
POV Tante Jelita
Aku terus menempel pada mas Haris. Tanganku juga sibuk menggoda mas Haris.
Laki-laki itu jelas merinding karena ulahku. Bahkan dahinya berkeringat padahal AC mobil ku menyala. Mas Haris memang menggemaskan, malu-malu tapi mau juga.
"Emmm Tan, boleh aku bertanya sesuatu?" tanya mas Haris dengan gelisah, duduknya mulai tak tenang.
"Tanya aja mas, nanti Tante jawab," ucapku.
"Apa Tante masih punya sedikit perasaan pada bapaknya Sasha? Maaf Tan, bukannya mau ikut campur aku cuma ingin tau bagaimana perasaan Tante pada mantan suami Tante."
Setelah mendengar pertanyaan mas Haris, bolehkah aku menyimpulkan kalau dia takut aku kembali lagi pada laki-laki itu. Mungkinkah dia cemburu, aku senang sekali kalau memang benar seperti itu.
"Tante sudah nggak punya perasaan apa-apa padanya, mas. Kalau saja bukan demi Sasha, aku mana mungkin mau berkomunikasi dengannya. Tidak aku sadar kalau hubungan mereka nggak mungkin bisa putus seperti Ku, karena nggak ada yang namanya mantan ayah. Tante juga nggak mau memisahkan mereka, biar Sasha menilai sendiri kalau dia sudah besar nanti."
Berpisah dengan pasangan karena bercerai itu serba salah. Penginnya sudah tidak punya hubungan apapun lagi tapi ada anak yang juga butuh anaknya. Apalagi anakku perempuan, yang pasti butuh walinya saat akan menikah nanti.
"Aku mengerti Tan, pasti sangat sulit di posisi Tante. Ingin menghindar tapi ada Sasha yang juga butuh sosok ayahnya."
__ADS_1
"Iya mas, makanya Tante ingin sekali segera menikah sebenarnya cuma selama ini belum Nemu yang pas dan mau menerima Sasha. Baru saat bertemu mas Haris Tante merasa berbeda, apa mas Haris mau menerima Sasha?" tanyaku. Aku ingin sekali berbicara serius selama ini tapi takut membuat mas Haris tidak nyaman dan malah menjauh.
"Tentu aku mau Tan, siapa yang nggak mau punya anak cantik dan menggemaskan seperti Sasha. Saat melihat Sasha aku sudah suka pada anak itu, ibuku juga sangat menyukai Sasha. Cuma pemikiran ibu yang masih mempermasalahkan status janda yang jadi masalah. Tapi aku janji akan terus meyakinkan ibu agar kita bisa segera menikah dan mantan suami Tante nggak akan berani macam-macam lagi."
"Terimakasih mas, mas Haris memang berbeda dari laki-laki yang selama ini aku kenal."
Jarang sekali aku menemui laki-laki yang begitu sayang pada ibunya. Mas Haris bahkan rela tidak menikah-menikah hanya karena mencari wanita yang juga mau menerima ibunya. Aku sangat bangga pada mas Haris.
"Apa Tante juga mau menerima ibu, dia cuma punya aku jadi aku akan selalu bersama ibu saat sudah menikah nanti. Dan mau sama-sama mengurus ibu denganku?"
Aku tersenyum, "Tentu saja mas, aku senang kalau ada ibu. Aku akan bantu mas Haris mengurus ibu saat dia sudah tua nanti. Aku malah senang karena kedua orangtuaku sudah nggak ada."
"Eh Tan, tentang masalah di hari itu apa itu rencana Tante?" tanya mas Haris.
Aku memang belum menceritakan apa-apa mengenai hari itu. Aku sedikit kesal pada mas Haris yang terlihat pasrah sebenarnya. Di hari itu aku menunggu mas Haris melawan dan menolak pernikahan itu tapi ternyata dia diam saja dan pasrah. Akhirnya aku yang bertindak dan menghentikan itu semua.
"Iya, untung aku menemukan laki-laki itu tepat waktu berhasil mengetahui semua keburukan keluarga Bu Yuli.
"Tapi bagaimana Tante tau tentang laki-laki itu?"
__ADS_1
"Mas Haris pernah mengatakan kalau melihat laki-laki di depan rumah Bu Yuli. Sejak saat itu Tante menyuruh orang untuk mengawasi rumah Bu Yuli dan berhasil, laki-laki itu datang lagi dan Tante berhasil mengatakan padanya tentang rencana pernikahan mas Haris dengan Ratna."
"Tante juga terkejut awalnya saat mendengar kalau kakak nya menjadi korban keluarga Bu Yuli bahkan sampai kehilangan nyawanya. Sejak itu Tante pun berusaha mencari bukti agar laki-laki itu bisa mendapatkan keadilan untuk kakaknya. Termasuk menyalin rekaman cctv di rumah Bu Yuli."
Eh, aku cukup terkejut saat tiba-tiba mas Haris menghentikan mobil dan menepi. Lalu dia langsung meraih kedua tanganku dan membubuhkan kecupan berulang kali.
"Terimakasih Tan, kalau bukan karena tante aku pasti sudah terjebak dalam keluarga toxsis itu. Maaf karena aku nggak bantu Tante apa-apa," ujarnya.
"Nggak apa-apa mas, Tante hanya sedikit kecewa saat mas Haris sepertinya pasrah hari itu."
"Aku pasrah karena nggak tau mau berbuat apa Tan, sudah mengatakan pada Bu Yuli kalau aku nggak mau tapi dia nggak peduli. Membujuk Ratna juga sudah tapi dia juga sama. Ternyata ada sesuatu dibalik itu semua." "Yang kasihan itu ibu karena kebaikan dan ketidaktahuan nya, dia cuma dimanfaatkan untuk kepentingan mereka."
"Ya sudah, yang penting sekarang mas Haris nggak perlu menikah dengan Ratna. Tapi bagaimana kalau Bu Wanti menjodohkan mas Haris lagi besok-besok?" tanyaku.
"Itu nggak mungkin Tan, karena ibu sudah berjanji nggak akan memaksa ku lagi. Dia juga bilang terserah kalau aku mau menikahi wanita yang aku sukai."
"Meskipun janda?" tanyaku.
"Itulah yang mesti kita rubah Tan, agar ibu tidak mempermasalahkan status Tante."
__ADS_1