Ketulusan Hati Jelita

Ketulusan Hati Jelita
Bab 79. Pasrah dan Iklas


__ADS_3

Jelita sedang menyiapkan sarapan untuk putrinya yang sudah mulai makan MPASI. Gadis kecil itu sangat antusias menunggu sarapannya matang, Sasha memukul-mukul meja kecil didepannya yang tersambung dengan kursi bayi.


"Waa... wwwaa... mam..."


"Anak ibu sudah lapar ya, sebentar lagi siap sayang. Sabar ya cantik." Jelita sangat terhibur dengan adanya Sasha. Entah bagaimana hidupnya jika tidak ada Sasha. Walaupun dia adalah anaknya bersama pria brengse-ek itu tapi membuat Jelita membenci Sasha.


Sambil berinteraksi dengan Sasha Jelita memasak untuk sarapannya dan juga putrinya. Walaupun dia sedang tidak ingin makan tapi dia harus tetap mengisi perutnya dengan jabang bayi yang ada dalam kandungan nya.


"Ya ampun anak ibu pintar sekali, makanmu habis nak. Pantas saja kau makin gembul," Ujar Jelita setelah menyuapi Sasha. "Sekarang ibu makan ya, biar adik bayi yang ada dalam perut ibu juga makan. Nanti Sasha harus sayang pada adik bayi ya... ok sayang." Sambil makan dan bercengkrama dengan Sasha, jelita juga memikirkan Haris. Kalau saja seandainya dia sudah sadar pasti kebahagiaan nya lengkap sudah. Ditambah Bu Wanti, membayangkan bisa sarapan bersama dengan keluarga membuat Jelita menitikkan air mata.


Mas, kapan kamu bangun. Apa kamu tidak merindukan ku. Aku sudah tidak sabar memberitahu tentang kehamilan ku. Kamu pasti senang kan mas.


POV Haris.


Aku merasa sudah tidur sangat lama dan rasanya seluruh tubuhku tidak bisa digerakkan. Kaku dan mati rasa. Aku melihat sekeliling tapi gelap tidak ada siapapun.

__ADS_1


"Dimana semua orang? Ibu, Jelita, Sasha ... dimana kalian? Kenapa disini sangat gelap. Apa aku sudah mati."


Aku ingin waktu itu aku sedang berkelahi dengan pria bedeb-ah itu dan sudah berhasil mengalahkannya, tapi kemudian aku merasakan sesuatu menghujam punggung ku rasanya sakit sampai ke tulang dan pandanganku menggelap lalu aku tidak ingat apa-apa lagi.


Apa mungkin sekarang aku sudah meninggal. Itu artinya aku tidak bisa melihat ibu, Jelita dan Sasha lagi. Ohh tidak, bagaimana bisa itu terjadi. Bagaimana bisa aku meninggal sedangkan aku belum menikah. Lalu kalau aku meninggal, nanti Jelita menikah dengan orang lain. Aarrggghhh aku tidak akan rela kalau Jelita menikah dengan laki-laki lain.


Aku mencoba menggerakkan tubuhku tapi percuma karena sama sekali tidak bisa digerakkan. Kupaksakan kakiku turun dari ranjang, sambil terseok-seok aku berjalan mencari jalan keluar dari tempat yang gelap ini. Aku tidak ingin meninggal cepat, aku ingin kembali.


"Aaawww ... sakit sekali, aaawww. Seseorang tolong, kemana kalian semua." Aku berteriak sekencang-kencangnya tapi tetap di sana sangat sepi, gelap dan dingin.


"Huuhhh... akhirnya sampai juga pintunya."


Perjuangan ku belum selesai, aku masih harus berjuang meraih gagang pintu yang cukup tinggi sementara kakiku tidak bisa berdiri. Aku berusaha berpegang pada apapun tapi nyatanya tidak mudah.


"Ayo Haris, kau harus pulang. Mereka menunggu mu," gumamku menyemangati diri sendiri.

__ADS_1


Lama cukup lama sampai rasanya tenagaku habis terkuras. Aku ingin menyerah rasanya aku tidak sanggup lagi. Apa sudah berakhir sampai disini. Apa aku tidak bisa bertemu dengan mereka lagi.


Aku menangis sejadinya, aku sendirian tanpa siapapun. Rasanya sepi dan sunyi. Aku merindukan ketiga bidadari ku, ibu, Jelita dan Sasha. Kemana mereka kenapa tidak ada yang menolong ku. "Ibu... maafkan Haris yang belum bisa membahagiakan ibu. Jelita maaf mas belum bisa menepati janji. Sasha, aku harap kamu tumbuh jadi anak gadis yang kuat dan mandiri."


Kalau memang hidupku hanya sampai disini, aku hanya berharap orang-orang yang aku sayangi bisa hidup bahagia dan sehat selalu serta tidak ada lagi yang mengganggu mereka. Aku menyerah dan ikhlas.


POV Author


Sementara di rumah sakit. Semua orang sudah berkumpul saat dokter mengabari kalau detak jantung Haris melemah dan mungkin tidak akan selamat. Bu Wanti serta Jelita sama-sama menangis, hancur sudah perasaan dan harapan mereka. Rasanya kemarin baru mereka menanyakan kapan Haris Sadar tapi hari ini justru keadaan Haris semakin menurun.


"Mas Haris, bertahanlah demi anak kita, demi ibu dan demi aku serta Sasha. Aku mohon jangan tinggalkan kami mas. Aku tidak mau kehilangan mas Haris." Jelita hanya bisa berdoa dan berharap dokter bisa menyelamatkan Haris.


Bu Wanti juga sama hanya bisa berdoa dalam tangisnya. Kalau bisa diminta, lebih baik dirinyalah yang ada diposisi Haris. Lebih baik dia saja yang diambil nyawanya, jangan Haris.


"Bangun nak ... ibu tau kamu pasti kuat. Ibu tau kamu hanya sedang bercanda kan," batin Bu Wanti.

__ADS_1


Beberapa dokter keluar dari ruangan dan mengatakan kalau...


__ADS_2