
POV Tante Jelita
Jujur aku sangat kesal setelah bertemu dengan mantan adik ipar ku tadi. Dia dan mantan suamiku sama saja tidak berperasaan. Seharusnya kalau mereka peduli itu menanyakan kabar Sasha, tapi baik mas Bagus ataupun adiknya itu mana pernah menanyakan Sasha. Untung saja aku masih mampu membesarkan anakku dengan jerih payahku sendiri.
Masih mending ibu dan bapaknya mas Bagus sedikit berbeda sifatnya. Mereka peduli dengan Sasha, mereka sering menanyakan kabar cucunya dan sering mengirimkan mainan atau pun uang untuk Sasha. Sebenarnya itu juga yang membuat aku berat saat akan berpisah dengan mas Bagus. Mertua yang baik itu sangat langka dan aku beruntung mendapatkannya. Tapi sayang beribu sayang anaknya berbanding terbalik dengan kedua orangtuanya.
Saat berpisah pun mertuaku sangat menyayangkan keputusanku, tapi karena anak mereka yang sudah melakukan kesalahan jadilah mereka menyerahkan semua keputusan ada ditangan ku. Saat aku menuntut harta gono-gini pun mertuaku malah mendukung. Untuk Sasha katanya.
Seandainya saja masa Bagus itu setia aku pasti akan bertahan dengan nya.
"Tante nggak apa-apa?" tanya mas Haris yang menyetir mobilku. Kami memang pergi bersama dan motor mas Haris dititipkan di rumah temannya.
"Nggak apa-apa mas, cuma kesel aja. Ipar ku itu memang dari dulu seperti itu, mentang-mentang dia sekolah tinggi dan bekerja kantoran." Berbeda denganku yang hanya lulusan SMA.
__ADS_1
"Sabar ya Tan, jangan diambil pusing. Ingat Tante Jelita nggak boleh terlalu banyak berpikir, kalau nggak pengin nanti Sasha juga ikut merasakannya."
"Iya mas," aku mengangguk, benar kata mas Haris. Sasha adalah hidupku dan belahan jiwa ku, kalau dia sakit aku seakan ikut hancur melihatnya.
"Sekarang ada aku yang akan melindungi Tante, kalau wanita itu atau mantan suami Tante gangguin Tante bilang saja padaku. Aku siap pasang badan untuk Tante."
"Terimakasih mas Haris, kamu memang paling bisa membuat Tante nyaman. Tante langsung bisa melupakan semua ucapan Luna."
"Sama-sama Tan," ujar mas Haris sambil menggenggam tanganku. Jantungku pun langsung memompa lebih cepat kalau mas Haris menyentuh ku.
"Jadi kita mau kemana Tan?" tanya ma Haris dengan sedikit menoleh hingga hidung kami nyaris saja bersentuhan.
"Terserah mas Haris saja, aku akan ikut." Aku semakin erat memeluk lengan mas Haris. Rasanya sangat besar dan hangat seperti dengan memeluk guling.
__ADS_1
"Bagaimana kalau kita pergi karaoke saja Tan. Sepertinya Tante sedang butuh tempat untuk berteriak agar sedikit lega."
Aku berpikir sejenak, benar juga apa kata mas Haris. Saat ini aku butuh tempat yang bisa membuat ku berteriak dan menjerit. Seharusnya di alam terbuka seperti pantai atau Hutan agar yang adar pikiranku juga ikut dingin dengan indahnya alam. Tapi sayangnya, pantai atau gunung dan wisata alam lainnya jauh jari tempat kita saat ini.
"Baiklah mas, Tante mau," ucapku.
Mas Haris pun melajukan mobilnya ke salah satu tempat karaoke yang cukup besar. Gara-gara mantan adik ipar ku jadi rencana kita Gagal. Seharusnya kami ke hotel atau salah satu kontrakanku untuk melanjutkan apa yang ingin kami lakukan tadi. Mas Haris juga sepertinya sangat mengerti kalau mood ku sedang tidak bagus. Kalau pun jadi ke tempat itu aku juga sudah tidak fokus.
"Maaf ya mas, karena mantan adik ipar ku, rencana kita jadi gagal," ujarku sambil memutar-mutar jari telunjuk ku pada pahe mas Haris. Aku suka sekali menggodanya, aku sangat penasaran dengan itu dari dulu.
Aku selalu membayangkan bagaimana dia, apa mungkin berbeda. Karena aku hanya pernah melihat saat bersama mantan suami ku.
"Ehh ti--tidak apa-apa Tan, aku mengerti. Lebih baik kita bersenang-senang dengan bernyanyi-nyanyi agar Tante Jelita nggak kepikiran lagi."
__ADS_1
"Terimakasih mas, tapi nanti Tante pinjam mic nya ya..." ucapku sambil mengerlingkan mata