Ketulusan Hati Jelita

Ketulusan Hati Jelita
Bab 43. Berbagi


__ADS_3

Aku mondar-mandir di kamar. Memikirkan bagaimana rencana selanjutnya. Seminggu, hanya seminggu waktu yang tersisa untuk ku mencari bukti. Aku tidak berhasil membujuk ibu untuk menunda lagi. Kepalaku ingin meledak rasanya. Apa sebaiknya aku menemui Ratna lagi untuk memastikan sesuatu. Aku ingin coba membujuk gadis itu lagi.


Aku ambil ponsel ku yang tergeletak di diatas kasur. Lalu ku kirimkan pesan pada nomor Ratna yang waktu itu ibu berikan tapi tidak pernah aku gunakan untuk berkomunikasi dengannya.


{"Dek Ratna, aku ingin bertemu lagi dengan mu. Ada yang mau aku bicarakan sebelum kita menikah. Besok aku tunggu di taman tengah kota jam sembilan pagi."}


Baru lima menit aku kirim, dia centang yang ada di pojok kanan sudah berwarna biru. Artinya Ratna sudah membaca pesanku tapi dia tidak membalasnya. Tidak apa-apa, aku akan tetap menunggunya besok.


Aku giliran jaga malam hari ini. Jam delapan aku sudah bersiap mau berangkat. Di rumah aku sedang sedikit kesal pada ibu karena tidak mau mendengar permintaan ku. Dari pada aku marah-marah, lebih baik aku pergi ke pabrik saja. Semoga saja malam ini Bu bos tidak datang agar aku bisa mengistirahatkan pikiranku sebentar.


"Aku berangkat Bu," pamitku pada ibu yang sedang berada di kamarnya. Aku sedikit mendengar suara ibu, sepertinya dia sedang menelepon seseorang. Aku tidak terlalu ikut campur urusan pribadi ibu, kalaupun dia mau menikah lagi, aku tidak pernah melarangnya.


Aku sudah menyalakan motor ku dan duduk manis di atasnya. Tiba-tiba saja aku melihat sekelebatan bayangan Tante Jelita dari jendela saat aku melihat ke rumahnya. Mungkin aku terlalu merindukannya jadi terbayang-bayang terus. Lebih baik aku berangkat saja sekarang.


Baru saja aku kau menarik gas, bayangan yang tadi aku lihat sudah ada di depan mataku. "Tante??" tanyaku dengan wajah terkejut, tidak biasanya Tante Jelita berani menghampiri ku secara terang-terangan seperti ini.


"Ke rumah sebentar yuk mas, lampu kamar Tante mati, Sasha nggak bisa tidur kalau gelap-gelapan. Mas Haris bisa bantu Tante gantiin lampu?" ujarnya sambil tersenyum menggoda. Apalagi gaun tidur yang ia pakai sangat minim sekali. Sekali tarik pasti langsung terlepas.

__ADS_1


"Ma--mau mau Tan, tapi bagaimana kalau ada yang lihat. Apa nggak apa-apa?" tanyaku.


"Gampang itu, ayo dorong motornya masukin ke garasi. Jangan dinyalain biar nggak berisik." Bagus juga idenya, aku pun segera turun dari motor lalu mengikuti Tante Jelita dengan menuntun motor ku.


Beruntungnya ibu sedang di kamar dan para tetangga juga tidak ada yang sedang berkeliaran. Kenapa situasinya sangat mendukung, apa mungkin Tante Jelita sebelumnya sudah menduganya.


Di dalam rumah, Ternyata benar lampu kamar Tante Jelita mati dan Sasha sedikit rewel. Sepertinya aku yang berpikir berlebihan. Aku kira Tante Jelita mengajakku ke rumah nya untuk kegiatan lain.


"Sudah Tan, apa ada lagi?" tanya ku yang masih di atas tangga kecil. Dari atas sini aku bisa melihat dengan jelas favorit ku yang tidak tertutup kacamata. Bisa-bisa nya aku selalu berpikir yang tidak-tidak kalau di dekat Tante Jelita .


"Hayoo mas Haris lihat apa?"


"Hehehe nggak Tan," ujarku malu-malu. Aku ketahuan Tante Jelita sedang melihat yang tidak-tidak.


"Kalau mau, bilang saja mas. Nggak usah curi-curi pandang seperti itu, gemas banget sihh..."


Aku menggaruk kepalaku sendiri. "Hehehe... nggak Tan, ada Sasha. Nanti dia marah kalau nen nya diminta."

__ADS_1


Tangga yang tadi ku pakai sudah ku kembalikan ke tempatnya. "Kalau begitu aku pergi sekarang Tan," kataku pada Tante Jelita yang sedang mengasihi Sasha sambil duduk di sofa ruang tengah. Kenapa harus sekarang, bayi itu membuat ku iri saja.


"Yakin nggak mau ini dulu mas..."


Bola mata ku langsung melebar melihat itu.


"Sini mas jangan malu-malu..., Sasha itu pinter kok, mau berbagi." Tante Jelita tersenyum padaku.


Kalau begini aku tidak akan bisa menolak, langsung ku letakkan tas dan kunci motorku. Lalu berlari ke arah Tante Jelita. I am coming... sambil mangap.


glek glek glek.


Aku dan Sasha pun bercanda saling menjahili. Anak itu benar-benar baik mau berbagi denganku. Sedangkan Tante Jelita tertawa melihat tingkah kami yang lucu. Kami sudah seperti keluarga berencana eh bahagia maksudnya.


Beberapa menit kemudian, Sasha sudah terlelap. Sepertinya di kelelahan dan kekenyangan setelah bercanda sambil minum dengan ku. Tante Jelita pun meletakan Sasha di box bayi yang ada di kamarnya.


"Tante punya kabar bagus mas."

__ADS_1


__ADS_2