
Aku masih di dalam kamar sampai keesokan harinya. Dari kemarin siang aku bahkan tidak makan apapun, aku terlalu takut pada ibu. Kalau disuruh pilih lebih baik aku menghadapi sepuluh begal dari pada menghadapi ibu. Menghadapi begal jelas hanya butuh otot, berbeda kalau dengan ibu, aku sama sekali tidak bisa berkutik kalau ibu sudah marah-marah.
Tok tok tok
"Ris, kamu kok nggak makan dari kemarin. Kenapa?"
Ibu mengetuk pintu dan bertanya , aku kira dia sudah tidak peduli lagi denganku. "Nggak apa-apa bu," jawabku.
"Keluar Ris, ibu mau ngomong sama kamu." Suara ibu meninggi.
"Nggak bu, nanti saja ngomongnya. Aku mau tidur lagi."
"Ris, kalau kamu nggak keluar ibu nggak akan mau melamar nak Lita untukmu."
Sontak mataku langsung melebar, jantungku langsung berpacu dengan waktu.
Aku pun langsung menyibak selimut dan turun dari ranjang, berlari ke arah pintu dan langsung membukanya. "Ibu serius?" tanya ku begitu pintu terbuka.
__ADS_1
Ibu diam saja malah melihatku heran dan melipat kedua tangannya. Apa jangan-jangan ibu berbohong biar aku keluar dari kamar? "Ibu, kenapa diam aja?" Tanyaku.
"Apa kamu mau bicara sama ibu dengan menggunakan itu saja," ibu menunjuk ke bawah, bola mataku pun mengikuti arah jarinya.
Aku langsung menutup harta karunku yang hanya terbungkus kain dalam. Bagaimana aku bisa lupa kalau aku tidak menggunakan celana. Segera aku masuk dan menitup pintu, malu sekali aku. "Tunggu bu, aku pakai celana dulu," teriakku sambil mencari celana pendekku yang tadi malam aku lepas karena kegerahan.
"Hahaha... Haris Haris, untung saja cuma ibu yang lihat."
Kejadian tadi masih membuatku malu di depan ibu, walaupun ibu adalah wanita yang sudah melahirkan dan membesarkanku tapi kini berbeda. Aku sudah dewasa. Untung tadi harta karunku tidak sedang berdiri tadi.
"Kenapa? kamu malu? Ngapain malu, dulu saja ibu yang mengurusmu sendiri, ibu juga sudah pernah melihat isinya," kata ibu sambil terkikit geli. Gawat kalau ibu terus mengingat kejadian tadi.
"Beda bu, sekarang aku sudah besar." Ahh aku malu sekali. Kalau tidak ada hal penting yang mau kami bicarakan pasti lebih baik aku di kamar saja. "Ibu katanya mau ngomong, ada apa bu? Ibu beneran mau melamar tante Jelita untukku kan?" tanya ku.
"Hmm lihat kau saja memanggilnya tante, kamu tau kan perbedaan umur kalian berapa?" tanya ibu mulai serius.
"Tau bu, aku nggak masalah. tante Jelita juga masih terlihat muda. Malah aku dan dia seperti seumuran, ibu lihat sendirikan." Dan kami juga saling mencintai bu, batinku.
__ADS_1
"Ibu tau kalau nak Lita masih sangat cantik dan pintar merawat tubuh. Tapi tetap saja berbeda Ris, wanita itu lebih cepat menua dari pada laki-laki. Kalau nanti istrimu keriput duluan dan beruban apa kamu masih mau menerimanya.Pikirkan lagi nak... Ibu nggak mau kamu nyesel nanti, dan malah menyakiti nak Lita. Jangan karena hasra-t sesaat kamu buru-buru seperti ini."
Aku terdiam, memang benar apa yang ibu katakan. Tapi aku ingin segera menikahi tante Jelita bukan hanya karena na-psu tapi karena aku juga mencintainya dan ingin dia yang menjadi istriku. Aku juga yakin kalau tante Jelita mau menerima ibu.
"Aku sudah yakin bu, aku cuma ingin tante Jelita yang jadi istriku. Dia juga pasti bisa menerima ibu."
Ibu menghela nafas, mungkinkah dia mau mendukungku. Semoga saja mau, agar aku bisa segera menikahi tante Jelita.
"Baiklah, kalau kamu memang sudah yakin. Ibu nggak bisa melarang, kan kamu yang mau menjalani."
Aku langsung berbinar mendengar perkataan ibu. "Jadi ibu setuju?" tanyaku memastikan lagi.
Ibu menganggukan kepala dan tersenyum, sumpah demi apa, aku ingin melompat setinggi mungkin saking senangnya. Langsung ku peluk ibuku tercinta, "Makasih bu... makasih..."
"Sama-sama nak, kalau kamu bahagia, ibu juga ikut bahagia. Maafin ibu yang pernah memaksamu untuk sesuatu yang nggak kamu suka. Padahal ibu tau kalau yang kamu suka itu orang lain. Maaf ibu nggak mikirin perasaan kamu waktu itu, pikiran ibu sudah terlanjur dipengaruhi orang lain."
Aku cukup terkejut dan terdiam, apa maksudnya ibu sudah tau aku menyukai orang lain. Apa selama ini ibu tau kalau aku sering mengamati tante Jelita.
__ADS_1