
Tamu undangan sudah duduk kembali di kursinya, walaupun tidak sebanyak tadi karena sebagian ada yang pulang lebih dulu karena berbagai alasan. Tidak lupa yang pulang pun menyelipkan amplop putihnya pada Bu Yuli. Aku melihatnya sendiri. Tidak ada satupun tetangga yang memberikan amplopnya pada ibuku. Seperti biasa juga ibuku tak banyak berkomentar.
Aku sudah duduk di samping Ratna yang senyumnya merekah sejak tadi. Wajahku memandang ke arah lain, tak ingin melihatnya. Seharusnya dia itu mengerti kalau aku sama sekali tidak ingin menikah dengannya. Padahal aku sudah jelas mengatakan kalau aku mencintai wanita lain.
"Apa kalian sudah siap?" tanya pak Darmin yang juga sudah duduk di hadapan kami. Disampingnya ada kerabat Bu Yuli yang akan menjadi saksi.
"Sebentar," ujar Bu Yuli, lalu dia mengambil selendang putih untuk menutupi kepala ku dan Ratna.
Fix, apa ini sudah berakhir? Aku lihat Tante Jelita sama sekali tidak bertindak, dia masih asyik mengobrol dengan tamu lainnya.
Tante tolong aku... aku nggak mau menikah dengan Ratna, yang ingin aku nikahi itu Tante... bukan yang lain... Jeritku dalam hati.
"Nak Haris, boleh bapak tau maharnya berapa?" tanya pak Darmin.
Aku melihatnya penuh harap, apa dia berharap aku memberikan jumlah mahar yang besar. Jangan ngimpi kalian, mahar yang besar hanya untuk wanita yang pantas untukku.
"Sebentar, aku ambil dulu," kataku sambil tersenyum menyeringai, lalu ku ambil uang yang ada di saku celanaku. "Ini pak, cuma itu adanya."
Pak Darmin, Ratna dan saksi tadi kaget melihatku meletakkan uang pecahan dua puluh ribuan, sepuluh ribuan dan lima ribuan serta ada uang koin lima ratusan. Oh aku ingat, itu adalah uang kembalian saat aku membeli rokok Sempurna tadi pagi.
__ADS_1
"Apa hanya ini nak? Kau mau menikahi anak gadis ku satu-satunya dengan uang recehan seperti ini." Pak Darmin sepertinya marah melihat tingkah ku.
"Sabar pak sabar... maharnya nggak penting yang penting ibadah nya." Bu Yuli menenangkan suaminya yang hampir saja terkena darah tinggi.
"Ya memang aku punyanya segitu pak, Ratna juga bilang kalau mau terima aku apa adanya. Lagian aku sudah bilang kalau aku tidak menerima perjodohan ini. Tapi kalian memaksa, ya sudah terima saja begitu adanya," ucapku dengan enteng. Tanpa peduli para tetangga yang langsung mencibir ku. Katanya aku nggak bersyukur karena punya calon istri yang cantik dan Sholehah seperti Ratna.
"Iya nak, kami memang sudah sepakat akan menerima apapun adanya kamu dan Bu Wanti."
"Tapi Bu...," protes pak Darmin yang masih tidak rela melepaskan putrinya dengan mahar yang bahkan tidak sampai lima puluh ribu.
"Sudah pak, cepat nikahkan mereka saja. Nggak usah mikirin yang lain."
Bu tolong Bu, aku nggak mau begini. Tangisku dalam hati sambil menatap ibu tapi ibu malah menyuruh ku segera mengulurkan tangan.
"Ayo nak, cepat jabat tangan pak Darmin," seru ibuku.
Dengan berat hati dan bibir yang mencebik aku mengulurkan tangan kananku.
"Baiklah, mari kita mulai..." Ujar pak Darmin. "Bismillahirrahmanirrahim... saya nikahkan ananda Haris Atmadja binti Zaenal--"
__ADS_1
"Tunggu!! Hentikan pernikahan ini!!"
Seseorang datang dan berteriak meminta kami menghentikan pernikahan ini. Tentu saja aku langsung menarik tangan ku dan melepaskan jabatan tangan ku dengan pak Darmin. Sementara para tamu sudah berbisik dan menatap orang itu penuh tanda tanya.
"Siapa kamu, sebaiknya pergi dari sini sebelum aku panggil penjaga untuk menyeretmu keluar dari sini." Bu Yuli begitu marah pada laki-laki itu. Dia langsung menghampirinya dan berkacak pinggang.
"Hahaha lucu sekali anda pura-pura tidak mengenal saya. Apa perlu saya perkenalkan diri di depan para tamu yang ada di sini."
Laki-laki itu sangat berani pada Bu Yuli, aku jadi makin penasaran siapa sebenarnya dia.
"Dek Ratna sayang... kau sangat cantik hari ini. Aku sangat merindukanmu sayang, apa kamu nggak mau memeluk ku."
Sontak aku memandang Ratna yang ada di sebelah ku, dia tampak ketakutan. Tangannya sampai gemetar. Apa hubungannya dengan pria itu sampai memanggil nya dengan panggilan mesra seperti itu. Atau mungkin dia adalah kekasih Ratna.
"Diam kamu!! Pergi dari sini." "Penjaga... cepat bawa laki-laki ini keluar dan jangan biarkan dia masuk!!" Bu Yuli makin marah dia sepertinya mengenal siapa pria itu.
"Hahaha... apa kau akan tetap memaksa putrimu menikah dengan laki-laki lain, sedangkan dia sedang mengandung anakku."
"Tutup mulut mu bajin-gaan!!"
__ADS_1
Aku terkejut mendengar perkataan laki-laki itu, apa maksudnya putri Bu Yuli sedang mengandung siapa? Apa itu Ratna?