
Bu Yuli dan pak Darmin terlihat kewalahan menenangkan para tamu dapat tidak sabar ingin pulang. Tentu mereka punya kesibukan masing-masing, setelah makan kenyang di sini tentu tidak ingin berlama-lama lagi.
Hanya aku yang duduk tenang sepertinya. Ibu juga sibuk ikut sibuk mencari alasan.
"Maaf Bu Yuli, kami tidak bisa menunggu lagi. Sebaiknya ditunda saja, besok mungkin kalau pak penghulu nya datang. kami akan kesini lagi," ujar Bu Siska, juliders nomor satu di komplek ini. Kali ini aku setuju dengan ucapannya. Kalau perlu dibatalkan saja, aku akan sangat senang.
"Ya nggak bisa Bu, kami sudah menyiapkan semua ini dan pernikahan anak kami juga tidak bisa di tunda lagi," kata Bu Yuli kekeuh, sama persis seperti Ratna.
"Lalu bagaimana kalau penghulu nya saja tidak ada."
"Iya Bu Yuli, besok saja. Cuaca juga makin mendung. Jemuranku belum diangkat."
"Iya Bu , kami pulang saja..."
Aku senang melihat kepanikan mereka. Kali ini pasti mereka sudah tidak punya cara lain lagi untuk tetap melanjutkan pernikahan ini. Aku pun bangkit dari kursi pengantin dan menghampiri ibu.
"Ayo kita pulang Bu, pernikahannya batal," kataku pada ibu yang terlihat bingung.
"Ayo ibu-ibu kita pulang, saya nggak jadi nikah." Aku berbicara pada tamu-tamu yang ada di sana dengan raut wajah bahagia. Berbeda dengan Ratna dan keluarga Bu Yuli yang sangat sedih dan malu.
__ADS_1
"Ayo bubar... " Aku menuntun ibu berjalan ke luar dari tenda pernikahan itu. Diikuti para tamu yang juga meninggalkan tempat itu satu persatu.
"Tunggu ibu-ibu, ini acaranya belum selesai. Anak saya belum menikah. Kalian jangan pulang dulu." Tak disangka kalau Bu Yuli langsung berlari keluar dan menghadang kami agar tidak pergi.
"Mau nunggu sampai kapan Bu Yuli? Lebih baik besok-besok saja kalau memang pak penghulu sudah di temukan."
"Tidak, tunggu!! Kalian akan tetap menikah sekarang juga. Meski tidak ada pak penghulu kalian masih bisa menikah secara siri. Masalah secara negara bisa menyusul yang penting kalian sah terlebih dahulu."
"Tidak Bu, Bagaimana bisa menikah siri." Aku membulatkan mata, ternyata Bu Yuli sudah punya ide.
"Nggak apa-apa yang penting kalian bisa sah di mata agama lebih dulu. Masalah ke KUA bisa menyusul."
Aku melirik ibu, sepertinya dia masih belum setuju dengan rencana Bu Yuli. Aku harus membujuknya agar mau menolak ide Bu Yuli.
"Ibu, aku nggak mau nikah siri. Lebih baik kita batalkan saja perjodohan ini. Ibu lihat kan, belum apa-apa sudah banyak cobaan, ini pertanda kalau pernikahan ini tetap diteruskan tidak akan berjalan baik ke depannya."
Ibu tampak bimbang mau mengikuti siapa, apakah ide Bu Yuli yang mengada-ada itu atau ideku. Kalau ibu masih menganggap aku putranya aku harap dia menolak ide Bu Yuli.
"Maaf Bu Yuli, kenapa anda ingin sekali aku menikahi dek Ratna secepatnya. Apa ada sesuatu yang kalian sembunyikan dari kami?" tanya ku pada Bu Yuli. Wanita itu tampak terkejut dengan pertanyaanku mungkin lebih tepatnya tidak menyangka kalau aku akan bertanya seperti itu padanya.
__ADS_1
"Ma--mana mungkin ada sesuatu, aku hanya ingin kalian segera menikah hanya demi kebaikan kalian. Ibumu juga sudah pingin cepet-cepet punya mantu kan."
Ibuku lagi yang dijadikan alasan. Padahal kalau tidak di kompori ibu juga tidak akan tergesa-gesa seperti itu. Ibu biasanya menurut dan terserah padaku.
"Jadi bagaimana, jadi nikahnya atau nggak?" tanya ibu-ibu yang mulai tidak sabar lagi.
"Nggak Bu, kalian boleh bubar karena nggak akan ada pernikahan hari ini. Terimakasih yang sudah datang dan menyempatkan waktunya." Aku mempersilahkan ibu-ibu pergi.
"Tunggu Bu ibu, acaranya belum selesai. Ratna dan Haris akan tetap menikah hari ini juga, suami saya yang akan menikahkan nya secara siri. Betul kan Bu Wanti? Ibu setuju kan?" Bu Yuli melihat ibuku meminta persetujuan.
Aku menggenggam tangan ibu dan menggelengkan kepala, aku berharap ibu tidak mengiyakan perkataan Bu Yuli. Kalau sampai iya aku tidak punya cara untuk kabur lagi.
Jangan Bu, tolong. Anakmu ini nggak cinta sama Ratna. Aku cintanya sama Tante Jelita, Bu. Kataku dalam hati.
"Yang dibilang Bu Yuli benar, kalian menikah hari ini ataupun besok sama saja. Sekarang bisa di resmikan dulu secara agama. Besok bisa mendaftar ke KUA."
Aku tidak bisa berkata-kata lagi kalau ibu sudah berbicara. Rasanya percuma mau membantah. Ibu pasti akan tetap pada keputusannya.
"Ya sudah kalau begitu tunggu apa lagi, ayo nak Haris. Duduklah di kursi mu lagi. Calon istri mu sudah menunggu di sana," ujar Bu Yuli sembari tersenyum penuh kemenangan.
__ADS_1