Ketulusan Hati Jelita

Ketulusan Hati Jelita
Bab 12. Insiden Kecil


__ADS_3

Jadi kami hanya pulang berdua saja, si Fitri benar ditinggal di sana. Entah kenapa Tante Jelita dengan mudahnya mengijinkan keponakannya tinggal di sarang buaya itu.


"Tan, apa nggak masalah ya kalau Fitri di tinggal di sana?" Aku tanya sekali lagi, takutnya Tante Jelita tadi lupa.


"Kenapa sih mas Haris nanyain Fitri terus, apa mas Haris berminat ya jadi pacarnya Fitri?"


Aku membelalak, kenapa Tante Jelita bisa kepikiran seperti itu. Sudah jelas aku sudah menolak gadis itu, mana mungkin aku mau jadi pacarnya.


"Bukan begitu Tan, aku cuma cemas. Takutnya malah terjadi apa-apa pada Fitri. Tante tau sendiri kan, dia itu sepertinya ingin sekali punya pacar. Tadi saja nggak segan-segan menempel pada salah satu polisi muda itu."


"Tidak apa-apa, dia itu sedang dalam masa-masa pubertas jadi masih labil dan belum bisa berpikir dewasa. Kalau seumuran dia itu dilarang-larang malah bisa semakin menjadi karena penasaran. Di sana juga ada mantan adik ipar Tante, dia sudah mengenal Fitri dan akan menjaganya, tadi Tante sudah titipkan Fitri padanya."


Cukup masuk akal apa yang Tante Jelita paparkan tadi, biasanya anak remaja semakin dilarang memang semakin jadi. Tapi aku masih cemas, dia itu masih belum pengalaman. Tidak tau mana laki-laki yang baik, mana laki-laki yang hanya mau selang ka Ngan saja.


Baiklah kalau Tantenya saja tidak khawatir lalu buat apa juga aku memikirkan nya. Di kantor polisi itu meski ada yang berniat jahat seharusnya tidak bisa direalisasikan disana. Selain banyak orang, banyak juga warga yang berlalu lalang sedang mengurus berbagai urusan mereka di sana.


"Mas Haris, bisa cepat sedikit nggak bawa mobilnya?"


"Ada apa Tan? Tante nggak apa-apa?"


Wajah Tante Jelita kenapa tiba-tiba seperti kesakitan seperti itu.


"Nggak apa-apa, cuma ini Tante sepertinya harus cepat sampai rumah Mas. Sstt... "


"Tante sakit??" Sepertinya Tante Jelita begitu gelisah dan menahan sesuatu, wajahnya sampai memerah dan duduknya tidak tenang.


"I--iya, ini Tante sakit. Tante sudah nggak tahan mas, tolong lebih cepat lagi," ucapnya lagi sambil bergerak tidak tenang, menggeliat seperti cacing kepanasan.

__ADS_1


Aku tidak mengerti apanya yang sakit, bukannya dari tadi Tante Jelita baik-baik saja. Tapi sebaiknya aku harus segera tambah kecepatan sebelum terjadi apa-apa. Aku bersiap menginjak gas lebih dalam, saat jalanan cukup lengang. Kasihan sekali aku lihat Tante Jelita tampak sangat pucat.


"Mas cepetan mas...!!"


Aku panik saat tiba-tiba Tante Jelita mengerang kesakitan, wajahnya juga sudah dipenuhi keringat dingin. Dan yang lebih membuat ku tercengang adalah pakaian bagian depan Tante Jelita tiba-tiba basah padahal sejak tadi dia sama sekali tidak minum apapun.


"Tante kenapa? Kenapa pakaian Tante basah?" tanya ku panik.


"Itu karena ininya Tante sudah penuh, jadi tumpah-ruah begini. Tante lupa kalau kita sudah terlalu lama keluar, seharusnya setengah jam sekali Tante harus mengeluarkan nya."


Ya ampun jadi itu karena rembesan air putih itu. Apa segitu banyaknya sampai pakaian depannya basah semua, pantas saja bayi Sasha sangat gembul. Pasti kebanyakan minum.


"Sabar ya Tan, aku akan coba tambah kecepatan lagi." Aku harus segera sampai ke rumah.


Beruntungnya, jalanan cukup lengang jadi aku bisa sedikit cepat membawa mobil. Tante Jelita di sampingku masih sangat tersiksa sepertinya, bajunya tambah basah. Meski aku juga ikut tersiksa sebenarnya karena pakaian Tante Jelita yang basah membuat sesuatu jadi jelas.


Fokus Haris fokus, kamu tidak boleh memikirkan hal itu di saat seperti ini. Aku terus saja merutuki diriku sendiri yang malah memikirkan hal lain di saat genting. Aku harus fokus pada jalanan, sebelum terlambat.


"I--iya Tan... aku sudah coba lebih cepat, sabar Tan." Aku hampir saja terbuai saat suara Tante Jelita yang mendayu membelai telingaku. Suara kesakitannya malah malah terdengar syahdu.


Mobil yang kami kendarai terus melaju kencang, sampai pada titik dimana mobil di depan berhenti dan otomatis aku pun menghentikan mobil yang aku bawa.


"Kenapa berhenti mas,..?" tanya Tante Jelita.


"Nggak tau Tan, sepertinya mobil didepan ada masalah. Aku cek keluar dulu ya..."


Aku segera membuka pintu mobil dan mencari tau apa yang terjadi, sebenarnya tidak tega meninggalkan Tante Jelita yang terus merintih kesakitan. Tapi mau bagaimana lagi, mobilnya benar-benar terjebak dalam kemacetan.

__ADS_1


"Maaf Pak, ada apa ya kalau boleh tau. Kenapa jalannya macet?" aku bertanya pada bapak-bapak yang ada di pinggir jalan.


"Ohh itu mas, ada kecelakaan di depan. Ada truk besar yang katanya remnya blong, trus menabrak kendaraan lain. Truknya juga guling di tengah jalan jadilah nggak bisa lewat," jawab salah satu dari mereka.


"Apa belum ada polisi yang datang ke sana pak?" tanyaku lagi. Seharusnya kasus seperti ini kan harus cepat di tindak, kalau tidak mengganggu pengendara yang lain.


"Sudah mas, sepertinya sedang menunggu mobil derek untuk mindahin truknya. Di bawah truk juga ada orang yang terjepit katanya jadi harus hati-hati."


Aku malah jadi bergidik ngeri mendengar nya,. entah bagaimana nasibnya orang itu. Setelah berterima kasih dan membeli dua botol minum, aku pun kembali ke mobil. Tidak tau sampai kapan, kemacetan ini berakhir. Tante Jelita pasti sangat tersiksa di mobil.


"Bagaimana mas Haris, kenapa macet?"


"Ada kecelakaan di depan katanya Tan, mobil nggak bisa lewat," ujarku jujur, wajah Tante Jelita langsung berubah pucat. "Minum dulu Tan." Aku menyodorkan satu botol air mineral padanya.


"Nggak mas, kalau Tante minum bisa tambah deras nanti rembesnya. Apa nggak ada cara lain biar bisa cepat sampai rumah Mas?"


"Nggak Tan, di samping sama belakang juga penuh. Nggak bisa putar balik."


"Tante nggak tahan lagi mas, sakit sekali kalau nggak segera dikeluarkan. Apa kita jalan kaki saja dari sini," ujar Tante Jelita sambil melengkungkan punggungnya dan menggeliat.


Glek. Bagaimana ini, akupun bingung harus bagaimana mana. Kalau tau begini kenapa tadi bayi Sasha tidak dibawa saja, biar tidak ada insiden seperti ini.


"Rumahnya masih jauh Tan dari sini. Apa Tante kuat jalan sambil kesakitan seperti ini."


"Lalu bagaimana, Tante benar-benar tersiksa kalau nggak di kuras...." Tante Jelita malah memijat nya sambil merem melek, sepertinya dia sangat tersiksa.


"Bagaimana kalau dengan cara lain Tan, bisa nggak?" tanyaku. Entah aku dapat ide dari mana.

__ADS_1


"Tante nggak bisa mas, biasanya bi Ningsih yang bantu Tante kalau di rumah. Soalnya kadang sakit kalau pakai alat bantu itu." "Apa mas Haris mau bantuin Tante... tolong mas... Tante nggak tahan. Rasanya sangat berat dan sakit."


Jakunku naik turun membayangkan hal itu. Apa aku tidak sedang bermimpi kali ini.


__ADS_2