
Author POV
Saat ini Jelita ada di sebuah ruangan, dia terbaring tak sadarkan diri. Semua orang berpikir Jelita mungkin kelelahan atau karena banyak pikiran jadilah dia tiba-tiba pingsan saat baru saja keluar dari ruangan Haris. Tapi siapa sangka kalau kabar baik datang, kata dokter yang memeriksa dia sedang hamil.
Tentu saja Doni, Bu Wanti beserta tetangga yang ada di sana cukup terkejut karena setau mereka Jelita itu janda. Lalu bagaimana bisa hamil, atau artinya dia sudah berbuat zina dengan seorang laki-laki. Lalu siapa ayah dari anaknya. Apa mungkin kejadian seperti Ratna terulang kembali, Jelita hamil anak orang lain tapi meminta Haris menikahinya.
Bu Wanti terdiam dengan pikiran yang berkecamuk. Masalah putranya saja belum selesai, sekarang ada masalah lainnya lagi. Dia berpikir apakah mungkin Jelita sama seperti Ratna.
"Sabar Bu Wanti, kita tunggu nak Lita sadar dan kita bisa bertanya." Para tetangga yang iba mencoba menghibur Bu Wanti. Merasa kasihan akan cobaan yang datang bertubi-tubi pada janda.
Doni juga tidak bisa berkata apa-apa, dia tidak bisa membela adiknya karena tidak tau apa yang terjadi. Meski mungkin dia berpikir kalau anak yang ada dalam kandungan adiknya adalah anaknya Haris tapi dia tidak punya bukti. Ia hanya berharap keluarga Haris bisa sabar menunggu sampai Haris sadar agar jelas semuanya. Karena ia yakin, walaupun nanti Jelita akan bilang kalau anak itu anaknya Haris, belum tentu mereka percaya.
Sudah cukup lama akhirnya Jelita sadar juga dari pingsannya. Kepalanya masih terasa pusing dan berdenyut tapi dia ingin segera bangun.
"Lita, kamu sudah sadar?" Doni lega akhirnya sang adik bangun juga.
"Mas Doni? kenapa aku ada disini? Apa yang terjadi denganku?" tanya Jelita bingung saat melihat dirinya berbaring diatas brangkar dan ditangannya terdapat jarum infus yang menancap.
__ADS_1
"Kau tadi pingsan saat baru keluar dari ruangan Haris, jadi aku membawamu untuk diperiksa. Dan dokter mengatakan kalau saat ini kau sedang hamil," ujar Doni tidak menutupi apapun.
"Aku hamil mas?? Apa itu sungguhan?" Jelita mengusap perutnya yang masih rata, terharu karena saat ini ada janin yang sedang tumbuh dalam perutnya. Buah hatinya dengan Haris.
"Boleh mas bertanya sesuatu?" tanya Doni berhati-hati.
"Ada apa mas?" Jelita menangkap sesuatu yang salah dalam wajah kakaknya.
"Siapa ayah dari anak itu? Apa itu anaknya Haris atau ada laki-laki lain?"
Jelita tertawa, jadi itu yang kakaknya pikirkan. Ah iya lupa kalau saat ini ia dan Haris belum menikah pastilah semua orang akan menanyakan hal yang sama. "Ini anaknya mas Haris, memang anaknya siapa lagi. Aku hanya dekat dengan mas Haris tidak ada laki-laki lain mas," kata Jelita.
"Aku mengerti mas. Kalau Bu Wanti tidak percaya tidak apa-apa. Nanti saat mas Haris bangun dia yang akan mengatakannya pada semua orang. Dia pasti senang kalau mendengar kabar ini." Diusapnya perutnya pelan. Jelita sangat bahagia bisa mengandung anak dari laki-laki yang sangat ia cintai.
Beberapa kemudian, Bu Wanti datang ke kamar rawat Jelita. Jelas sekali kalau dia jadi ragu pada wanita yang akan jadi menantunya. Mungkin karena trauma di masa lalu. Tapi dia juga tidak ingin menuduh Jelita tanpa bukti.
"Bu ... maafkan saya dan mas Haris karena telah melakukan hal itu sebelum kami menikah. Saya tau kalau ibu ragu pada saya, tidak apa-apa Bu. Biar mas Haris yang menjelaskannya pada ibu," ujar Jelita.
__ADS_1
"Maaf nak Lita, ibu hanya takut kalau Haris harus tertipu lagi seperti waktu itu. Maaf, ibu belum bisa percaya padamu," sahut Bu Wanti.
"Jelita mengerti Bu ..., saya tidak akan memaksa ibu untuk percaya saat ini. Lebih baik kita fokus pada kesembuhan mas Haris." Jelita sama sekali tidak marah, sebagai seorang ibu wajar saja kalau Bu Wanti berhati-hati agar jangan mengulangi kesalahan yang sama.
Hari demi hari berlalu, tepatnya dua Minggu sudah Haris dirawat di rumah sakit. Acara pernikahan yang seharusnya diadakan seminggu yang lalu juga harus dibatalkan karena Haris belum juga sadar. Setiap hari Jelita datang untuk merawat Haris, tapi pada malamnya dia pulang karena dirinya yang sedang hamil muda dan juga tidak tega kalau meninggalkan Sasha.
Bu Wanti juga melihat sendiri bagaimana Jelita merawat Haris. Tanpa rasa jijik, wanita itu juga setiap hari membersihkan tubuh dan kotoran Haris. Bu Wanti hanya terima beres, dia akan datang di sore hari dan itupun hanya menemani putranya karena saat ia datang tubuh Haris sudah bersih dan wangi.
Padahal bisa saja Jelita membayar orang untuk merawat Haris tapi tidak ia lakukan karena dia bisa sendiri. Sementara toko dan usaha lainnya di bantu Kakaknya yang mengurus.
"Nak, sepertinya kau terlihat sangat lelah. Sebaiknya kau pulang sekarang saja dan beristirahat. Ibu sudah ada disini jadi kau tidak perlu cemas," ujar Bu Wanti pada Jelita. Dia melihat wanita itu sangat pucat dan kelelahan.
"Tidak apa-apa Bu, aku akan pulang seperti biasa. Setelah sholat isya nanti," tuturnya. Ya saat ini Jelita sudah berubah sedikit demi sedikit. Sudah mau sholat dan berpakaian sopan meski belum menggunakan hijab tapi lebih baik dari pada pakaian yang ia gunakan sebelumnya.
"Bu, kapan mas Haris bangun ...," lirih Lita dengan suara bergetar. Sesungguhnya dia sangat rapuh saat ini. Melihat Haris seperti itu setiap hari, dirinya juga tersiksa setiap pagi karena morning sickness.
"Sabar nak ... kita doakan saja ya agar Haris segera bangun." Bu Wanti memeluk Jelita, dia juga sedih karena Haris adalah satu-satunya putranya dan juga keluarganya. Hanya Haris yang ia punya. Tapi ia merasa saat ini Jelita jauh lebih sedih dari dirinya.
__ADS_1
Maafkan ibu sempat meragukan mu, nak Lita.