Ketulusan Hati Jelita

Ketulusan Hati Jelita
Bab 70. Tunangan


__ADS_3

Hari ini aku dan tante Jelita akan bertunangan. Dengan singkat aku dan ibu mempersiapkan semuanya. Mulai dari parsel dan cincin pertunangan kami. Meski mendadak tapi aku ingin memberikan yang terbaik untuk Tante Jelita. Aku tidak asal beli tapi, aku pasrahkan semuanya dengan kualitas yang baik. Untung aku sudah punya tabungan sebelumnya.


"Apa bisa kita berangkat sekarang Bu Wanti?" tanya salah satu warga yang membantu kami.


Jantungku berdegup kencang, aku sangat gugup sekali hari ini. Padahal baru tunangan, bagaimana kalau menikah nanti. Apa aku bisa mengucapkan ijab qobul dengan benar.


Tidak perlu menggunakan kendaraan untuk sampai ke rumah Tante Jelita karena rumah kami berhadapan. Tapi tetap saja sejak pagi aku tidak bisa melihat bagaimana Tante Jelita sudah dirias, pasti sangat ayu dan menawan.


"Ayo, nggak usah gugup begitu," ujar ibu. Lalu menggandeng tanganku seperti saat aku akan menikah dengan Ratna waktu itu.


"Ibu cantik sekali," pujiku pada ibu. Selama ini hampir tidak pernah aku memuji ibu, tapi memuji wanita lain sangat sering.


"Ibu sudah tua begini, cantik dari mana? Kamu ada-ada saja."


"Aku serius Bu, lihat itu bapak-bapak disana juga ngelihat ibu dari tadi." Lucu sekali saat ibu malu-malu seperti itu. Kalau tau begini, sejak dulu aku akan memuji ibu.


"Sudah nggak usah ngomongin ibu. Lebih baik kamu fokus saja pada acaramu."


"Aku gugup Bu," jawabku jujur. Ibu pasti jauh ke berpengalaman dari pada aku.

__ADS_1


"Tarik nafas yang dalam lalu hembuskan, lakukan itu berulang kali untuk mengurangi rasa gugupmu. Jangan lupa berdoa juga agar semua berjalan lancar."


Ibu benar, aku lakukan apa yang ia sarankan tadi dan ternyata itu cukup efektif. Lumayan tidak terlalu gugup seperti tadi.


Kami di sambut baik oleh keluarga dan kerabat Tante Jelita. Kalau orang tuanya sendiri sudah tidak ada. Hanya tinggal kakak kandungnya saja saudaraku. Dia juga ada di sana sebagai wali Tante Jelita.


Kami lesehan duduk di dalam ruangan yang sudah dihiasi dengan dekorasi sederhana untuk acara pertunangan. Kami bercengkrama dengan akrab dan dekat. Kakaknya Tante Jelita yang merupakan ayahnya Fitri juga ramah dan baik, sama seperti adiknya. Saat semalam kita bertemu juga dia tidak berpikir apa-apa, langsung setuju dengan keputusan adiknya.


Hanya saja menitipkan pesan sedikit untuk ku. Katanya beliau menitipkan Tante Jelita dan Sasha padaku, jaga mereka dan terutama Sasha yang bukan darah daging ku. Tentu aku akan melakukan hal itu dengan senang hati. Tante Jelita dan Sasha akan jadi wanita yang terpenting dalam hidupku setelah ibu. Sekarang aku sudah punya tiga bidadari.


"Akhirnya calon manten nya keluar juga," mendengar hal itu aku pun ikut melihat ke arah Tante Jelita.


Suara tepuk tangan dari para tamu menyadarkan ku dari keterkejutan. Tapi sedetik kemudian Detak jantungku kembali berpacu dengan cepat saat Tante Jelita sudah ada di hadapan ku.


"Sudah mas, jangan dilihat terus," ledek si Fitri yang keluar bersama Tante Jelita. Dia masih muda dan juga cantik tapi tidak mampu untuk mengalahkan aura kecantikan calon istriku.


"Sepertinya nak Haris sudah nggak sabar, kenapa nggak langsung nikah aja."


Hehehe aku menyengir kuda, benar juga kenapa tidak langsung menikah saja. Aku jadi bisa langsung membawa Tante Jelita ke dalam kamar. Kalau begini aku harus menunggu seminggu lagi, dan ibu nggak mungkin lagi membiarkan aku berduaan dengan Tante Jelita.

__ADS_1


"Kemarin kan ibu sudah bilang kalau kalian langsung menikah saja. Jangan salahkan ibu, kamu yang mau tunangan dulu."


"Nggak apa-apa Bu, aku nggak ingin terburu-buru. Kasihan Tante Jelita kalau nggak melalui proses sewajarnya. Yang seperti ini kan nggak bisa terulang lagi Bu." Aku meyakinkan ibu.


Acara pun berlangsung lancar, aku dan Tante Jelita sudah resmi bertunangan. Di jari manis kami sudah terpasang cincin yang aku pilih sendiri. Meski belum menikah tapi setidaknya ada ikatan yang memperkuat hubungan kami. Dan tidak akan ada yang berani lagi mengganggu Tante Jelita.


Saat orang-orang sedang sibuk dengan hidangan mereka, aku mencuri kesempatan untuk berdekatan dengan Tante Jelita. Aku lingkarkan tanganku pada pinggang ramping nya. Sudah sejak tadi aku sangat gemas pada da-da yang terlihat semakin besar karena model kebayang yang ketat dan juga bongkahan belakang yang juga bergeal-geol.


"Mas... nanti ada yang lihat," ujar Tante Jelita lirih.


"Sebentar saja Tan, sudah dari tadi aku ingin berduaan dengan Tante." Aku jatuhkan kepala ku dipundaknya, menghirup aroma parfum yang Tante Jelita pakai. Tanganku memainkan rambutnya yang menjuntai sedikit di bagian depan. "Tante cantik sekali hari ini. Aku sudah nggak sabar ingin segera menikah dengan Tante."


Sungguh tanganku yang nakal sudah tidak sanggup lagi menahan diri, dia bergerak dengan sendirinya ke bagian dad-a.


"Aahh mas... nanti dilihat orang... sshhh..." Tante Jelita tentu saja tidak akan sanggup menolak sentuhan ku.


Aku tidak peduli dan masih aman. Kini ke dua tangan ku me-re-mas da-danya gemas.


"Ehheemm... sedang apa kalian!"

__ADS_1


Aku langsung melepaskan tanganku dan sedikit menjauh dari Tante Jelita. Habis sudah, aku ketahuan.


__ADS_2