sampai tenggorokannya. Aku jadi gamang, apa aku cabut paksa atau aku biarkan saja.


Sungguh luar biasa, tubuh ku menegangg, aku sudah tidak memikirkan apapun lagi. Semburan dari ledakan nuklir itu memenuhi mulut Tante Jelita. Ohh... ini sangat luar biasa, hebat sekali.


Aku melihat Tante Jelita menelan habis semuanya, bahkan sampai membersihkan sisanya. Aku sangat kagum padanya. "Terimakasih Tan... " ucapku dengan nafas yang tidak teratur.


"Enak sekali mas, ini namanya kolagen alami yang bikin awet muda," katanya sambil tersenyum puas.


Aku tergeletak lemas dengan posisi yang sama, sedangkan Tante Jelita sedang membersihkan diri sepertinya. Tapi meski tubuh ku lemas, tapi tidak berlaku pada pentunganku yang masih berdiri kokoh. Aku juga heran. Dia memang susah sekali tidur kalau sudah bangun.


Tante Jelita kembali dan duduk di sebelah ku. Dia senyum-senyum sendiri sambil melihat harta karunku. Rasa malu yang tadi aku rasakan sudah tidak ada lagi. Aku malah sengaja memeganginya.


"Sangat puas Tan, Tante sangat pandai," pujiku.


"Tentu saja, pokoknya mas Haris nggak akan nyesel karena sudah pilih janda. Sudah pasti pengalaman."


Aku tertawa renyah, baru kali ini Tante Jelita membanggakan dirinya. Tapi apa yang dia katakan benar juga, kalau dengan yang masih segelan pasti si cowoknya yang lelah karena si gadis belum tau apa-apa.


"Tante T O P. kalau begitu aku bersih-bersih dulu Tan." Baru saja aku mau bangun tapi Tante Jelita sudah lebih dulu duduk di pangkuan ku seperti tadi. Aku cukup terkejut dan berdebar, dengan posisi ku yang tidak terbalut apapun. Otomatis ujung harta Karun ku menyenggol kue apem Tante Jelita. "Tan..." ucap ku mantapnya bertanya-tanya.

__ADS_1


"Sebentar mas, Tante belum selesai."


Mulutku menganga lebar saat tiba-tiba Tante Jelita membuka pakaian nya, bakpao bulat itupun terpampang indah di depan mata. Apa ini, apa jangan-jangan Tante Jelita mau lebih.


"Tan ini...," Aku tentu bingung.


"Tante sudah sangat penasaran bagaimana kalau Karta Karun mas Haris mengobrak-abrik Tante."


Dan apa yang aku takutkan pun terjadi. Pertahanan ku runtuh bersama dengan peluh keringat yang membasahi kami berdua. Suara dan bau khas percritraan pun memenuhi ruangan. Gelora dan gelombang dahsyat menghantam hati dan pikiran kami.


Aku masih di bawah seperti tadi, tapi kali ini beda karena tubuh Tante Jelita menari-nari dengan lincah diatasku. Mulut dan tangan ku juga bekerja.


"Tante sangat penuh mas, itu sangat hebat. Baru pernah Tante merasakan yang sebesar ini."


"Tante juga sangat sempit, menjepit harta Karun ku, rasanya hangat dan seperti dipijat. Ohhh..."


Tante Jelita sangat puas karena aku bisa tahan berlama-lama. Dia terus menari, berputar dan melompat sesuka hati.


Kami menggila saat badai besar datang menghampiri kami. Desiran angin dan gelombang turut mendukung. Tanganku semakin giat berpegangan pada bulatan itu. Sementara Tante mendongakkan kepalanya, sambil menjambak rambutnya.


Byuurr... Banjir bandang pun terjadi.

__ADS_1


Tubuh kami ambruk, tenaga kami pun terkuras tapi senyum kami merekah Sempurna. Wajah kami pun memerah. Aku suka, sangat suka bahkan kitagihan.


__ADS_2