Ketulusan Hati Jelita

Ketulusan Hati Jelita
Bab 34. Terjebak


__ADS_3

Aku bergegas berlari ke kamar mandi dan memuntahkan apapun yang ada di perutku. Rasanya sangat mual dan menjijikkan saat mengingat hal tadi. Perutku seperti bergejolak hebat.


Aku segera memberikan diri, menggosok gigi berulangkali dan mencuci tanganku terus. Ini adalah hal gila yang pertama dan terakhir, cukup ini saja aku tidak mau lagi. Bagaimana bisa aku berbuat seperti itu dengan istri bosku sendiri, semua ini karena kekuasaan dan uang. Aku yang takut kehilangan pekerjaan tidak bisa menolak perintah wanita murahan itu. Ya aku anggap dia wanita murahan, dia sudah bersuami tapi masih menginginkan laki-laki lain melayani nya, apa namanya kalau bukan murahan.


Sangat jauh berbeda dengan Tante Jelita, meski orang-orang selalu menganggap nya janda gatel tapi nyatanya dia tidak pernah menjajakan tubuhnya pada para laki-laki. Dia hanya suka berpakaian minim, itu saja tidak lebih. Dan hanya aku yang dan mantan suaminya lah yang menyentuhnya.


"Shiiittt!! Kenapa baunya tidak hilang juga." Aku kesal, sudah berulang kali menggosok gigi tapi baunya masih tercium juga. Sepertinya aku harus membeli cairan pembersih mulut agar kuman-kuman yang tertinggal juga hilang.


Aku kembali ke pos scurity dengan langkah gontai dan tidak bersemangat. Rasanya sangat malas dan jengkel kalau teringat apa yang aku lakukan tadi. Memang tadi aku dan istrinya bos tidak sampai melakukan hal lebih dan kesucianku juga masih selamat. Hanya saja aku merasa seperti budak dan itu sangat menjijikkan untuk ku.


Saat Bu bos hendak membuka celanaku, aku langsung teringat sekelebatan ucapan pak Irwan. Yang katanya, pastikan Bu bos senang maka kau bisa selamat. Aku terus berpikir apa maksudnya itu sampai aku teringat akan apa yang pernah aku tonton. Dimana si pria menyenangkan wanitanya hingga menjerit dan lemas. Aku pun mencobanya.

__ADS_1


Awalnya aku rasa tidak sanggup, tapi kalau tidak begitu berarti aku harus merelakan diri ku. Aku tidak mau itu terjadi, aku pun memejamkan mata dan membayangkan kalau yang ada di depan ku adalah Tante Jelita.


Cukup lama aku bermain sampai membuat wanita itu mengeluarkan suara khasnya dan merem melek bahkan tubuhnya meliuk-liuk tak karuan. Mulutnya pun tak berhenti memuji permainan ku. Katanya...


'Kau hebat mas, aku suka.'


'Kau pintar sekali memanjakan ku...ohh.'


Sampai akhirnya istrinya bos menggelinjang hebat. Dan itulah yang membuat ku ingin muntah, dia memaksa ku menelan semua itu. Kalau saja dia mengancam akan melapor kalau aku sudah menggoda dia katanya, aku pasti tidak akan mau.


Sekarang aku baru sadar kalau aku baru saja terkena jebakan wanita siaalan itu. Awalnya dia menyuruh ku, lalu pura-pura kesal dan mengancam akan melapor lalu bernegosiasi dan menyuruh ku melakukan hal itu. Setelah aku melakukan apa yang dia suruh, dia pun memanfaatkannya dengan memutar balikkan fakta kalau aku mulai.

__ADS_1


Bagaimana bos bisa mengenal wanita ular seperti dia. Bos jelas belum terlalu tua dan banyak uang, dia pasti bisa mendapatkan wanita manapun dia mau. Tapi kenapa dia sepertinya sangat cinta pada istri mudanya itu. Atau jangan-jangan wanita itu memakai guna-guna.


"Har... kau dari mana saja? Aku cari dari tadi ngilang."


Aku hampir lupa kalau aku sudah cukup lama meninggal Roni. Aku harus cari alasan yang masuk akal agar dia tidak curiga. "Hah... tadi bos memanggilku, kau lihat kan tadi aku membelikan makanan," ujarku, sambil berharap kalau Roni tidak curiga.


Aku lihat mata Roni menyipit, apa mungkin ada sesuatu yang aneh di wajahku. Apa aku tidak bersih saat membersihkan tadi. Jangan sampai ada jejak lipstik atau yang lain. Aku hampir kehabisan nafas karena tegang, bagaimana kalau Roni curiga dan mengetahui apa yang aku lakukan bersama istri bos tadi.


"Pasti kamu dikasih tips kan dari bos. Mana? Bagi dua dong, aku kan sudah jaga pos sendirian dari tadi."


Huh... aku lega mendengarnya. Aku lupa kalau Roni itu agak sedikit lemott. Untung nya pikirannya hanya uang dan wanita. Aku ingat tadi ada lebihan sekitar dua ratus lima puluh ribu dari sisa membeli makanan. Biarlah aku bagi Roni sedikit, itung-itung uang tutup mulut.

__ADS_1


Akupun merogoh saku celana ku, tapi mataku kembali membelalak saat melihat...


__ADS_2