Ketulusan Hati Jelita

Ketulusan Hati Jelita
Bab 84. Harus bekerja keras


__ADS_3

Seminggu sudah aku hanya tiduran di rumah tanpa melakukan apapun. Aku juga sudah mengundurkan diri dari tempatku bekerja karena keadaanku yang lama dalam pemulihan. Awalnya atasanku tidak setuju tapi mau bagaimana lagi.


Sementara hubunganku dengan Jelita jelas makin lengket, dia sering menghabiskan waktu di rumah. Ibu juga sudah tidak melarang-larang lagi. Ibu juga sudah punya kesibukan sendiri sekarang, dia kembali berjualan makanan di pagi hari tapi di depan rumah. Ya Jelita yang memfasilitasi semuanya.


"Mas, ini aku bawakan sarapan." Jelita masuk membawa kotak makanan. Dia rajin sekali tiap pagi dan malam selalu membawakan ku makanan padahal ibu juga sudah masak.


"Makasih dek, kamu sarapan juga temenin mas," kataku sambil menatap Jelita yang sedang membuka kotak makannya.


"Aku sudah sarapan tadi mas, habis nyiapin Sasha. Biar aku suapi mas ya, ini aaa ...," ujarnya dengan menyodorkan satu sendok makanan ke depan mulutku.


Dengan senang hati aku membuka mulut, beruntungnya aku punya wanita-wanita yang begitu baik dan perhatian padaku.


"Mas, sekarang pengangguran dek. Apa kamu nggak malu kalau jadi nikah sama mas?" tanyaku.


"Enggak mas. Nanti mas bisa membantuku memantau toko jadi aku bisa di rumah dengan anak-anak. Aku ingin sekali jadi ibu rumah tangga biasa yang menghabiskan waktu dengan anak-anak."


"Tapi itu usaha kamu, dek. Rasanya beda kalau bukan dari hasil keringat ku sendiri," kataku, sebagai laki-laki aku tidak ingin bergantung pada istri. Aku juga harus punya penghasilan sendiri.


"Enggak apa-apa mas, apa yang jadi milikku ya milik mas juga. Biar kita sama-sama mengelolanya, nanti juga rencananya aku mau buka cabang toko pakaian. Kalau mas nggak bantu, aku pasti keteteran. Apalagi sambil mengurus anak-anak juga."

__ADS_1


Benar juga, aku juga tidak ingin Jelita kurang waktu untuk keluarga. Terutama anak-anak yang sangat butuh perhatian ibunya, aku juga butuh asupan tambahan kalau malam. Kalau sampai dia terlalu lelah bisa-bisa aku tidak dapat jatah malam. Apa aku terima saja tawarannya tapi apa kata orang, mereka pasti akan menganggap kalau aku hanya menumpang hidup pada Jelita.


"Sudah nggak usah terlalu dipikirkan mas. Kalau memang mas tetap mau usaha sendiri, aku nggak akan melarang. Aku tahu kalau mas itu orang yang sangat bertanggung jawab. Tapi kalau mau bantu usahaku, aku akan sangat berterimakasih sama mas."


"Iya dek, nanti mas pikirkan lagi. Terimakasih kamu selalu menerima kekurangan mas," ucapku lalu menggenggam tangannya. "Bagaimana kabar jagoan kita, apa dia masih membuatmu kesusahan kalau pagi?" tanyaku.


"Nggak mas, sekarang sudah nggak terlalu mual. Cuma kalau mencium bau tertentu barulah langsung mual. Ehh kenapa mas, selalu menyebut anak kita ini jagoan?" tanya Jelita.


Itu karena aku sudah pernah bertemu dengannya dan aku yakin kalau dia adalah laki-laki. Walaupun aku tidak melihat wajahnya seperti apa tapi dari suaranya saja sudah jelas kalau dia adalah seorang anak laki-laki.


"Karena aku yakin kalau anak kita ini laki-laki," kataku tanpa aku beritahu alasannya.


"Mas nggak mungkin melakukan hal itu dek. Mau laki-laki atau perempuan sama saja, mas akan tetap menyayangi nya. Dan itu artinya bertambah satu lagi bidadari mas." Sepertinya Jelita masih ada sedikit trauma yang tersisa dari masa lalunya. Aku harus meyakinkan Jelita kalau aku tidak akan pernah berubah apapun yang terjadi.


Hari berganti hari. Masih ada waktu satu Minggu lagi sebelum aku menikah dengan Jelita. Rencananya hari ini aku mau pergi mencari kerja ke beberapa tempat. Tubuhku juga sudah lebih baik.


"Ibu aku pamit."


"Mau kemana nak?" tanya ibuku.

__ADS_1


"Ke rumah temen Bu, mau nanya-nanya soal kerjaan. Setelah menikah tanggungjawab ku banyak dan harus bekerja."


"Bagaimana dengan punggungmu, jangan bekerja terlalu keras."


"Iya Bu."


Aku keluar dari rumah, ternyata ada Jelita yang juga ada di depan rumahnya. Sepertinya sedang mengobrol dengan ibu-ibu sebelah rumah. Aku memperhatikan dari kejauhan, pakaian Jelita sekarang sudah sopan, aku suka melihatnya jadi mata para lelaki hidung belang tidak bisa lagi melihat lekuk tubuhnya. Walaupun masih terlihat sedikit jelas karena memang tubuh Jelita yang semakin pada berisi jadi mau pakai apapun bentuk tubuhnya Jelita akan tetap sangat indah. Apalagi dibeberapa tempat terlihat makin besar mungkin karena efek dari kehamilannya.


"Ehh itu ada nak Haris, cieee kalian ini malu-malu kucing." Ledekan para tetangga terdengar olehku. Aku lihat Jelita tersenyum malu-malu, bikin aku jadi gemas.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Maafkan othor yang sudah nggak semangat nulis cerita ini karena sampai sekarang cerita ini masih tertahan belum berhasil di kontrak dengan alasan terlalu ++. 🤧🤧


Tapi othor akan tetap selesaiin ceritanya kok, Janji deh.


Niatnya nggak dilanjutkan tapi karena banyak yang nungguin jadi tetap akan othor selesaikan ini novel. Karena othor punya prinsip kalau sudah memulai harus di selesaikan sampai akhir. Othor nggak suka yang nggantung2, meskipun novel ini sama sekali nggak menghasilkan cuan😁. Ya karena itu tadi di atas, novel ini belum beres kontrak. Jadi othor kek kerja rodi 😁.


Btw kalau othor nulis yang lebih++ lagi di si P1jo ada yang mau baca gak ya...

__ADS_1


__ADS_2