Ketulusan Hati Jelita

Ketulusan Hati Jelita
Bab 47. Detik-detik Pernikahan


__ADS_3

Aku mengedipkan mataku berkali-kali dan ternyata memang tidak salah lihat. Orang yang ada diantara kursi tapi dengan memangku putrinya adalah Tante Jelita. Dia terlihat asyik mengobrol dengan tamu lainnya. Dia sama sekali tidak melihatku.


"Silahkan duduk pengantin prianya." Seseorang yang tidak tau siapa menyuruh ku duduk di dekat meja yang akan dijadikan tempat ijab qobul.


Ibu dan tetangga yang datang denganku sudah duduk di kursi yang sudah di persiapkan. Aku lihat tamu yang datang cukup banyak, dekorasi sertakan makanan yang tersaji juga cukup mewah. Anehnya keluarga Bu Yuli sama sekali tidak meminta sepeserpun uang padaku atau pada ibu.


Mataku masih memperhatikan Tante Jelita dari kejauhan. Dia sangat cantik dengan balutan kebaya modern berwarna hijau dengan pundak terbuka. Tubuhnya benar-benar sangat proporsional, mata semua laki-laki yang ada di sana saja semuanya tertuju padanya.


Kalau saja aku bisa melarang mereka agar tidak melihat Tante Jelita ku. Sayangnya aku bukanlah apa-apa nya. Tidak punya hak untuk melarang siapapun melihat keindahan Tante Jelita. Bagaimana mata para lelaki tidak melihatnya kalau apa yang ada pada diri Tante Jelita sangatlah mempesona.


Tamu undangan, tetangga dan kerabat sudah mulai berdatangan dan memenuhi kursi yang ada. Aku mulai gelisah saat menatap jarum jam yang sebentar lagi pukul sepuluh hanya kurang beberapa menit saja. Dudukku tidak tenang, bergeser-geser dan mengetukkan jari ke meja. Bukan gugup karena mau menikah tapi takut kalau pernikahan ini benar-benar terjadi.


"Itu pengantin wanita keluar... cantik sekali putri Bu Yuli, beruntungnya laki-laki yang menikahi nya."


"Waah ia sangat cantik dan Sholehah."


Aku melirik sebentar pada Ratna yang sedang berjalan ke arah ku dituntun Bu Yuli dan seorang wanita. Dia mengenakan kebaya putih khas pengantin. Dia cantik tapi tidak membuat ku tertarik. Aku melihatnya tersenyum bahagia, berbeda sekali dengan ku yang sangat tertekan saat ini.


"Ayo nak, duduklah disini." Bu Yuli membantu putrinya untuk duduk di samping ku.

__ADS_1


Aku diam saja, sama sekali tidak menyapanya. Biarlah dia tau kalau aku tidak menginginkan pernikahan ini. Dia harus sadar kalau dia yang sangat ingin menikah dengan ku.


"Nak Haris, apa sudah ada maharnya?" tanya bu Yuli setengah berbisik padaku.


Mahar, ya ampun bahkan aku sama sekali tidak memikirkan hal itu. Aku coba merogoh saku celana ku. Siapa tahu ada uang yang terselip di sana. Aku merasakan ada beberapa lembar uang kertas tapi tidak tau jumlahnya. Bukankah tidak masalah mahar berapapun itu.


"Sudah Bu," jawab ku asal.


"Ya sudah kalau begitu ibu ke sana dulu ngecek tamu. Kamu tenang saja jangan grogi," bisik Bu Yuli lagi.


Aku hanya tersenyum tipis tanpa menjawab. Kenyataannya aku bukan grogi tapi aku ingin membatalkan semua ini.


"Ratna, apa kamu sudah benar-benar memikirkannya? Aku nggak ingin kita menyesal nantinya. Kau masih bisa membatalkan nya sekarang," bisikku seraya membujuk Ratna.


Aku melirik malas pada wanita yang duduk di samping ku. Apa aku harus merusak wajahku agar Ratna membatalkan pernikahan ini.


"Pikirkan lagi dek Ratna." Aku menekankan kalimat itu.


"Dengar dek Ratna. Kita nggak akan bahagia karena aku nggak akan bisa mencintai kamu. Ada nama wanita lain di hati ku yang nggak mungkin bisa digantikan oleh siapa pun." Titik... aku harus memperjelas semuanya. Biarlah dia sedih atau marah, aku malah berharap dia marah lalu membatalkan pernikahan ini.

__ADS_1


"Nggak apa-apa mas. Yang penting kita nikah. Kalau mas Haris mau menikah lagi, nggak masalah."


Apa gadis ini sudah tidak waras. Atau pikirannya bermasalah? Aku rasa dia sungguh tidak masuk akal. Kalau wanita lain mendengar calon suami nya berkata seperti itu pasti sudah menangis dan marah. Lalu kenapa Ratna tampak santai.


Hampir jam sepuluh. Aku semakin gusar dibuatnya. Para tamu memandang kami iri karena aku tampan dan Ratna cantik. Menurut mereka kami sangatlah serasi. Tapi tidak menurut ku.


"Abi, bagaimana apa pak penghulu bisa dihubungi? Kenapa beliau belum datang juga."


Aku bisa mendengar percakapan Bu Yuli dengan suaminya yang berada tidak jauh dari tempat duduk ku. Sepertinya ada satu masalah yang sedang terjadi.


"Sudah Abi telepon tapi tidak diangkat, mungkin sedang dalam perjalanan," ujar Abi sambil memencet-mencet ponselnya.


"Tapi ini sudah jam Sepuluh, bagaimana bisa pak penghulu terlambat." Bu Yuli terlihat sangat cemas begitupun dengan Ratna yang mendengar nya. Berbeda denganku yang justru berdoa agar pak penghulu tidak jadi datang.


"Sabar umi... kita tunggu sebentar lagi. Nanti kita cari solusinya sama-sama."


Yes, sepertinya aku menang kali ini. Tanpa aku berbuat apa-apa ternyata alam berpihak padaku.


Lima belas menit kami menunggu tapi pak penghulu belum datang juga. Para tamu dan tetangga sudah berbisik-bisik membicarakan hal ini. Keluarga Bu Yuli terlihat gusar dan takut. Sedangkan aku adalah pihak yang paling bahagia.

__ADS_1


"Bagaimana ini Bu Yuli, jadi nggak nikahnya." Salah satu tamu bertanya.


"Iya kalau masih lama kita pulang saja, masih banyak pekerjaan."


__ADS_2