
POV Tante Jelita
Dengan senang hati aku menurunkan gaunku yang bagian atasnya seperti kemben dengan bahu terbuka. Jelas aku tak memakai kacamata.
Aku cukup gemetar dan berdebar, ini pertama kalinya aku memperlihatkan bagian sensi ku pada laki-laki lain selain mantan suami ku ya brengs- eek itu. Rasanya malu tapi rasa penasaran dan gejolak dalam tubuhnya lebih besar dari pada rasa malu itu. Aku tidak munafik, aku sangat rindu sentuhan laki-laki.
"Mas ... kalau tidak bisa juga tidak apa-apa, aku tidak memaksa," kataku, karena aku melihat mas Haris melongo. Sepertinya aku tau penyebabnya, ya karena itu dan ditambah karena sudah penuh membuat mereka semakin besar dan kencang.
Memang derasnya bukan main, putriku saja kadang sampai kewalahan saat mengasi. Baru sebelah saja putriku sudah kekenyangan, nah biasanya aku memompanya untuk menguras sisanya. Aku selalu sedia pompa dimanapun, di rumah ada dua, di toko dan termasuk di mobil ini juga ada. Tapi aku tidak mengatakannya pada mas Haris. Aku ingin dia saja yang membantu ku. Pasti rasanya berbeda dengan menggunakan pompa yang menyakitkan.
Tahukah kalian wahai para suami, perjuangan seorang ibu itu tidak melulu mengandung sembilan bulan dan melahirkan. Tapi setelah itu adalah perjuangan yang sebenarnya karena mengurus anak tidak ada batas waktunya, selama kita masih bisa. Termasuk mengasihi, awal mengasihi adalah hal yang menyakitkan. Kita harus merasakan sakit, perih. Belum lagi kadang bengkak, kurang tidur dan bentuk dad aa yang berubah.
Aku sudah merasakannya, maka dari itu aku langsung meminta cerai saat memergoki suamiku selingkuh saat aku baru dua Minggu melahirkan. Rasanya berkali-kali lipat sakitnya. Darah nifas bukti perjuangan ku saja belum kering, belum lagi aku lelahku mengurus bayi. Tega-teganya laki-laki itu berkhianat hanya karena alasan aku tidak bisa melayaninya.
Lebih baik aku mundur dari pada terus bertahan dengan rumah tangga yang sudah tidak sehat. Setelah berpisah justru aku lebih bebas dan bahagia, meski status janda kadang membuat ku tidak nyaman, apalagi tatapan para tetangga yang seakan-akan aku akan merebut suami mereka. Hanya satu orang yang tidak pernah menatap benci padaku, yaitu Bu Wanti. Mungkin karena beliau sama-sama janda jadi beliau tau bagaimana perasaan ku.
Tapi anehnya para tetangga terlihat sangat menghormati bu Wanti, padahal status kita sama. Dari situlah akupun mulai dekat dengan Bu Wanti, dan beliau juga banyak menceritakan tentang putranya. Dari situ aku mulai penasaran dengan mas Haris, laki-laki gagah perkasa yang selalu membuat ku ingin di sentuh.
"Mas... " panggilku lagi. Mas Haris masih bergeming, dengan tatapan yang penuh arti.
Sama seperti para lelaki yang sangat menyukai bagian ini, termasuk suami ku. Saat aku memergoki laki-laki itu bersama pelakor nya aku hanya tertawa sinis. Body wanita itu saja tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan ku, aku pun menyombongkan diri dengan apa yang kupunya. Wanita itu pun malu karena punyanya tak lebih besar dari ku, hahaha... hampir rata malah.
__ADS_1
Oalah pak pak, cari selingkuhan itu yang sedikit lebih aduhai dari istrimu harusnya. Rata kayak papan begitu, apa enaknya.
Aku masih mengingat nya dengan jelas, meski sakit tapi aku bangga karena selingkuhan suamiku saat itu tidak lebih aduhai dariku bak gitar spanyol kata orang-orang.
Karena kelamaan menunggu mas Haris, aku jadi mengingat masa laluku. Ada apa sebenarnya dengan mas Haris, kenapa dia diam saja? Apa dia tidak tertarik dengan ini. Coba kalau laki-laki lain pasti sudah menyerang ku dari tadi.
"Mas... kalau mas Haris tidak mau bilang saja. Aku bisa menahannya." Sakit ini sakit sungguhan, sepertinya sudah benar-benar penuh.
Aku lihat kebawah, mataku membelalakkan saat melihat tetesan air yang semakin deras. Segera aku meraih tissue untuk menadah tetesan yang semakin deras.
"Tunggu! biar aku saja yang menadahnya," ujar mas Haris sambil mencekal pergelangan tangan ku yang hendak mengelap tetesan yang semakin deras.
Skip
skip
skip
Glek glek glek.
Mas Haris yang sudah besar saja sampai kewalahan meminumnya. Dia sampai ngos-ngosan dibuatnya. Dia sangat adil dengan bergantian kanan dan kiri dengan lahap. Entah apa yang dirasakan mas Haris saat ini.
__ADS_1
"Ssss... masih berat mas," kataku saat mas Haris menatap wajah ku memohon padanya agar mengulanginya lagi. Dia terdiam, Mungkin dia sudah kenyang atau dia tidak enak kalau terlalu lama. Tapi aku tidak peduli. Yang penting saat ini aku sangat menikmatinya, entah karena sudah terlalu lama tidak merasakan hal itu atau karena perlakuan mas Haris yang membuat ku menggila.
Aku terus meminta lebih pada mas Haris. "Mas, sambil begini dong," pintaku sambil menuntunnya tangannya.
Awalnya mas Haris seperti ragu, tapi aku terus menuntunnya dan akhirnya dia pun mau. Kalau begini aku benar-benar merasakan sensasi yang luar biasa. Di mobil melakukan adegan seperti itu di tengah kemacetan juga, baru pernah aku melakukannya. Dengan mantan suami ku saja tidak pernah banyak gaya. Tapi justru membuatku gilaaa dan berdebar-debar.
"Terus mas... iya seperti itu... terus sampai habis."
Sangat lama, aku tidak membiarkan mas Haris melepaskan mulutnya. Bodoh amat, toh jalan juga masih macet. Selagi masih ada kesempatan, esok hari belum tentu ada kesempatan seperti ini.
Tubuhku sampai meliuk-liuk, kepalaku menengadahkan sambil terpejam. tangan ku mencengkeram erat sisi-sisi kursi mobil. Kakiku menegang. Byuuurr... aku rasakan diriku tumpah dengan sangat hebat.
Tin.... tin... tin...
Suara klakson mobil di belakang kami membuyarkan kesenangan kami. Mas Haris blingsatan dan langsung menarik dirinya menjauh, dia terlihat malu-malu kucing. Disekitar mulutnya belepotan. Aku pun dengan sigap mengambil tissue dan mengelapnya, dengan pakaian yang masih terbuka seperti tadi. Aku cuek saja, toh mas Haris juga sudah melihat dan merasakan nya.
"Makasih ya mas...," kataku sambil mengelap.
Tak sengaja aku melihat mata mas Haris yang kembali melirik sesuatu yang membuatnya kenyang tadi. Aku pun semakin semangat menggodanya dengan berlama-lama mengelap wajahnya.
Tin.....
__ADS_1
Huft... sayang sekali mobil dibelakang mengganggu lagi. Aku pun kembali ke tempat duduk seperti semula. Tempat dudukku yang tadi sengaja di rebahkan, sudah ku benarkan lagi. Pakaian ku sudah aku benarkah lagi agar tidak ada orang lain yang melihat, karena mulai saat ini ku umumkan kalau aset ku ini hanya milik anak ku dan mas Haris.