Ketulusan Hati Jelita

Ketulusan Hati Jelita
Bab 30. Dijodohkan


__ADS_3

Aku baru saja selesai mandi. Hari ini aku berangkat siang. Jadilah sedikit santai. Pukul sembilan setelah Tante Jelita berangkat ke tokonya. Aku baru mandi dan bersiap.


Samar-samar aku mendengar suara ibuku sedang berbicara pada seseorang di ruang tamu. Mungkin ada tamu atau ada tetangga yang main ke rumah biasanya. Ya sudah, lebih baik aku sarapan saja. Aku memang lebih sering sarapan di jam segini. Pagi lebih aku dahulukan minum kopi dan makan cemilan yang ibu buat.


Perbuatan yang tidak layak dicontoh ya, karena sebenarnya tidak baik bagi lambung.


"Ris... sini Ris. Ke depan sebentar."


Baru saja aku mau mengambil nasi, ibu sudah memanggilku. Malas sudah kalau disuruh gabung dengan ibu-ibu. Bisa sampai lumutan aku mendengar kan mereka berbicara.


"Iya Bu..." Jawabku malas. Dengan langkah berat aku pun berjalan ke ruang tamu menghampiri ibu.


"Ris, sini. Duduk sini. Ada Bu Yuli ini pengin ngomong katanya."


Ibu langsung menyuruh ku duduk. Aku mulai curiga dengan senyum ibu yang tidak biasa. Aku pun duduk di kursi yang lain.


"Kata Bu Wanti, nak Haris sedang mencari istri? Apa itu benar nak?" tanya bu Yuli, istrinya pak Darmin.

__ADS_1


Aku langsung tau apa maksud ibu, dengan mendengar pertanyaan Bu Yuli yang langsung pada intinya. Ibuku ini memang tidak menyerah juga ya ingin menantu Sholehah. Aku jadi bingung harus menjawab apa, kalau aku jawab sudah punya. Ibu pasti langsung menanyaiku.


"Sebenarnya saya belum buru-buru Bu, hanya saja ibu yang selalu bilang ingin punya mantu." Aku memang tidak buru-buru, toh Tante Jelita juga sudah ada di depan mata. Lebih baik aku menabung sampai uangku terkumpul untuk melamar Tante Jelita pujaan hatiku.


"Iya Bu Yuli, saya yang selalu menyuruh Haris untuk segera menikah. Soalnya saya sering kesepian kalau Haris bekerja. Semua ibu-ibu disini juga kebanyakan sudah punya cucu."


"Ohh iya Bu Wanti, saya juga sering merasa seperti itu kalau anak-anak sedang sibuk dengan pekerjaan mereka. Tapi ya kalau mereka belum siap tidak saya paksa. Menikah itukan perlu siap lahir dan batin, banyak yang mesti dipikirkan untuk kedepannya."


Aku sangat setuju dengan ucapan Bu Yuli. Buat apa buru-buru nikah kalau akhirnya tidak bisa bertahan lama karena belum terlalu mengenal pasangannya.


"Iya Bu, saya juga berpikir seperti itu. Tapi si Haris ini loh sudah cukup umur dan saya juga semakin tua. Kalau saya sudah nggak ada, siapa yang mengurusnya nanti," Ujar ibuku. Selalu saja masalah umur yang ibu cemaskan.


"Huss... kamu itu kalau orang tua sedang bicara Jangan ikut-ikutan!"


Ibu ibu... aku tau tujuanmu apa.


"Ada benarnya juga yang nak Haris ucapkan Bu Wanti. Mending kita banyak-banyak nabung buat bekal di akhirat, serahkan urusan dunia pada yang Kuasa."

__ADS_1


Yess, akhirnya ada juga yang sependapat dengan ku. Raut wajah ibu langsung berubah malu, setelah aku pikir selama ini ibu selalu sibuk menjodohkan ku dengan para gadis pilihannya tapi sepertinya lupa untuk mendoakan ku.


"Tapi tidak ada salahnya kan di coba Bu, siapa tau Haris dan Ratna berjodoh."


"Boleh saja Bu, kalau mereka mau saling mengenal. Sisanya kita serahkan pada yang di atas."


Bu Yuli mengiyakan permintaan ibu, apa dia tidak masalah kalau mempunyai menantu seperti ku.


"Bagaimana nak Haris? Apa kamu mau mengenal putri ku lebih dekat?" tanya bu Yuli.


"Maksudnya bagaimana ini Bu, maaf saya belum mengerti?" tanyaku pura-pura tidak tau.


"Ini loh Ris. ibu sama Bu Yuli sepakat mau menjodohkan kamu dengan putri Bu Slamet. Kamu juga sudah pernah bertemu dengannya kan, Bagaimana kamu mau kan nak?" tanya ibuku.


Aku kira ibu sudah menyerah karena sudah cukup lama dia tidak lagi menyuruh ku bertemu dengan wanita pilihan nya. Tapi sepertinya setelah bertemu anaknya Bu Yuli, ibu jadi kembali ingin menjodohkan ku. Aku harus bagaimana sekarang. Kalau aku terima berarti aku menyakiti Tante Jelita, tapi kalau aku langsung tolak mau alasan apa lagi.


"Begini Bu Yuli, saya... "

__ADS_1


"Tidak perlu buru-buru nak, kalian saling kenal dulu saja. Kalau memang tidak cocok ya tidak perlu diteruskan." Bu Yuli memotong ucapan ku, sepertinya dia tau apa yang aku rasakan.


Baiklah, aku tidak ingin mengecewakan ibu. Biar aku coba mengenal gadis bernama Ratna itu. Aku pun mengangguk, dan bibir ibu langsung melengkung ke atas.


__ADS_2