Ketulusan Hati Jelita

Ketulusan Hati Jelita
Bab 85. Sudah Sah


__ADS_3

Hari pernikahanku dengan Jelita pun tiba. Jantungku berdebar kencang sejak tadi. Bahkan saat para tamu mengajakku mengobrol, aku sudah tidak fokus. Pikiranku tertuju pada bagaimana saat pengucapan ijab qobul nanti. Aku takut salah dan mesti mengulanginya beberapa kali. Grogi jelas, malu juga iya. Bagaimana nanti banyak orang yang akan menertawakan ku kalau sampai salah.


"Ris, lihat itu calon istrimu. Subhanallah, cantiknya. Kamu sangat beruntung akan menjadi suaminya," Ujar salah satu tetangga ku melihat pada sosok yang tampak seperti bidadari surgaku. Ini pertama kalinya aku melihat Jelita menggunakan penutup kepala.


Ya, di hari yang sangat penting bagi kami inilah ternyata Jelita memutuskan untuk menutup auratnya. Aku bangga sekaligus terharu, tidak menyangka kalau Jelita akan berubah secepat ini. Dia memang kerap kali mengatakan ingin menggunakan hijab dan aku bilang tidak apa-apa pelan-pelan saja tidak perlu memaksa kalau belum siap. Tapi ternyata di hari spesial ini dia menggunakan momen ini untuk berubah.


Kami memang sudah memutuskan untuk menjadi manusia yang lebih baik. Akhir-akhir ini juga kami sering mengikuti pengajian dan berkonsultasi dengan ustadz.


Sampai di hadapanku Jelita menunduk wajahnya. "Kenapa menunduk? Angkatlah kepalamu, biarkan aku melihat kecantikan calon istriku," kataku sambil mengangkat dagu Jelita.


Aku tidak bisa berkata apa-apa lagi kali ini saat aku melihat dari dekat bagaimana wajah wanita yang sebentar lagi akan menjadi istriku. Kecantikannya bertambah berkali-kali lipat dari sebelumnya. Aku sungguh sangat beruntung menjadi laki-laki yang ia cintai.


"Aku malu mas, apa aku jelek?" tanya Jelita.


"Mana mungkin, justru sebaliknya. Kamu sangat cantik Jelita. Meski rambutmu sudah tidak lagi terlihat dan bagian tubuh mu sudah tertutup rapat tadi kamu justru semakin cantik."


"Kau berkata seperti itu bukan karena ingin membuat ku senang saja kan mas."


"Enggak kok sayang, kamu memang cantik. Tidak hanya luarnya saja tapi hatimu juga." Aku semakin lihai saja dalam memujinya.

__ADS_1


Kami pun bercanda dan saling menggoda dan hal itu cukup membuatku lupa akan rasa gugupku. Sampai saat waktunya tiba, dimana aku mengucapkan janji suci sehidup semati dalam mahligai pernikahan.


Sorak-sorai, tangis haru serta rasa syukur atas lancarnya proses ijab qobul. Aku sendiri merasa lega dan juga terharu karena akhirnya wanita yang aku cintai kini telah sah menjadi istri ku.


Bergantian kami memasangkan cincin lalu Jelita mencium punggung tanganku dan akupun mencium keningnya. Kami saling pandang dan tersenyum.


Acara pun dilanjutkan dengan acara salam-salaman dari para tamu undangan dan juga berbagai prosesi lainnya. Cukup melelahkan tapi juga tidak akan terlupakan karena hanya akan aku alami sekali seumur hidupku.


Pesta berlangsung sampai malam. Keluarga, tetangga dan kerabat datang silih berganti. Aku dan Jelita sudah menyiapkan banyak makanan untuk para tamu jadi tidak perlu khawatir lagi mereka kekurangan makanan. Ibu dan mas Doni bertugas menyambut tamu di depan. Dan para kerabat ada juga yang membantu saat tamu datang berbondong-bondong.


Sampai jam sepuluh malam tamu masih sangat banyak. Aku yang melihat Jelita sangat kelelahan pun menyuruhnya untuk beristirahat saja.


"Tapi bagaimana kalau ada yang cari mas," katanya tidak enak kalau ada yang cari.


"Baiklah, aku juga sudah mengantuk. Kalau begitu aku ke dalam dulu mas."


Aku mengangguk dan tersenyum pada wanita yang sudah sah menjadi istri ku. Aahh ya aku baru ingat, itu berarti mulai malam ini aku sudah bisa melakukan apapun dengan Jelita kan. Kami sudah sah di mata negara dan agama. Semoga saja setelah ini tamunya sudah tidak banyak jadi aku bisa langsung menubruk Jelita.


Tamu yang datang malam-malam kebanyakan bapak-bapak. Mereka juga menghabiskan waktu cukup lama untuk mengobrol. Tidak bisakah mereka mengerti kalau malam ini adalah malam pertama kami.

__ADS_1


"Akhirnya selesai juga." Aku membuka kancing bajuku bagian atas. Rasanya sangat gerah dan lengket seluruh tubuh ini.


"Sudah tidak ada tamu lagi mas, sebaiknya kami bereskan saja." kata salah satu tetangga yang membantu.


"Besok saja tidak apa Rif. Kalian juga pasti lelah. Jadi ini dibereskan besok saja." Tentu saja karena aku juga ingin segera masuk ke dalam rumah.


"Baiklah kami akan datang pagi-pagi dan membereskan ini. Kalau begitu kami pergi mas Haris."


Aku masuk ke dalam rumah dan mengunci pintu. Tentu saja rumah Jelita, sedangkan ibu ada di rumahku bersama beberapa kerabat yang ikut menginap. Kalau Sasha sepertinya ada di kamar istriku. Perlahan-lahan aku menuju ke kamar karena tidak ingin membangun Sasha yang pasti sudah tidur. Bisa gawat kalau anak itu bangun saat ini.


Aku bahkan melepaskan sendalku agar tidak menimbulkan suara.


Pelan aku buka pintu kamar istriku. Aku lihat dia sudah terlelap di bawah selimut. Dengan cahaya lampu temaram aku melihat wajah damai istriku yang cantik. Dia sudah melepas hijabnya ternyata, tidak masalah karena hanya ada aku suaminya yang ada di sini.


"Selamat tidur istriku, akhirnya kita sudah sah menjadi suami istri." Aku kecup keningnya perlahan.


Setelah itu aku pun memilih untuk membersihkan diri terlebih dahulu. Rasanya sangat lengket dan tidak nyaman kalau tidur dapat keadaan seperti itu.


Di dalam kamar mandi aku membersihkan diri, mandi di bawah guyuran shower. Otot-otot tubuhku yang sempurna aku gosok dengan sangat bersih. Ah andai saja Jelita belum tidur pasti kita bisa melewati malam pertama dengan indah, tapi aku juga tidak tega membangunkannya. Sudahlah, melakukan hal itu bisa lain kali lagi dan tidak harus malam ini. Masih banyak waktu lain kali.

__ADS_1


Aku pun keluar dari kamar mandi dengan hanya menggunakan handuk yang aku lilitkan ke pinggang. Dan aku biarkan tubuh bagian atasku terekspos.


Klek


__ADS_2